
Tepat di depan kami seorang pria dengan rambut panjang berdiri di tengah jalan, aku menurunkan Malifana sebelum melesat mengikuti Naula dan Liz di depan.
Keduanya menyerang dari sisi berlawanan sementara aku melompat dengan dua pedang di tangan, kuputar tubuhku 360 derajat ketika berbenturan dengan tangannya pedangku langsung patah berkeping-keping.
Dengan cepat dia mencengkeram wajahku lalu melemparkannya ke arah Naula dan Liz yang sebelumnya gagal dalam serangan pertama hingga kami bertiga menabrak dinding rumah.
"Buang-buang waktu saja, katakan padaku di mana orang bertopeng itu."
Aku diam memikirkannya, sebelumnya aku memang menyembunyikan diriku dengan topeng, namun sepertinya bukan aku yang dia cari.
"Apa maksudmu?"
"Pria bertopeng putih dengan jubah berlogo ular."
Orang ini mencari Shinji.
"Kau salah tentang sesuatu, orang yang kau cari tidak ada di sini."
"Memangnya aku bisa percaya."
"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi biar kutanya satu hal. Apa kau naga kehancuran Fafnir."
"Aah, itu aku.."
Aku tanpa sadar menyeringai dengan senjata api di kedua tanganku.
"Begitu."
Kuarahkan pistolku dan dari sana sebuah tembakan terdengar, beberapa peluru mengenai pipa di belakang Fafnir menciptakan suara dentuman logam yang melengking di udara.
Naula maupun Liz saling mengangguk mengiyakan dan keduanya pergi selagi membawa Malifana.
__ADS_1
"Kita ke tempat lain."
"Tapi Aksa?"
"Dia akan baik-baik saja, ini adalah sesuatu yang harus diselesaikan olehnya," tambah Naula menegaskan.
"Baiklah."
"Saat kami berdua bertarung rapalkan sihir penguat."
"Akan kucoba."
Aku hanya bisa mendengar langkah mereka yang menjauh.
"Temanmu meninggalkanmu sendiri, mereka cukup kejam untuk disebut manusia."
"Tidak, hanya aku juga sudah cukup."
Satu peluru menghantam lengannya akan tetapi berhasil dipantulkan ke samping.
"Aku tidak tahu kenapa pria bertopeng mencoba mengarahkanmu kemari, tapi ini sesuatu yang bagus.. aku akan membunuhmu untuk membalaskan dendam Leonardo ataupun Richard."
Aku maupun Fafnir saling berlari, kugunakan senjataku sebagai sebuah sarung tinju sementara Fafnir menggunakan tinjunya.
Setelah menghindari dia dari serangannya aku mengunci tangannya selagi menembakan peluru dari senjataku.
"Apa-apaan ini? Gaya bertarung yang belum pernah aku lihat dan senjatamu itu?"
"Ini buatan khusus."
Kami melompat di waktu bersamaan dan kembali saling membenturkan serangan kami.
__ADS_1
Fafnir melayangkan tendangan samping saat aku menahan dengan punggung senjata kuarahkan senjata lain hingga dia melompat ke atas selagi menghindari seluruh pelurunya.
"Kenapa kau peduli dengan kedua orang itu, mereka hanya boneka yang kubuat untuk membantu menghancurkan dunia ini, setiap ras kecuali ras naga yang diizinkan tetap hidup.. itulah impianku, kalian ras lemah tidak sepatutnya hidup di dunia ini."
"Tutup mulutmu sialan, kau tidak tahu bagaimana penderitaan yang telah kau buat untuk keduanya.... Richard dikendalikan darah naga yang kau cemarkan hingga dia membunuh siapapun dalam wujud naganya tanpa kehendaknya sendiri, dan Leonardo menutup hatinya karena kau menghancurkan rumah satu-satunya yang dia miliki, kau tidak lebih seperti orang yang hanya tahu untuk mencapai tujuanmu sendiri."
Fafnir tertawa selagi menutupi wajahnya dengan satu tangan.
"Hanya itu haha aku sama sekali tidak peduli, kecuali diriku tidak ada hal lebih berharga lagi."
Aku membuang isi peluru dari kedua senjataku dan menggantinya dengan peluru yang kuciptakan khusus.
"Percuma, senjata anehmu itu tidak akan menembus kulitku."
"Jika tidak dicoba kita tidak akan tahu, lagipula dibanding Freya kurasa kau tidak sehebat itu."
"Dewi naga yang berada di menara Altima, bagaimana kau mengenalnya?"
"Itu karena aku sudah mencapai lantai atas," kataku ringan.
Aku menarik salah satu pelatuk di senjataku, saat Fafnir menahannya dengan telapak tangannya, itu membuat lubang di sana sebelum menembus bahunya.
"Ini senjata yang bahkan bisa membunuh seorang dewa."
Fafnir menyeringai.
"Kata-katamu seolah bahwa dewi mengajarimu bertarung."
"Maaf saja, tapi itu memang benar."
Ekpresi yang dia tunjukkan sebelumya telah menghilang selamanya.
__ADS_1