Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 67 : Ibukota Negara Amandemen


__ADS_3

Aku menatap langit-langit ruangan dengan wajah heran, sepertinya aku telah pingsan.


"Master?" sebuah suara menarikku untuk melihat ke sisi tempat tidur di mana wanita berambut pirang itu duduk selagi menatapku dengan kosong.


"Berapa lama kau berada di sana?"


"Tiga hari, selama itu aku tidak pernah pergi kemanapun."


Dia sedang menipuku, ada remah-remah roti di mulutnya yang menandakan dia baru saja memakannya. Aku bangun lalu menunjuk ke sudut bibirnya.


"Master?"


"Ada remah roti."


"Kyaaa... ketahuan," balasnya dengan datar.


Kuharap dia memiliki ekpresi yang berbeda, tak lama kemudian Tiffany dan Nicol menerobos masuk. Nicol naik ke tempat tidur lalu memelukku sambil menangis.


"Tuan."


Aku mengelus kepalanya sebelum bertanya ke arah Tiffany.


"Bagaimana dengan orang-orang itu?" tanyaku pada Tiffany.


"Mereka sudah pergi ke ibukota, tapi Carrot meninggalkan pesan untukmu."


Aku menerima apa yang diberikannya dan di sana tertulis ucapan terima kasih serta undangan untuk pergi ke kediamannya.


"Apa kita akan pergi?"

__ADS_1


"Kalau menolak rasanya kurang sopan, ngomong-ngomong.."


Aku mengalihkan pandangan ke arah wanita berambut pirang itu, sepertinya dia mampu menyembunyikan sayap di punggungnya.


"Siapa namamu?"


"Aku tidak memiliki nama master?"


"Susah juga kalau tidak punya nama, bagaimana kalau aku memberikan nama untukmu."


"Sebuah kehormatan jika master mau melakukannya."


"Sirius, bagaimana? Itu nama bintang yang paling indah di tempat asalku."


"Aku menyukainya."


Paling tidak aku harap dia bisa tersenyum.


Biasanya Greed akan selalu berbicara hal tidak perlu sepanjang perjalanan namun sekarang dia sudah pergi bersama Lust, aku akan merindukan keduanya.


Menyisir jalanan berumput kami akhirnya tiba di sebuah kota besar yang seperti biasa di sekelilingnya dipasangi tembok tinggi, untuk bisa masuk kami harus mengisi formulir kedatangan tanpa dipungut biaya apapun.


Pertanyaan seperti berapa lama? Dan urusan apa? Akan selalu ditanyakan, saat aku mengatakan bahwa mayor Carrot yang mengundang kami, sikap mereka menjadi lebih ramah.


Berkat bantuan mereka aku tidak perlu kesusahan mencari lokasi tempat tinggalnya, itu adalah sebuah mansion yang berdiri di sebelah barat kota sedikit jauh dari gedung pemerintahan negara Amandemen.


Kami masuk ke dalamnya dan kutemukan seorang pelayan pria menyambut kami.


"Silahkan, mayor Carrot sedang menunggu."

__ADS_1


"Terima kasih."


Kami dibawa ke ruangan tamu yang cukup megah, tanpa menanyakannya aku tahu bahwa semuanya sangat mahal, penampilan tidak pernah meragukan.


"Kalian sudah datang, syukurlah kau sudah sadar.. silahkan duduk," atas tawarannya aku menganggukan kepala lalu duduk di sofa yang empuk itu.


Untuk Nicol dan Sirius keduanya hanya berdiri di belakangku.


"Sejujurnya aku ingin mengundangmu agar aku bisa berterima kasih dengan layak, insiden bangsawan waktu itu serta menyelamatkan kota ini dari Oracle dan Dewa jahat adalah sebuah prestasi tinggi.. aku hendak akan melaporkan hal itu pada orang nomor satu di negara ini, kalau berkenan aku akan dengan senang hati untuk mempertemukan kalian."


Aku tersenyum masam lalu melanjutkan.


"Aku kira itu tidak perlu."


"Kau yakin? Kau mungkin bisa mendapatkan imbalan tinggi."


"Anggap saja aku hanya kebetulan berada di sana dan kebetulan membantu."


"Begitukah, aku masih akan melaporkan apa yang terjadi jadi jika ada permintaan aku akan dengan senang mengabulkannya?"


Aku mengalihkan pandangan ke arah semua orang.


"Tentu saja untuk rekanmu juga?" tambahnya.


Tiffany mengangkat satu tangannya dan berkata.


"Aku ingin sekali memiliki penginapan sendiri di ibukota, kalau boleh?"


"Itu masalah mudah, besok kau akan memilikinya."

__ADS_1


"Cepat sekali," kata ketiganya serempak.


Dari awal Tiffany hanya akan ikut perjalanan kami sementara waktu, tak kusangka dia sangat beruntung.


__ADS_2