
Kami tiba di panti asuhan yang dikelola oleh biarawati dari kultus Nermala.
Dulu di dunia ini memiliki beberapa dewi yang mengelolanya karena banyak insiden di masa lalu dunia ini hanya memiliki satu dewi tunggal sekarang.
Saat memasukinya tampak kursi yang berjajar rapih dan di depanku terdapat patung Dewi Nermala seperti aslinya yang sedang menyatukan tangannya seperti seorang yang berdoa.
"Selamat siang, apa yang bisa aku bantu?"
Seorang wanita Priest menyambut kami, ia sempat ragu saat melihat Alyssa yang merupakan Undead kendati demikian dia tidak mempermasalahkannya.
"Kami ingin bertemu Lucia, Claudine dan juga Lauren."
"Mungkinkah Anda tuan Aksa?"
"Benar."
Wanita di depanku tersenyum lembut lalu melanjutkan.
"Semua orang kecuali saya telah pergi dari tempat ini, kalau mau, kalian bisa pergi ke rumah yang berada di balik gunung, semuanya ada di sana."
Liz memberikan pertanyaan.
"Kenapa mereka pergi dari sini, bukannya ini panti asuhan."
"Memang benar ini panti asuhan, namun sayangnya mulai sekarang tempat ini sudah tidak bisa dipakai lagi."
"Kami juga tidak melihat banyak orang di kota ini, apa ada masalah?" tambah Naula.
Bertepatan itu para penjaga mulai berdatangan dari belakangku, aku tidak tahu mereka sudah menyadarinya atau belum bahwa kerajaan ini seutuhnya telah dikuasai empat dewan meja bundar.
Salah satunya berkata dengan arogan.
"Vira, sudah waktunya kau membayar.. ini peringatan terakhir untukmu, atau kami hancurkan tempat ini bersama denganmu sekalian haha atau mungkin kau bisa keluar denganku dan membayar dengan tubuhmu."
Orang bernama Vira segera menutupi dadanya.
"Dia tidak akan pergi kemana pun."
"Siapa gerangan kau berani memotong perkataanku."
"Hanya pengelana biasa."
"Pengelana biasa, kau akan membayar perkataan kasar itu di penjara... tangkap dia."
Karena anak buahnya tak kunjung datang, wajah orang di depanku tampak memucat setelah tahu bahwa rekannya telah tumbang dihajar kelompokku.
Aku mencengkeram kerah yang lalu mendorongnya untuk bersandar di dinding.
__ADS_1
"Kalian melakukan hal seenaknya, memangnya siapa yang menyuruh kalian?"
"Tentu saja pihak kerajaan."
"Pihak kerajaan yang mana, putri Malifana tidak berada di kastilnya."
"Kau ini berusaha menipuku, kami selalu melihat putri di atas kastil."
Itu sedikit bertentangan dengan apa yang kubayangkan.
"Jangan bunuh aku."
Aku meletakkan belati di dekat lehernya.
Keheningan terasa di antara kami berdua hingga Vira memotong.
"Ini bukan salah mereka, akulah yang belum membayar pajak pada kerajaan."
"Berapa banyak itu?"
"Satu juta koin emas."
Vira telihat enggan untuk mengatakannya.
Liz memotong.
"Aku juga, mereka orang jahat jadi mereka pantas untuk mendapatkannya."
"Aku juga berpikiran begitu Aksa."
Alyssa maupun Naula tidak keberatan untuk itu akan tetapi aku rasanya tidak boleh kembali ke masa lalu.
"Kita tidak boleh mengotori tempat Nermala, untuk hari ini mari lepaskan mereka."
Tepat saat aku mengatakan itu mereka semua berlarian.
Aku menghela nafas panjang sebelum menghilangkan belati di tanganku.
"Jika melihat situasi ini semua penghuni panti asuhan pergi ke tempat terpencil agar tidak disuruh membayar pajak, sementara kau tinggal di sini untuk menanggung semuanya, benar begitu Vira."
"Bagaimana tuan tahu?"
"Itu hanya kesimpulan... aku tidak yakin tapi sebaiknya kau ikut kami pergi ke sana, biarkan dulu tempat ini kosong."
"Tapi..."
"Aku akan melakukan sesuatu untuk ini."
__ADS_1
Ketika berada di luar bangunan kugunakan sihir dimensi untuk menghilangkan seluruh bangunan ke dalam lubang hitam, bahkan jika para penjaga itu datang lagi kemari mereka akan kebingungan.
"Aku bisa memunculkannya kembali jadi jangan khawatir, entah kau atau tempatmu mereka akan baik-baik saja, sekarang mari pergi."
Aku menarik tali pengekang kuda untuk melanjutkan perjalanan.
Vira menatapku dengan serius, rambut pirangnya yang sedikit bergelombang tertiup oleh angin hingga bergoyang.
Mata besarnya seolah bisa memikat siapapun dengan kecantikan dan keimutannya.
"Jika ada yang ingin kau katakan, katakan saja."
Aku berkata dengan acuh tak acuh.
"Tidak, hanya saja kenapa kamu memanggil Dewi Nermala dengan namanya sendiri."
"Maafkan aku, bagaimana mengatakannya, aku sering bertemu dengannya di alam dewi dan tanpa sadar menyebutnya demikian."
"Kamu pasti bercanda? Manusia tidak mungkin datang ke sana."
Melihat wajahku yang serius Vira tampak terkejut selagi menutup mulutnya.
Di saat yang sama suara Nermala masuk ke dalam kepalaku
(Jika mengatakan bahwa kita pasangan kekasih aku juga tidak keberatan loh)
Aku hanya membalas dengan senyuman pahit.
(Kamu terlihat bahagia)
(Aku hanya terkejut karena Dewi Nermala menghubungiku seperti ini)
(Panggil aku Nermala saja, aku bosan jadi aku ingin sesekali melakukan hubungan seperti ini)
(Begitu)
(Bagaimana soal Vira, dia cantik bukan? Kenapa tidak ambil untuk menjadi haremmu juga, dia bisa memberikan banyak keturunan untukmu)
Apa yang dewi ini coba katakan.
(Aku tidak berminat untuk menikah sekarang)
(Kamu memiliki banyak hal untuk dilakukan, jadi aku tidak bisa berkata apapun lagi. Jika nafsumu tak terkendali Aksa bisa mengandalkanku)
Suaranya kemudian menghilang.
Kuharap dia bisa berhenti merayuku.
__ADS_1