
Mengikuti arahan peta yang diberikan Ruri kami akhirnya sampai di kota yang di maksud, dari samping aku bisa melihat kepala kura-kura yang hanya diam tak bergerak sementara di punggungnya beberapa bangunan berdiri menjulang ke atas layaknya seperti sebuah pulau.
"Jadi itu yang dinamakan pulau tersembunyi, apa di sana ada seseorang yang hidup?" suara itu berasal dari Naula.
"Kurasa ada."
"Aku tidak bisa melihat apapun dari sini."
Liz segera memotong lalu bergerak ke depan.
"Tuan Aksa."
Dia menciptakan dinding es raksasa yang mana menahan serangan bola cahaya yang meluncur dari atas punggung kura-kura.
Sirius maupun Marine bergerak ke arahku juga saling membelakangi.
"Aku akan melindungi master."
"Aku juga aah, aaah, aku ingin diberi hadiah setelah ini."
"Aku baik-baik saja, kalian harusnya melindungi para pelayan."
"Jangan khawatirkan kami tuan Aksa, kami bisa melindungi diri kami."
Setiap pelayan mengeluarkan berbagai senjata dari sihir penyimpanannya, aku merasa bodoh telah mengkhawatirkan mereka.
Saat pelindung Liz menghilang dari dalam air monster-monster laut bermunculan, mereka menaiki kapal hingga pertarungan tidak bisa dihindari.
__ADS_1
Naula mengambil tongkat panjang miliknya untuk menjatuhkan musuh bersama Liz yang menembakan bola-bola es yang kuat. Di saat yang sama Sirius dan Marine juga melakukan tugasnya.
Sirius menciptakan pedang cahaya sementara Marine mengambil senapan yang ada di pahanya untuk menembak setiap musuhnya. Aku mengalihkan pandangan ke arah atas kura-kura dan kulihat sosok wanita berdiri di sana.
Sebelumnya aku sudah bertemu dengannya, dia adalah Dewi Jahat Ariesta, mengenakan gaun hitam dengan empat sayap di punggungnya.
Matanya yang berwarna Ruby menatapku bercahaya. Kugunakan sihir terbangku melesat ke arahnya begitu juga Ariesta yang terbang ke arahku, dia menciptakan pedang di tangannya lalu mengayunkannya dari atas.
Aku mengelak ke samping lalu menembakan senjataku yang mana ditahan baik oleh pedang miliknya.
"Tak kusangka kita bertemu lagi, berbeda dari sebelumnya kekuatanku telah pulih seutuhnya."
"Ariesta."
Dia menciptakan lima pedang di udara yang mana secara bergantian menyerangku hingga air laut berhamburan ke udara.
"Aku tidak punya kewajiban untuk menjawabnya."
Dia mengarahkan tangannya menciptakan lingkaran sihir berlapis, tanpa merapal apapun cahaya ditembakan darinya. Sebelum mengenaiku dua pedang melayang di depanku untuk melindungiku dari serangan.
"Kalian berdua rupanya, Apolis dan Marine."
"Sudah kukatakan namaku Sirius sekarang."
"Tuan Aksa tolong rubah namaku juga."
"Kalian berdua pergilah, biar aku sendiri yang menghadapinya."
__ADS_1
Entah itu Sirius atau Marine keduanya mendekat ke arahku.
"Kenapa kalian?"
"Bukan apa-apa, belakangan ini master membuatku kesal... dibandingkan menggunakan kami, master lebih memilih menggunakan kekuatannya sendiri."
"Sudah jelas kan, aku tidak mungkin selalu bergantung pada kalian terlebih aku sama sekali tidak menganggap kalian sebuah alat."
"Aku senang dengan perasaan master, tapi di saat yang sama juga kami sedih... kami ingin membantu master dengan segala yang kami miliki jadi tolong gunakan kami."
"Yang dikatakan Sirius benar, aku sama sekali tidak keberatan jadi alat, dengan begitu keberadaanku bisa lebih di akui.. membayangkannya membuatku terangsang."
Dia hanya orang mesum.
"Master?"
"Tuan Aksa?"
"Baiklah, akan kupakai kekuatan kalian."
Aku menghilangkan senjata di tanganku dan menggantinya dengan kedua pedang.
"Menyedihkan sekali, kalian berdua adalah Dewi Jahat tapi mau dikendalikan oleh manusia, kita ini seharusnya berada di puncak semuanya," potong Ariesta.
"Karena pemikiran itulah, perang tidak pernah berhenti... Dewi memberikan kekuatan ini untuk melindungi umat manusia tapi kalian malah menggunakannya dengan salah, apa kau tidak ingat bagaimana perang telah merebut apapun yang kita miliki."
"Benar sekali, aku dan Sirius bahkan harus menghabiskan waktu di panti asuhan, harusnya kau bisa tahu akan hal itu."
__ADS_1
"Karena aku tahu maka aku melakukan ini semua, segalanya telah direbut dariku karena itu aku akan merebut kembali semua hal di dunia ini."