
Seperti yang kujanjikan kami pergi ke pesisir pantai, aku memberhentikan mobil tepat di depan sebuah papan peringatan.
Marine membacakannya untuk kami.
"Pantai ini telah ditutup karena kemunculan monster kepiting yang bersembunyi di dalam pasir, bagi yang tiba di sini sebaiknya segera kembali."
Begitulah katanya.
Liz tampak kecewa selagi menghembuskan nafasnya.
"Apa kita akan membatalkan acaranya, padahal aku sudah menuliskan beberapa rencana cara menggoda tuan Aksa nanti."
Aku sama sekali tidak ingin mengetahuinya, walau kelompokku terlihat normal namun pada dasarnya mereka tidak demikian.
Sirius selalu bertingkah kekanak-kanakan, Marine hanya seorang wanita mesum masokis tipe kelas berat, Liz terobsesi dengan hubungan intim sedangkan Naula pecinta uang.
Begitulah mereka.
Aku diam memikirkannya sebelum menjawab.
"Jarak pantai lain cukup jauh, karena itu, mari habisi monsternya saja... kepiting tetaplah kepiting, mereka hanya akan jadi makanan kita."
Pandangan mereka bersinar terang. Marine berkata dengan semangat.
"Aku ingin menggunakan peledak."
"Kami juga."
"Kalian semua terobsesi dengan ledakan kah."
Sirius menanggapi.
__ADS_1
"Ledakan adalah jalan ninjaku."
Aku tidak tahu dimana dia mendapatkan perkataan seperti itu, aku menjentikkan jariku dan dari lubang hitam yang muncul di atas langit berjatuhan puluhan granat yang bisa mereka gunakan sepuasnya.
"Aku dulu."
"Tidak, aku dulu."
Mereka mengambil granat sebanyak yang mereka bisa lalu berlari ke tengah pantai, akibat getaran di pasir, para kepiting mulai bermunculan, tinggi mereka sekitar 5 meter dengan jumlah sekitar 50 ekor.
Kurasa aku tidak perlu ikut campur untuk masalah ini. Aku duduk di kap mesin mobil selagi memperhatikan ledakan yang terjadi diakibatkan oleh mereka.
Untuk berjaga-jaga aku memunculkan Hecate II di tanganku dan memeluknya dalam pelukanku.
Satu kepiting mengejar Naula tapi dia dengan baik menghindari capitnya ke samping kemudian memasukan granat ke dalam mulutnya hingga tubuh musuhnya meledak.
"Aku tidak menyangka meledakan sesuatu sangat menyenangkan."
"Aku juga, aku akan melepaskan tiga granat sekaligus."
"Itu tidak seberapa, aku akan langsung sepuluh saja," potong Liz.
Aku hanya berkata dengan lemas.
".... sepertinya aku telah menciptakan monster."
Seekor kepiting jauh lebih besar muncul, aku menembaknya dengan mudah hingga dia roboh ke samping.
"Nice master, aku akan meledakannya sekarang."
"Oi, jangan lakukan itu... tubuhnya malah akan berantakan."
__ADS_1
"Tapi jalan ninjaku adalah ledakan."
Dia masih gigih mengatakannya, pada akhirnya aku menyerah dan membiarkan mereka melakukan apapun yang mereka sukai.
Aku memutuskan untuk mengumpulkan setiap potongan bagian kepiting lalu memasukannya ke dalam panci raksasa untuk kubuat sup, sementara aku disibukan dengan ini mereka malah asyik bermain dengan air laut.
Mereka saling mencipratkan air ke tubuh mereka dengan senang.
"Rasakan ini."
"Terima serangan balasanku."
"Ada rumput laut yang menempel di dadaku."
Kurasa sesekali seperti ini tidaklah buruk.
Ketika matahari tenggelam aku sudah membuat tenda untuk kami semua.
Aku memberikan daging kepiting yang sudah matang ke mereka semua.
"Owhh.. enak sekali, kau memang pandai membuatnya tuan Aksa," ucap Naula disusul Liz.
"Aku juga setuju."
"Begitukah, kalian bisa tambah sebanyak yang kalian inginkan."
"Baik."
Untuk Sirius dan Marine seperti biasa mereka sedang berlomba siapa yang bisa menghabiskan makanan lebih cepat.
Ketika tengah malam aku terbangun karena suara dengkuran di sekitarku, aku bangun dan menemukan Sirius maupun Marine tengah memeluk tanganku sementara Liz dan Naula mengambil posisi di kakiku.
__ADS_1
Kalian semua apa-apaan?
Aku sudah repot-repot membuat tenda untuk kalian tapi kalian malah tidur di tendaku, aku akan membuat mereka membayarnya dengan bekerja keras nanti.