Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 134 : Medan Perang


__ADS_3

Tinggal 500 orang lagi.


Menciptakan pedang di kedua tanganku aku terus menebas siapapun yang mendekat, ini adalah hari ketigaku berada di medan perang tanpa istirahat sama sekali.


Setiap tanah yang kulalui telah berubah menjadi semerah darah dan apa yang menjadi pemandangan sekarang hanyalah sebuah neraka.


Aku terus mengayunkan pedangku di udara dan sesekali menggunakan sihir untuk mengalahkan mereka, aku tidak tahu kenapa mereka terus menyerangku tak kenal takut hingga mengobarkan nyawa mereka seolah itu tidak penting.


Apapun itu? Aku yakin orang di balik semua ini akan muncul setelah aku menumbangkan mereka semua.


Kuciptakan meriam raksasa dari sihir penciptaanku, saat menembakan isi pelurunya itu menghasilkan ledakan yang menggemparkan bumi disusul hembusan angin yang menghempaskan apapun ke segala arah.


Aku menancapkan kedua pedangku di tanah untuk menopang diriku agar tidak tumbang, bersamaan dengan seluruh pasukan yang telah tersapu bersih seorang pria yang terlihat kuat akhirnya muncul, dia adalah salah satu 12 kerajaan rasi bintang bernama Orion, tubuhnya dibalut dengan amor emas serta kapak besar berwarna serupa.


"Kau memang menang dalam peperangan namun kalah dalam pertempuran akhir, izinkan aku mengakhiri penderitaanmu itu haha."


Bagiku dia hanya seorang penakut yang licik.


Orion melesat maju dengan senjata besarnya, senjata itu mengeluarkan petir membuat retakan tanah sepanjang jalannya.


Aku mencabut pedangku lalu menyilangkannya demi menahan hal itu, meski tubuhku terbang jauh aku masih bisa berdiri dengan baik.


"Biar aku menanyakan satu hal, kenapa semua pasukan ini lebih memilih mati dibanding melarikan diri?'

__ADS_1


"Sudah jelas semua ini karena kemampuanku... Aku bisa membuat semua orang menuruti perintahku bahkan kau sendiri, biar aku tunjukkan... Tusuk tubuhmu sendiri."


Jleb.


Tanpa terduga tanganku bergerak sendiri lalu menusukan pedangnya ke tubuhku hingga aku memuntahkan darah dari mulutku.


"Aku cukup kagum padamu, kenapa kau melakukan semua ini? Padahal kau jelas-jelas bukan berasal dari benua ini."


"Demi keadilan, aku ingin menciptakan dunia dimana tidak perlu lagi ada peperangan."


"Hal semacam itu tidak akan pernah terjadi... Di dunia ini hanya kekuatan yang diakui semua orang, akan kuperlihatkan bahwa impian bodoh itu tak akan pernah terwujud."


Aku memaksakan diriku untuk berdiri kembali dengan dua pedang yang kutarik kembali dari tubuhku.


Orion berlari menerjang ke arahku dan aku juga siap untuk mengirimkan seranganku.


Lalu.


Plang.


Dentingan keras terdengar saat senjata kami saling berbenturan. Kedua pendangku hancur begitu juga kapak serta armor milik Orion hingga darah mengucur dari tubuhnya lalu dia tumbang begitu juga.


Bersamaan dengan topengku yang terlepas, aku tiba-tiba saja kehilangan keseimbanganku dan sesuatu yang lembut telah menahanku untuk tidak jatuh.

__ADS_1


"Master terlalu memaksa diri."


"Sirius."


Kesadaranku menghilang di dalam dekapannya.


Saat aku bangun aku menemukan diriku berada di tempat tidur dengan setiap tubuhku telah diperban, tidak ada siapapun di sekitarku jadi kuputuskan untuk keluar dan kulihat di ruangan tengah ketiganya sedang tertidur pulas di sofa.


Mereka pasti merawat lukaku semalaman.


Sirius yang lebih dulu bangun dan melompat ke arahku, aku jelas menangkapnya.


"Master."


"Aku masih belum sembuh loh jangan terlalu menekanku."


Tak lama kemudian Naula dan Liz juga bangun dan mereka juga melompat ke arahku.


"Bukannya kalian terlalu dekat denganku."


"Kami tidak keberatan."


"Sama sekali tidak," Liz menegaskan itu dua kali namun sejujurnya akulah yang keberatan di sini.

__ADS_1


Dengan luka seperti ini aku pasti memerlukan waktu lama untuk pulih.


__ADS_2