
Pertama guild dirusak oleh para petualang, kemudian diperbaiki oleh Lesoria dan disaat yang sama pula dihancurkan olehnya lagi
bersama Vivia, keduanya telah memberikan uang ganti meski begitu itu tidak cukup, karenanya aku memberikan uang kemenanganku ke guild untuk menyelesaikan tahap pembangunan serta perluasannya, aku juga telah memberikan uang kepada Lesoria dan Vivia sehingga mereka tidak perlu lagi tinggal bersama kami berdua.
Dan sekarang uang yang kumiliki 20 koin emas, 10 koin perak serta 30 koin perunggu.
Aku mengatakan itu kepada nona Heliet yang sedang mandi di bawah air terjun sementara aku duduk bersila selagi membelakanginya.
"Aksa, kau tidak ingin mengintip?'
"Berisik, cepat selesaikan mandimu... kita harus segera bergegas ke desa terdekat sebelum hari gelap."
"Aku tahu."
Selagi menunggu, aku membuat beberapa ramuan yang didapat dari akar tumbuhan yang memiliki fungsi sebagai sampo, setelah selesai cairan itu kumasukan ke dalam botol yang telah kusiapkan untuk menggantikan sampo yang sedang dipakai guruku.
Beberapa saat kemudian dia telah selesai mandi, aroma harum tercium saat nona Heliet selesai memakai pakaiannya kembali.
"Aromanya enak, sampo, sabun, parfum, pasta gigi serta sabun cuci, apa kau yakin tidak akan menjualnya? Kita bisa kaya raya loh."
"Aku tidak ingin guru menjadi lupa diri jika kita sudah kaya."
"Mana ada, aku akan selalu bersikap rendah hati, tidak sombong serta selalu senang berbuat baik."
__ADS_1
"Guru bukan orang seperti itu," balasku lemas.
Ada kalanya kami memiliki banyak uang dari hasil penjualan toko, dan semua itu dia gunakan untuk berjudi hingga akhirnya kalah.
"Uang itu sangat menakutkankan.. kita gunakan seperlunya saja dan tolong berhenti pergi ke rumah judi."
"Soal itu, maafkan aku."
Kami akhirnya bergerak kembali, tujuan kami adalah kota yang pernah di tinggali guruku ketika masih kecil. Kota itu sekarang sudah dinamakan "Kota yang ditinggalkan" tidak ada orang yang hidup lagi di sana dan rumornya kota itu telah dihuni berbagai monster.
Karena sudah ratusan tahun kurasa hal seperti itu bukanlah hal yang mustahil, setelah keluar dari hutan kami menyusuri jalanan setapak hingga tanpa sengaja berpapasan dengan kereta kuda lain.
Kami berhenti untuk saling menyapa.
"Desa yang kami tinggali akan segera diserang monster, kami memutuskan untuk segera pergi dari sini."
Aku tidak berniat untuk menghentikannya dan hanya membiarkan mereka lewat begitu saja.
"Setahuku di daerah sini tidak mungkin ada monster, apa ada yang sedang terjadi?" tanya guru.
"Lebih cepat jika kita cari tahu ke desanya saja."
Kebetulan desa itu adalah tujuan kami sekarang.
__ADS_1
Sesampainya di sana orang-orang keluar secara serempak untuk mengerumuni kami berdua, salah satu pria yang bertugas sebagai kepala desa berkata ke arah kami.
"Syukurlah ada seseorang yang datang kemari, tolong bantu desa ini dari serangan monster. Kami akan membayar berapapun jumlahnya."
"Bukannya kalian bisa meminta bantuan guild atau kesatria?"
"Soal itu tidak mungkin dilakukan, serangan monster ini sangat mendadak dan tak mungkin kami memiliki waktu untuk melaporkannya."
Itu mungkin alasannya, ketika mereka melapor tempat ini sudah rata dengan tanah.
Salah satu penduduk desa ini tanpa sengaja melihat kumpulan monster dari hutan monster sedang bergerombol menuju tempat ini, karena itulah informasinya lebih dulu sampai.
Aku diam untuk memikirkannya.
"Kemungkinan ada sesuatu yang membuat para monster memutuskan keluar dari wilayahnya."
"Sepertinya begitu," balas nona Heliet.
Aku melanjutkan.
"Kami tidak perlu bayaran, membiarkan kami tinggal di sini beberapa hari, mendapatkan makanan serta tempat tinggal, itu sudah cukup."
"Apa? Baru kali ini kami bertemu seorang petualang yang menolak uang, aku tidak menyangka ada petualang sebaik kalian di dunia kejam ini," kata kepala desa dengan tatapan bersinar.
__ADS_1
Memangnya petualang itu seperti apa biasanya? Pertanyaan itu tidak dijawab oleh siapapun.