
Walau ragu akhirnya kami mengikuti Dindong pergi ke sekte miliknya, itu adalah sebuah tempat bela diri yang terbilang kecil.
Setelah dipermalukan oleh sekte elang emas, mereka kehilangan nama dan juga kehormatannya di kanca perguruan bela diri, murid-murid mereka telah meninggalkan sekte dan hanya tersisa anak-anak kecil yang dilatih.
Sementara ayah Dindong telah bunuh diri dan menyerahkan semuanya padanya, aku sempat ingin meledeknya namun mengingat bagaimana situasinya yang sangat buruk aku tidak berniat untuk mempermainkannya.
"Ketua sudah kembali."
Anak-anak dengan senang mengerumuni sosok Dindong yang tersenyum ramah, dia pria baik ternyata.
"Aku sekarang ada tamu, kalian berlatihlah dengan giat."
"Baik."
"Nah Onii-chan aku ingin punya anak selucu mereka."
"Kenapa kau tanya aku hal aneh seperti itu?"
"Dasar tidak peka."
"Silahkan ikuti aku."
Kami dibawa keruangan tamu yang sederhana, beberapa cemilan tak luput dari tangan Yu'er sementara aku hanya meminum teh yang disediakan olehnya.
"Jika kalian ingin pergi ke kuil bawah laut, mau tolong izinkan aku untuk ikut... selain warisan kaisar pertama di sana banyak harta karun yang tersimpan di dalamnya, kita bisa membaginya, tentu aku tidak akan menyentuh harta warisannya."
Aku melirik ke arah Chunhua yang diam memikirkannya.
Meski bertiga kami bisa melakukannya sendiri, aku pikir Dindong berusaha mendapatkan harta untuk memperbaiki situasi di sini.
Aku bisa membuat uang sebanyak yang kuinginkan hanya saja jika aku sengaja memberikannya, itu hanya akan melukai harga dirinya.
__ADS_1
"Aku tidak keberatan jika kau ikut, hanya saja kau yakin bahwa ada harta Karun di sana?" tanyaku menggantikan Chunhua.
"Tentu saja, aku memiliki peta yang diberikan padaku itu adalah apa yang kaisar berikan pada ayahku."
"Kalau begitu aku akan membawamu," potong Chunhua.
Jelas membawanya adalah sebuah keuntungan.
Aku menciptakan senapan laras panjang di tanganku, mengarahkannya ke arah Dindong lalu menembakannya dengan cepat, tentu aku tidak mengincarnya melainkan orang yang bersembunyi di belakangnya menggunakan kamuflase agar dia tidak terlihat.
Letupan terdengar.
"Apa-apaan itu?" teriak Dindong.
"Diamlah, kita diserang."
"Mustahil."
"Sudah kuduga kau memiliki peta itu, serahkan padaku atau kau akan lihat mereka mati."
"Tapi."
"Ketua?"
Anak-anak yang disekap tampak ketakutan. Yu'er berakting.
"Aku juga apa akan diculik?"
"Aku tidak keberatan jika harus menculikmu."
"Jangan mau, dia makannya banyak."
__ADS_1
Yu'er menyikut perutku.
"Onii-chan apa kau mengatakan sesuai seperti aku gendutan?"
Aku lupa dia bisa membaca pikiran.
Dengan ragu Dindong mengambil peta yang dia sembunyikan di bawah laci, sebelum dia berikan pada musuh aku memintanya menyerahkannya padaku dulu.
Untuk beberapa saat aku bilang ingin memeriksa keasliannya, sebelum akhirnya melemparkannya ke pada pria tersebut.
"Begini lebih baik."
"Kau Pangli, bukannya ayahku sebelumnya telah menyelamatkanmu.. kalau tidak, kau tidak akan seperti ini dan masih hidup di jalanan."
"Haha itu hanya masa lalu... sekarang adalah sekarang, orang tua itu telah mati setelah meninggalkan aib untuk sekte kita, aku hanya mengambil yang bisa membantu kami."
"Jangan bilang kalian anggota mantan dari sekte ini?" tanya Chunhua terkejut.
"Tepat sekali nona atau aku harus bilang putri ketua sekte Bai Chunhua."
"Benar juga, kalian membunuh salah satu anak buahku karena itu aku juga akan membunuh salah satu anak ini."
"Sialan kau."
Paling tidak di sini ada sekitar 15 orang yang menyergap kami, ketika semua orang terkejut aku melirik ke arah pria yang sebelumnya kutembak, dia masih berdiri selagi memegangi kepalanya.
"Dia masih hidup."
"Tentu saja... aku hanya membela diri."
Peluru yang kugunakan hanya peluru karet
__ADS_1
Karena tak sesuai rencananya pria itu mendecapkan lidahnya lalu pergi bersama rombongannya setelah melepaskan anak-anak yang menangis selagi memeluk Dindong.