
Selepas badai, perahu kami naik kembali ke permukaan laut, aku bisa melihat langit yang gelap gulita telah terbelah oleh tirai cahaya yang menyilaukan.
"Pemandangan yang bagus," suara itu berasal dari Liz.
"Kurasa begitu."
Kami melanjutkan perjalanan kembali hingga telah menempuh setengah dari tempat tujuan kami, di langit berbintang yang disinari cahaya bulan kami semua makan malam bersama.
Menu yang aku buat keseluruhan di dapat dari alam terutama sup ikan serta tumis ikan saos pedas, untuk putri duyung dia lebih menyukai rumput laut.
Aku pikir dia akan bilang.
Ikan adalah teman atau sebagainya tapi kurasa dia berusaha untuk tidak mengatakannya seolah mengerti bahwa hukum alam memang seperti itu adanya.
"Ini enak sekali, aku baru memakannya."
Semua hanya tersenyum melihat bagaimana Nene menyantap makanan dengan berlinang air mata.
Beberapa hari berikutnya kami telah sampai di tempat yang disebut ujung dunia, air terjun benar-benar berada di sana di mana itu jatuh kedalam.
Itu semacam sebuah lubang besar yang membawa air laut ke dalamnya.
Ini jelas pemandangan luar biasa, perahu kami juga sedikit terseret ke dalam sana, jika tidak ada jangkar sulit untuk mempertahankannya.
Ini seperti sebuah area yang dilarang bagi perahu untuk mendekat.
"Aku ingin mengundang kalian ke rumahku tapi tempatnya cukup berbahaya bagi manusia."
"Kupikir kami hanya akan mengantar sampai di sini."
"Sayang sekali."
__ADS_1
Aqua memiliki ekpresi kecewa namun ini hal yang terbaik untuk kami semua lakukan, Liz, Naula dan juga Malifana mengangguk mengiyakan.
"Kalau begitu terima kasih banyak, aku sebenarnya ingin mengunjungi kalian tapi aku tidak tahu bagaimana cara menemui kalian?"
"Kami tinggal di kota Oracle di pesisir pantai kerajaan Elysium kau bisa pergi ke sana sesekali."
"Akan aku ingat, kalau begitu sampai jumpa."
"Sampai nanti."
Kami melambaikan tangan ke arahnya yang lalu melompat ke dalam air.
Nene berkata.
"Perahu ini tidak akan bertahan lama lagi, mari kita pergi."
"Iya."
Semua orang menarik nafas lega.
"Akhirnya kita pulang."
"Um.. aku tidak sabar untuk bisa berendam di air panas."
"Kalian pergi duluan saja, aku dan Nene akan mencari tempat tinggal untuknya."
"Kami mengerti."
Aku dan Nene melambaikan tangan ke arah anggota partyku yang berjalan pergi. Nene akan tinggal di sini jadi kupikir harus ada seseorang yang mengantarnya berkeliling dan menjelaskan ke semua orang tentangnya.
Pertama mari kunjungi guruku di tokonya.
__ADS_1
Dia melompat ke arahku dan aku harus menangkapnya dengan baik.
"Aksa, kau sudah pulang.. bagaimana petualanganmu?"
"Cukup menyenangkan, kami telah mengalahkan kura-kura tersebut."
"Itu terdengar bagus."
Nona Heliet melirik ke arah Nene yang tersenyum masam.
"Lama tak bertemu."
"Siapa anak hilang ini?"
"Dia itu Nene, guru mungkin pernah bertemu dengannya?"
Guruku memasang wajah seolah memikirkan sesuatu meskipun dia sepertinya tidak ingin menjauh dariku.
"Ah kau tangan kanannya penyihir kegelapan."
"Yah, itulah aku dulunya sekarang aku adalah budak pria di dekatmu."
"Bu-budak, maksudmu budak yang bisa dimainkan semaunya."
"Benar sekali."
Entah kenapa arah pembicaraan ini semakin aneh saja.
Dari toko guruku aku mengunjungi guild, selama tinggal di sini Nene bisa bergabung dengan mereka dan saat aku membutuhkan bantuan aku akan memintanya secara langsung.
Itu mirip seperti tentara lepas.
__ADS_1
Nene pun menyetujuinya.