Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 248 : Petualangan Masih Berlanjut


__ADS_3

Di depan istana aku dan Doremi saling berhadapan.


"Kau yakin tidak ingin mampir dulu untuk pesta?"


"Aku ini orang jahat, aku tidak cocok untuk itu."


Aku tersenyum masam lalu melanjutkan.


"Apa yang akan kau lakukan mulai sekarang?"


"Aku akan pergi ke benua lain dan hidup menjadi petualang di kota lain."


"Begitukah, kau mengatakan hal sama dengan orang bernama Shinji."


"Aku tidak mengenal orang itu."


Aku mengeluarkan boneka yang mirip dengan ibunya dan memberikannya padanya.


"Anggap saja sebagai hadiah, boneka ini akan membantumu."


"Terima kasih dan selamat tinggal."


Aku hanya memperhatikan kepergian Doremi dari kejauhan sebelum akhirnya masuk ke dalam istana yang kini telah dipenuhi orang-orang yang sedang berpesta, mereka mengenakan pakaian resmi yang terlihat mahal dengan sentuhan warna yang bervariasi.


Liz, Naula dan Alyssa juga terlihat sangat memukau, terutama Malifana yang mengenakan gaun putri dengan mahkota di kepalanya.


Untukku sendiri aku lebih nyaman dengan pakaianku sehari-hari sebagai penyihir.


Malifana melirik ke arahku lalu menunjuk ke arah beranda seolah memintaku untuk keluar bersamanya, aku pun mengikutinya saat dia memberikan segelas minuman mirip jus tanpa alkohol padaku.


Pemandangan kota terlihat begitu indah dari sini. Ia membentangkan tangannya lalu menoleh.

__ADS_1


"Hey Aksa, berdiri di belakangku lalu pegang pinggangku."


"Meski kau mengatakan itu, aku tidak boleh sembarangan melakukan itu."


"Tapi kau bisa melakukan itu pada Naula dan Liz."


"Mereka sedikit memaksa kau tahu."


"Kalau begitu aku juga memaksa."


Aku menghela nafas panjang lalu melakukan apa yang dia minta.


"Fufu bagaimana menurutmu dengan kerajaanku."


"Seperti biasa saja, namun mulai sekarang kau akan sibuk untuk membangunnya kembali."


"Benar."


"Jadi apa yang ingin kau katakan?"


Aku tersenyum masam, menggosok rambutku kesal.


"Bagaimana dengan pendapatmu?"


"Aku tidak keberatan jika dengan Aksa, aku juga menyukaimu."


Suara Dewi Nermala masuk ke dalam kepalaku


(Tidak apa untuk menerimanya Aksa, aku selalu mendukung kebahagiaanmu dari sini, memiliki istri 50 sesuatu yang wajar di dunia ini)


(Kau mengatakan sesuatu yang cukup sulit di sana)

__ADS_1


(Aku ingin dinikahi juga)


Dia tidak mendengarkanku.


Malifana berbalik untuk melihat ke dalam mataku.


"Kurasa kau lebih baik memilih orang yang tepat."


Dia mengembungkan pipinya dengan mata berkaca-kaca. Ini ekpresi yang baru kulihat darinya.


"Aku tidak peduli jika kau ingin mempunyai selir hanya saja aku membatasinya hanya sembilan denganku di dalamnya."


"Kenapa kau mengatakan itu?"


"Aku tahu banyak wanita yang menyukaimu juga, Liz, Naula, nona Heliet, Jeanne dan Vivia juga... mungkin putri Alma merasa begitu."


"Itu mustahil, Liz dan Naula mungkin iya tapi Jeanne dan Vivia mereka tidak mungkin menyukaiku apalagi putri Alma."


"Aksa, kamu tidak peka."


Aku tidak tahu harus mengatakan apapun di situasi ini.


Menikah bukanlah sesuatu yang akan kuambil di waktu seperti ini, Liz dan Naula lebih tahu soal itu.


Malifana memotong.


"Aku tidak memintamu untuk menikahiku sekarang yang jelas aku tidak akan tinggal di sini melainkan aku akan terus mengikutimu sebagai anggota partymu."


"Eh? Lalu kerajaan ini?"


"Ayah dan ibuku sudah setuju karena itu tolong rawat aku dengan baik ke depannya."

__ADS_1


Aku melirik ke arah Liz dan Naula yang bersembunyi di belakang selagi mengacungkan tangannya oke.


Kurasa waktuku bersama Malifana masih berlanjut.


__ADS_2