Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 160 : Melawan Naga Frena


__ADS_3

Frena mengarahkan tangannya ke arahku, dan dari sana lingkaran sihir tercipta, bukan hanya satu melainkan sepuluh sekaligus dari langit.


"Kau juga seorang penyihir kan? Mari kita lihat seberapa besar kemampuanmu Aksa."


Setiap dari lingkaran menembakan bola-bola cahaya yang meledak saat menghantam targetnya, aku menciptakan sihir ke tangan kiriku, saat aku menyentuhkannya di tanah itu membaut dinding dari tanah.


"Apa sebuah tanah bisa melindungimu," kata Frena mengejekku.


"Sihir tingkat dua perubahan bentuk."


Dari tanah itu kemudian berubah menjadi dinding baja.


"Jadi begitu, kau juga seorang Alchemist, berapa job yang kau miliki?"


Tanpa perlu memberikan jawaban aku berlari ke arahnya, Frena menyerah dengan sihirnya lalu mengambil sebuah kapak besar dari lingkaran sihir untuk menangkis pedang milikku.


Dentungan itu menciptakan getaran udara membuat seluruh tanah terangkat ke atas, aku melirik ke samping dan Frena lain berada di sana menembakan sihirnya, aku dengan cepat melompat untuk menghindarinya.


Bukan hanya dua, melainkan ada 10 orang dan bersama mereka melompat ke arahku, aku membelah salah satunya hingga berubah menjadi tanah.


"Tuan, kau harus menemukan yang aslinya jika ingin menghentikannya."


"Mudah untuk bicara, mereka tidak membiarkanku keluar dari situasi seperti ini.... Inferno."


Setelah menembakan api dari sihirku, pedang Marine berubah menjadi sebuah senjata yang mana dari ujungnya menembakan cahaya hitam mirip seperti laser.


Semua Frena palsu bisa dikalahkan hingga tepuk tangan dilontarkan dari Frena yang berdiri dengan santai.


Dia kembali menciptakan lingkaran sihir, dan aku menjentikkan jariku menghancurkan lingkaran tersebut.

__ADS_1


"Magic Script sangat menyusahkan."


"Bagiku sangat berguna."


Aku meluncur kembali menyerangnya, Frena membuang kapaknya untuk merubah kedua tangannya menjadi cakar.


Dentuman terdengar saat kedua senjata kami bertubrukan. Dengan gerakan pintar, Frena mendorong pendangku jatuh ke tanah sementara dirinya berdiri di bagian belakang pedangku.


Ia menendang wajahku hingga aku terlempar jauh menembus lima rumah sekaligus sementara pedangku masih tertahan di sana.


"Tuan."


Marine berubah menjadi manusia, dia hendak berlari namun Frena menariknya lalu menjatuhkannya ke tanah.


"Guakh."


Sebuah kurungan jatuh dari langit lalu mengurungnya di dalam.


"Kau cukup merepotkan, karena itu diam saja di sini."


"Kau?"


Aku menyingkirkan puing-puing bangunan yang menimpa tubuhku, di luar dugaan Frena lebih kuat dari yang kubayangkan.


Dia berlari ke arahku, aku memasang kuda-kuda untuk mengirim tinjuku tepat di wajahnya, sebelum mengenainya dia menghilang tepat di hadapanku.


"Ugh."


Frena menyelinap di antaraku, tubuhnya yang kecil membuatnya bisa bergerak begitu cepat, dia memukul perutku lalu mengayunkan tangannya hingga tanganku terputus.

__ADS_1


Aku memutar waktu mundur, lalu menendang perutnya hingga dia menabrak dinding bangunan.


Selagi menahan rasa sakit aku mengambil potion penyembuh lalu meminumnya.


Frena berdiri tanpa terluka.


"Barusan aku yakin sudah memotong tanganmu, apa yang terjadi? Apa kau bisa memutar waktu di sekelilingmu, karena kau diam berarti itu benar."


Marine terus berusaha keluar dari kurungan walaupun tubuhnya harus tersengat listrik.


"Tuan."


"Diam saja, aku bisa mengatasinya sendiri," kataku kasar.


Jadi ini kekuatan sesungguhnya Dewi naga, saat melawan Freya dia pasti menahan diri.


Aku menciptakan dua pistol di tanganku untuk menembaki Frena, dia sama sekali tak bergeming dan terus berjalan mendekat.


Kugunakan granat dan melemparnya, walau dihantam ledakan dia sama sekali tak terluka, selanjutnya aku menciptakan empat pedang.


"Apa yang akan kau lakukan dengan empat pedang?"


"Aku meminjam kemampuan seseorang yang kukenal."


Aku melempar dua pedang ke atas, sementara dua pedang lain di tanganku.


"Aliran empat pedang kehancuran, Teknik Pembunuh Keabadian, Hellblade."


Dua pedang kuayunkan, menciptakan bilah angin dengan kecepatan cahaya, ketika selesai kupakai pedang yang sebelumnya kulemparkan, dan hal itu kuulangi sampai dua kali sebelum keempat pedangnya hancur berkeping-keping.

__ADS_1


Awan debu menyelimuti tubuh Frena namun dia masih berdiri di sana, sementara satu tangan yang dia gunakan untuk menahan serangan barusan sudah terpotong.


__ADS_2