Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 158 : Hidup Mandiri


__ADS_3

Di padang rumput yang landai ada sebuah pohon besar yang digunakan Apolis untuk menyandarkan punggungnya, sementara di sebelahnya Marine sedang membuat obat dari beberapa tumbuhan yang dia temukan.


"Mulai sekarang kita akan hidup mandiri, karena itu, kita akan hidup dengan menjual obat-obatan ini."


"Bukannya akan lebih baik jika mengalahkan monster saja, itu lebih menguntungkan dibanding melakukan ini."


"Tidak Apolis-sama, aku tidak ingin memberikanmu menggunakan kekuatanmu, kau terlalu menakutkan saat dalam mode bertarung."


"Begitukah."


"Iya."


Di dalam pertambangan Apolis digunakan seperti sebuah senjata, terkadang di dalam pertambangan selalu muncul beberapa monster mengerikan dan semua itu harus dihadapi Apolis seorang diri, dia telah mengalami banyak pertarungan hingga beberapa kali dia dalam kondisi sekarat akibat pertarungan.


Tak lama kemudian seekor banteng muncul di depan mereka berdua, dia mengais-ngais kaki belakangnya sebelum menerjang ke depan.


Marine menutupi wajahnya dan menemukan bahwa dirinya baik-baik saja tanpa luka sedikitpun, berbeda jauh dari tubuh banteng yang telah mati karena tebasan pisau kecil dari tangan Apolis.


"Hari ini kita makan daging," katanya datar dan Marine hanya mendesah pelan.


Malam harinya di depan daging yang telah mantang seutuhnya, Apolis mengambil bagian paha yang besar lalu memakan daging tersebut dengan cepat.


"Enak sekali... ada apa Marine, kau tidak makan?"


"Rasanya melihat Apolis-sama makan, membuat hatiku hangat."


"Jika kau macam-macam aku akan menusukmu."


"Kejamnya."


Tanpa mendengarkan protes Marine, Apolis terus memakan makanannya, dia telah menghabiskan setengah badan banteng seorang diri hingga akhirnya dia tumbang di rumput dengan perut membuncit ke atas.

__ADS_1


"Aku kenyang sekali."


Dibanding Marine yang khawatir dengan keadaan mereka, Apolis cenderung tidak memikirkan apapun, baginya sudah bisa makan setiap hari adalah sesuatu yang lebih dari cukup untuk disebut sebagai kebahagiaan. Dia ingat bahkan ketika berada di pertambangan dia harus memakan daging mentah dari bagian monster yang dia bunuh dan rasanya jelas tidak enak sama sekali.


"Marine kemarilah, cepat tidur di sampingku."


"Baik."


Hanya ini yang bisa sedikit meredakan kekhawatiran Marine.


Pagi berikutnya keduanya sampai di sebuah kota besar, pertama yang harus mereka lakukan adalah berjualan untuk mendapatkan sedikit uang.


Di saat Marine menjejalkan barang dagangannya di atas meja yang dia pinjam dari pedagang lain.


Apolis duduk di atasnya selagi menikmati manisan di tangannya.


"Berapa harganya yang ini?"


"Berapa harganya ini?"


"Dia tidak dijual."


Hal itu terus saja berulang terus-menerus hingga Marine tidak tahu sebenarnya untuk apa dia berada di sana.


"Sepertinya semua orang tidak butuh obat."


"Mana mungkin, mereka semua pasti membutuhkannya terutama obat kuat ini, yang kupelajari hanya dalam tiga hari."


"Apa obat itu, bisa membuat seseorang bisa mengalahkan monster."


Marine menatap Apolis dengan tatapan berbinar.

__ADS_1


"Akan kutunjukan bagaimana cara obatnya bekerja."


Merasakan hawa dingin merayap di punggungnya, Apolis segera menolaknya lalu melompat ke bawah.


Dia juga turut membantu menawarkan barang pada pejalan kaki. Dia memanggil salah satu pria botak dengan nada datar.


"Belilah obat ini, kuyakin apapun yang kau inginkan akan terkabul?"


"Kau mencoba membohongiku yah."


"Kulihat mungkin kau ada masalah dengan rambut, dengan mengoleskan ini ke atas kepalamu itu akan menumbuhkan rambutmu dalam tiga hari."


"Yang benar? Berapa harganya."


"Satu koin emas."


"Ini perampokan."


"Ini obat khusus, mungkin akan habis dalam waktu singkat jika tidak membelinya hari ini."


"Apa boleh buat? Aku beli satu."


"Terima kasih."


Apolis menyerahkan satu koin itu pada Marine dengan senyuman lebar.


"Kita dapat uang, lihat."


"Apolis-sama tolong jangan membohongi pelanggan, nanti dia akan tahu."


"Jangan khawatir, lagipula kita akan pergi dua hari lagi.. saat itu, dia sudah terlambat menyadarinya."

__ADS_1


"Apolis-sama," panggil Marine dengan nada putus asa.


__ADS_2