
Setelah mendengar penjelasan Kazel, akhirnya aku tidak jadi menembaknya.
Alasan kenapa Kazel bermain dengan anak-anak karena dia sudah mengenal mereka sejak lama. Sejak awal dia menjadi petualang ia telah mendonasikan uang yang sangat banyak kepada panti asuhan.
Terkadang ia memberikan seluruh uangnya dan hidup dalam serba kekurangan, untuk mengatasinya dia akhirnya berjualan majalah dewasa.
Seketika rasanya tubuhku dibanting dari ketinggian, orang ini memang tidak bermoral tapi di sisi lain dia juga orang yang baik.
Jeanne bahkan memunggungiku selagi berjongkok.
Dia mulai kebingungan apa yang harus dilakukannya pada Kazel.
"Banyak hal yang merepotkan jadi bisakah kau berhenti berjualan hal aneh lagi, kau bisa mengambil pekerjaan berbeda bukan."
"Meski kau bilang begitu, senang rasanya melihat kakak-kakak sexy tapi kurasa aku akan membakar 100 majalah yang siap edar."
"Kau ini? Biar aku yang membakarnya, aku akan menggantinya dengan uang."
"Kau memang sangat baik."
Seratus buku dengan mudah berada di depanku.
Pertama aku membakar edisi terbaru.
"Yang ini mirip guruku, aku akan mengambilnya."
"Aksa?" teriak Jeanne.
"Aku cuma bercanda."
Aku jelas membakar semuanya dengan baik.
__ADS_1
Kazel berkata ke arahku setelah ikatannya dilepaskan dan anak-anak mulai mengelilinginya kembali.
"Besok aku akan mengambil pekerjaan, Jun dan Hilda ingin mengundangmu ke party."
"Aku tidak enak selalu menolak tapi ada tempat yang harus kukunjungi lebih dulu, aku minta maaf."
"Jangan khawatir kami akan selalu menunggumu."
Aku tidak tahu alasan kenapa Jun dan Hilda selalu mencoba mengajakku bergabung namun aku bisa menduga bahwa itu sesuatu yang berbahaya hingga memerlukan bantuanku
Untuk sekarang aku dan Jeanne berkeliling ke tempat lain dan berpisah pada sore harinya.
"Hari ini sangat menyenangkan, lain kali mari pergi bersama lagi."
"Tentu."
Aku melambaikan tangan ke arahnya, aku terkadang lupa bahwa senyuman Jeanne memang sangat manis.
Semakin aku menjejalkan kakiku semakin kuat juga perasaan mencekam yang dapat kurasakan.
Di hutan yang sudah mati ini ada sebuah bangunan tinggi mirip sebuah menara yang tampaknya tidak terurus namun saat aku melangkah masuk di dalamnya dipenuhi rak buku dengan jumlah cukup mengagumkan.
Di antara itu seorang wanita berpakaian pendeta duduk di atas meja selagi menyilangkan kakinya yang putih semuanya terlihat jelas dari balik pakaiannya.
Dia menutup buku lalu menyeringai ke arahku.
Rambutnya yang berwarna hitam tertiup angin yang keluar dari jendela. Sosoknya yang misterius membawa orang dalam sebuah pertanyaan tak berujung.
"Akhirnya kau datang juga, meskipun kau sangat lama."
"Aku banyak pekerjaan."
__ADS_1
Yang kutemui adalah Union seorang pemilik buku grimore yang disebut buku takdir, mirip dengan seorang yang kukalahkan di kerajaan Animalia.
Dia melanjutkan.
"Aku tahu itu, kau mencegah peperangan yang hebat."
"Kau seperti tahu apa yang telah kulakukan?"
"Tentu saja, itu karena aku sudah mengawasimu sejak lama, apa kau penasaran dengan pergerakan raja iblis."
"Benar, terutama bukumu juga."
"Heh, begitu... buku takdir ini hanyalah buku biasa untuk bersenang-senang, kecuali menulis kematian, buku ini juga bisa seperti ini."
Union menulis beberapa di lembarnya dan saat kusadari tanganku bergerak sendiri untuk menyentuh dadanya.
"Kyaaa mesum."
Buku yang menakutkan, sebelum hal aneh ditulisnya aku mengambil bukunya.
"Kurasa cukup bersenang-senangnya."
"Tidak seru."
Aku menatap isi buku itu dan mengetahui bahwa tidak ada apapun di dalamnya. Union tersenyum jahil selagi menopang wajahnya dengan tangan.
"Buku takdirku sudah lama kubakar, buku itu terlalu berbahaya kau tahu."
"Dengan kata lain kau memancingku untuk datang kemari."
"Tepat sekali... tapi jangan khawatir, informasi yang ingin kuberitahukan tetaplah sama."
__ADS_1