Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 291 : Dewi Diona


__ADS_3

Walau tubuhku berada di Labirin Underworld aku masih tetap bisa datang ke alam dewi untuk pelatihanku.


Berbeda dengan Dewi Nermala, Athena, Aphrodite maupun Micel.


Aku kini bersama Dewi Diona yang lebih suka mengajariku soal ketenangan, dia duduk di bangunan kolam teratai selagi memainkan kecapi di tangannya.


Alunan musik yang merdu membuat hal disekitarnya terlihat sangat nyaman, jika berbicara penampilannya dia lebih terlihat seperti seorang dari negeri jauh yang tidak bisa kau temukan di manapun kau berada.


Itu sebuah kecantikan yang tidak bisa diungkapkan dan dibandingkan dengan Dewi lainnya, ia memiliki rambut hitam pekat panjang dengan pakaian tradisional cina, mata kirinya berwarna biru sementara mata kanan berwarna hijau.


Bagaimana pun semua dewi benar-benar mempesona tapi ia berada di tingkat paling atas.


Sulit menggambarkannya.


Ketika Diona sedang bermain kecapi aku tidak bisa mengganggunya karena itu aku akan lebih memilih duduk di depannya selagi menopang daguku menatapnya.


"Jika manusia melihatku mereka pasti akan gila, tapi Aksa jelas berbeda ia bahkan terus memandangi belahan dadaku."


Kebiasaan buruk dewi selalu seperti ini? Mereka senang sekali menggoda pria polos sepertiku.


Tidak, di tempatku juga begitu.


"Aku hanya terpesona dengan musik yang Diona mainkan, rasanya tidak pernah membosankan."

__ADS_1


"Kau pandai memuji.... jadi apa Aksa sudah mempelajari hal yang kukatakan tempo hari."


"Aku bisa menggunakan sihir ruang dan waktu, hanya saja itu sedikit kesulitan saat mencoba menghilangkan objek dan memasukannya ke dalam duniaku."


"Itu memang sulit dikendalikan tapi aku yakin hanya dalam waktu singkat kau bisa melakukannya."


Dewi Diona lebih suka memberikanku sebuah pengetahuan yang bisa kuasah sendiri selain langsung memberikannya begitu saja, ia lebih suka membuat seseorang terus belajar dibanding membuatnya kuat secara instan.


Bagaimana metodenya aku tidak keberatan.


Diona menatapku dengan kedua mata yang tidak seiras tersebut lalu melanjutkan.


"Bagaimana jika kita melihat dimensi seperti apa yang Aksa buat."


"Baiklah."


Langit di sini bukan biru melainkan oranye seperti pemandangan langit sore dan daratannya berwarna coklat tanpa apapun.


Bisa dibilang aku meniru tempat latihan saat aku bersama Athena.


"Hoh, duniamu diciptakan secara khusus untuk bertarung... apa kau tidak bisa memikirkan sesuatu yang lain?"


"Dari awal aku berlatih dengan dewi untuk melakukan itu, aku tidak datang untuk hal lainnya."

__ADS_1


Diona memicingkan mata mengisyaratkan kebosanannya padaku.


"Dengan sebuah dunia kecil yang kau ciptakan ini kau bisa membuat sesuatu yang indah, seperti pemandangan alam atau hal lainnya tapi Aksa malah membuat sebuah medan perang, itu seperti kau memang dilahirkan untuk berperang... ini pasti perbuatan Athena aku akan memarahinya nanti."


Dia masuk ke mode emak-emak.


Tadinya aku membuat ini untuk memasukan musuhku ke dalamnya dan bertarung dengan jumlah pedang tak terbatas.


Tapi jika dewi lebih suka untuk tidak membuatku menggunakan kekuatannya demi bertarung aku hanya harus menurut saja. Aku mengubah semuanya hingga kini menjadi langit biru dengan pemandangan hijau di bawahnya.


Air terjun mengalir dari gunung menciptakan aliran sungai dibawahnya, di barengi rumput dan tanaman hijau semua hal di sini tampak indah.


"Ini baru bagus," kata Diona puas lalu membaringkan tubuhnya di atas bunga-bunga sementara aku duduk di sampingnya.


"Ada kalanya bertarung memang diperlukan tapi aku berharap Aksa tidak menjadi hanya sebatas mesin pembunuh yang Dewi ciptakan untuk menyelesaikan masalah mereka... aku hanya ingin kau menikmati hidupmu juga dengan dihiasi cinta dan kasih sayang jangan lupakan hal itu."


"Aku mengerti."


Apa maksudmu dengan mesin pembunuh? Kurasa itu hanya kiasan, tapi Diona mungkin hanya mengkhawatirkanku saja agar aku tidak kehilangan sifat kemanusiaanku.


"Sekarang aku akan mengajarimu cara bercinta."


"Soal itu ogah."

__ADS_1


"Apa? Aku sudah membuka pahaku."


Kenapa Dewi selalu mengatakan hal tak terduga? Ekpetasiku langsung berubah dalam sekejap.


__ADS_2