
Tepat saat aku mengistirahatkan diriku sebuah pisau meluncur ke arah mataku, aku sempat menahannya namun pisau itu menembus lenganku dan selanjutnya menancap baik di mata kiriku.
Aku segera mencabutnya dan melihat bahwa tanganku telah berceceran darah.
Selagi menahan rasa sakit aku melirik ke arah seorang yang berjalan menembus tembok. Dia membuka topengnya menampilkan mata dengan pola ular melingkar.
"Bagaimana rasanya kehilangan satu matamu?"
Rambutnya yang berwarna jingga merupakan ciri khasnya. Aku memangilnya selagi menembakan peluru ke arahnya.
"Shinji."
Peluru itu menembus tubuhnya hingga membuat lubang di dinding bangunan di belakangnya.
"Yah...kau tidak perlu waspada seperti itu, aku hanya ingin berbicara denganmu... tadinya aku hanya ingin mengawasi pertarungan ini, akan tetapi pertarungan ini sepertinya lebih cepat dari yang kubayangkan."
"Berbicara? Maksudmu dengan melukai mataku."
"Kupikir kau bisa menghindarinya namun sepertinya kekuatanmu sedikit berkurang dari yang kupikirkan."
Orang ini seolah tahu segalanya.
__ADS_1
Aku mengubah arah pembicaraan.
"Apa yang kau inginkan hingga menarik para naga kehancuran untuk menyerang kota ini?"
"Tidak ada maksud lain, aku hanya ingin kalian memberantas mereka sementara kami menghancurkan wilayah naga, sebagai orang yang memiliki keinginan sama sepertiku, bagaimana jika kau juga ikut denganku?"
"Kedamaian?" aku mengulang perkataan itu dan Shinji tersenyum, ia menjentikkan jarinya hingga tanah di sekitarnya menyeruak ke atas membentuk patung wanita dengan kain menutupi matanya sementara tangannya memegang sebuah timbangan.
Dia menjelaskan.
"Kau ingin membunuh semua orang yang mengancam keselamatan dunia ini. Sementara keinginanku adalah menghancurkan semuanya lalu membangun kembali dunia yang baru dan menjadi dewa yang melindungi semua orang."
"Dengan mengorbankan orang tidak bersalah, jangan bercanda... kedamaian tidak akan tercipta dengan cara seperti itu, kau hanya akan menciptakan kerajaan kecilmu yang nantinya akan saling membunuh satu sama lain hingga tidak tersisa lagi."
"Impian bodoh."
"Meski begitu caraku lebih baik. Saat mereka datang ke kerajaan ini apa yang akan kau lakukan?"
"Jika itu terjadi aku akan menerima kematianku."
Shinji menyeringai senang.
__ADS_1
"Kau dan aku memiliki kesamaan di mana kita menginginkan sebuah perdamaian... dunia ini tidak akan berubah sebelum ada seseorang yang mengotori tangannya sendiri, dan kita berdua orang yang bisa melakukannya... Nah, sekarang.. apa pilihanmu? Berada di sisiku dan menciptakan dunia yang damai atau berpegang teguh dengan keinginanmu dan menjadi musuhku."
Aku menembakan peluru ke mata kanannya dan lagi-lagi itu menembusnya dengan mudah.
"Sudah jelas, jawabanku tidak," kataku menegaskan.
"Dasar keras kepala, tapi aku sangat menghargainya.. di dunia ini tidak memerlukan dua orang yang memiliki tujuan untuk menciptakan kedamaian, datanglah ke wilayah para naga, di sana kita bisa saling membunuh satu sama lain dan melihat jalan siapa yang memang benar," katanya selagi seluruh tubuhnya mulai terhisap ke dalam tanah bersama patung miliknya.
Dia melanjutkan.
"Ngomong-ngomong patung ini sangat luar biasa, saat timbangan keburukan dunia ini lebih berat maka kehancuran akan tercipta."
"Patung apa itu sebenarnya?"
"Kau belum mengetahuinya, di dalam patung ini ada seorang yang telah memberikan sihir pada kita semua."
"Jangan bilang? Orang yang pertama memakan buah dari surga itu."
"Tepat sekali, semakin awal keturunan yang memakan buah itu maka kekuatan sihir mereka lebih kuat, dengan kekuatannya untuk membuat dunia baru tidaklah sulit."
"Menjadikan dirimu sebagai dewa untuk menekan umat manusia adalah sesuatu yang tidak bisa kuterima."
__ADS_1
"Jika kau merasa begitu maka bunuhlah aku, itupun jika kau bisa... dibanding para Dewi yang mengelola dunia ini, aku adalah orang yang lebih cocok melakukannya. Sudah waktunya pergi, sampai jumpa. Kau akan lebih baik dengan satu mata."
Aku hanya bisa melihat kepergiannya yang menghilang seutuhnya.