Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 185 : Delapan Raja Dan Satu Penguasa


__ADS_3

Setelah perjalanan cukup lama akhirnya kami bisa sampai ke daerah ibukota musuh, bertepatan mobil melaju aku melihat delapan orang berdiri jauh di dekat tembok.


Liz yang mengenal mereka kehilangan kata-katanya.


"Mereka semua delapan raja kerajaan bintang, mustahil? Apa ini jebakan, mereka telah menunggu kita sejak awal."


"Aku yakin mereka pasti sudah tahu kita akan datang kemari," ucap Naula menambahkan.


Kami melompat keluar secara bersamaan saat sebuah bilah raksasa menerjang dari depan, bilah itu membelah mobil kami jadi dua bagian hingga meledak dahsyat.


"Mereka bisa menghindarinya, cukup mengesankan."


Orang yang berkata itu adalah orang yang memegang pedang raksasa dengan arogan, mari kita sebut raja satu.


"Bagaimana dengan seranganku."


Seorang lagi menggunakan tongkat untuk menciptakan bola api yang melesat ke arahku, dengan anggun Liz membekukannya melalui sihirnya.


"Cih, Liz Calista."


Aku akan menyebut dia raja kedua dan seterusnya.


Marine berkata.


"Serahkan ini pada kami, tuan Aksa segeralah pergi ke ibukota."


"Apa kalian akan baik-baik saja?"


"Jangan khawatir kami cukup tangguh loh."

__ADS_1


Mereka semua menggangguk mengiyakan.


Liz, Marine, Sirius dan juga Naula masing-masing mereka harus melawan dua orang.


"Kalian semua?"


"Pergilah."


"Jangan khawatir kami akan menghajar para raja jelek ini master."


Aku mengangguk mengiyakan sebelum melesat maju. Yang bisa kulakukan hanyalah mempercayai mereka.


Dengan sihir percepatan aku menembus ke delapan orang itu, tapi sepertinya mereka tidak berusaha menghentikanku seolah hal ini memang sengaja agar aku bisa bertarung satu lawa satu melawan Draco.


Aku sekali lagi melirik ke arah belakangku. Dari delapan orang itu, tujuh orang menggunakan pedang. Apa mungkin mereka termasuk pengguna pedang iblis seperti Cygnus, tanpa memikirkannya lagi aku melompati tembok kemudian terbang menuju istana yang berada di belakang kota, sesampainya di sana seorang pria duduk di atas singgasana.


Ia memiliki rambut gelap panjang serta tubuh yang terlihat berotot.


Jadi dia mengawasiku dengan ini.


Aku menciptakan pistol di tangan kiri sementara tangan kanan pedang. Aku bertanya padanya.


"Apa kau seekor naga?"


Draco tertawa.


"Tepat sekali."


"Apa kau mengenal Fafnir?"

__ADS_1


"Naga itu, apa kau memiliki urusan dengannya?"


"Aku akan membunuhnya."


"Sayang sekali, jika kau melawanku kau tidak akan punya hari esok."


Dia menembakku dengan sinar gelap dari tangannya hingga aku terlempar jauh menabrak dinding hingga keluar dari istana sebelum akhirnya jatuh ke tanah.


Draco keluar dari lubang yang kuciptakan dan turun menghampiriku.


"Kau masih bisa hidup setelah menerima seranganku, aku mengakuimu sebagai orang kuat kedua yang akan melawanku."


"Kedua?"


"Jeanne d'Arc, dialah orang pertama yang berhadapan denganku bahkan dia berhasil menghancurkan kerajaan milikku yang kubangun."


"Kau pasti bercanda, kau raja para monster itu."


"Aah, itulah julukanku."


Aku bangkit dari puing-puing tanah selagi menatap ke arahnya.


"Ini jauh menarik... naga memiliki kemampuan regenerasi, sepertinya Jeanne tidak mengetahui kau naga.. terlebih kau sama sekali tidak memiliki tanduk."


"Saat itu aku tidak menggunakan nama asliku jadi dia tidak mengetahuinya."


Aku menyeringai lalu memunculkan beberapa drone di sekitarku, drone ini secara bersamaan menembakan peluru dari senapan yang dipasang menyerupai tangan.


Dengan santai Draco menahannya, sebelum menghancurkannya dengan api di tangannya, aku masih bisa melindungi diriku dengan sihir pelindung hanya saja semua drone milikku telah hancur berserakan.

__ADS_1


Seekor naga memang tak bisa diremehkan.


__ADS_2