Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 37 : Gadis Penginjak Anggur


__ADS_3

Kepala desa di dekatku menjelaskan.


"Anggur terbaik ditentukan dari penginjaknya, mereka adalah gadis-gadis pilihan dari desa kami."


"Begitukah, aku tidak terlalu mengerti soal anggur tapi aku dengar desa ini menjadi desa penyuplai anggur terbaik di kerajaan ini."


"Benar sekali tuan, tidak diragukan bahwa kamilah yang memiliki anggur unggulan."


"Tidak secepat itu. Kamilah yang akan merebut gelar tersebut."


Sebuah suara tiba-tiba muncul dimana orang yang menyela itu adalah seorang pria dengan pakaian biru serta beberapa pria di belakangnya juga.


"Siapa mereka?" tanyaku.


"Mereka dari desa sebelah yang meniru ide kami."


"Siapa yang meniru idemu, kami sudah memikirkan untuk membuat anggur juga."


"Itu namanya meniru."


"Hanya kebetulan."


Kedua kepala desa itu saling membenturkan keningnya sementara para pria di belakang mereka saling mendukung. Jika dibiarkan bentrokan kedua desa ini akan terjadi.


Berbeda denganku yang khawatir para gadis hanya mendesah pelan seolah kejadian seperti ini memang sering terjadi. Untuk guruku dia sedang sibuk mengagumi kotak-kotak anggur yang dibelinya.


Pada akhirnya aku yang melerai keduanya.


"Paman, sebelumnya desamu desa apa?"


"Desa jamur."


Salah server itu.

__ADS_1


Aku melanjutkan.


"Yah, untuk sekarang bisakah kalian berdamai dan berhenti bersaing satu sama lain."


"Mana bisa begitu, aku yakin sebentar lagi mereka akan mencoba merebut para pelanggan kami," teriak kepala desa merah sedangkan kepala desa biru tersenyum bangga.


"Mau bagaimana lagi, kualitas anggur kami akan jauh lebih baik."


"Apa?"


Mereka berdua kembali membenturkan kening mereka lagi. Aku pikir tidak baik untuk ikut campur lebih jauh dari ini, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka.


Ketika aku memikirkan itu sebuah proposal dilayangkan oleh kedua pihak.


"Bagaimana kalau kita bersaing, siapa yang mampu membuat anggur yang lebih banyak dialah yang akan menjadi anggur terbaik di benua ini."


"Siapa takut, aku memiliki gadis penginjak anggur yang kompeten," balas kepala desa biru.


Biarlah.


Aku akan mengawasi mereka saja.


Alyssa kembali mengenakan sepatunya lalu berdiri di sampingku untuk menonton pertandingan bersama, nona Heliet pun sama.


Para pria dari kedua desa akan menyuplai anggur sebanyak yang mereka bisa di kebun mereka sementara lima gadis dari masing-masing desa akan bersaing menginjak anggur tersebut.


Saat bel perlombaan dibunyikan para pria mulai bergegas menuju kebun mereka untuk mengumpulkan anggur yang nantinya akan diselesaikan para penginjak anggur.


Ketika jam pasir habis maka anggur akan mulai dikemas dalam botol dan lalu menentukan siapa yang mendapatkan isi paling banyak.


Ada perbedaan mencolok dari kedua desa ini tentang siapa penginjak anggur yang mereka pekerjakan.


Dari desa merah itu merupakan gadis berdada besar sementara yang lainnya gadis berdada rata.

__ADS_1


"Kami yang akan menang berjuanglah kalian, injak, injak injak."


"Tidak secepat itu, kamilah yang menang dada besar hanyalah sebuah hambatan.. injak, injak."


"Apa? Anggur yang baik juga dihasilkan dari siapa yang membuatnya, keindahan dada besar adalah yang terbaik."


"Dada rata lebih indah, sebaiknya kalian memikirkan itu di dalam sumur."


Entah kenapa situasi ini mengingatkanku tentang apa yang terjadi di guild waktu itu.


"Menurutmu mana yang lebih indah?" tanya nona Heliet padaku.


"Jangan tanya aku."


Selanjutnya perang terjadi, mereka semua saling bergulat sementara gadis yang menginjak anggur sudah tidak peduli lagi dan hanya menonton.


"Sialan kau, rasakan ini."


"Guakh."


"Rasengan."


BUAARR.


"Getsuga tensho."


"Gwah."


"Karyuu no hoko."


"Kamehameha."


Kuharap mereka bisa sedikit bertingkah dewasa.

__ADS_1


__ADS_2