
Ada sebuah medan pelindung yang diletakkan di seluruh tubuh kura-kura tersebut sehingga serangan biasa tidak berpengaruh padanya, Asterio maupun Nene menyerang dari segala arah, itu adalah serangan yang menggunakan kecepatan tinggi luar biasa.
Di sisi lain anggota partyku tidak ingin kehilangan momentum yang mereka inginkan jadi mereka bertarung bersama.
Setelah merapal sihir pendukung, Malifana juga menyerang ke depan aku bisa menjamin bahwa kekuatan mereka memang bertambah pesat.
Aku menembakan peluru dari pistol di tanganku dan selongsong peluru mulai berjatuhan, sebagai serangan balasan kura-kura raksasa tersebut menyerang balik dengan sihir petir.
Kami dalam posisi bertahan saat kilatan menyilaukan mata tersebut merambat di bawah kaki kami, menciptakan retakan mirip sebuah jurang terpisah.
Tentu serangan seperti itu tidak membuat kami terluka kendati demikian itu sudah cukup membuat kami mundur.
Aku mengarahkan tanganku yang kosong lalu berkata.
"Hell of the Abyss."
Api menyembur dari sana membakar keseluruhan pelindung tersebut termasuk kura-kura di dalamnya. Sesuai dugaanku itu tidak memiliki efek yang bagus.
Aku mendapatkan berkah serta pelatihan dari seluruh dewi utama, bukan hal sulit untuk menggunakan kekuatan dewa. Aku ingat bagaimana pelatihanku dengan Dewi Athena namun mengingat banyak orang menonton aku tidak cukup bodoh untuk menunjukannya.
__ADS_1
Mari cari jalan yang sedikit berbeda seperti menggunakan kedua ahli pedang di depanku ini. Liz menggunakan kekuatan esnya menciptakan deretan tombak es di udara, sementara itu Naula mengunakan bilah angin dan secara perlahan mengikis perlindungan kura-kura.
Aku bisa melihat retakan di sana yang mana diselesaikan oleh Nene.
Itu pecah semestinya.
Di saat yang sama Asterio mengambil gerakan lebih awal dan dengan sekali tebasan, di memenggal kepala kura-kura tersebut.
Malifana yang berdiri di sampingku tampak memiliki kejanggalan di wajahnya, tidak seperti dia memiliki sesuatu yang dipikirkan dengan keras tapi semua orang pasti menyadari juga.
"Lihat itu Nes, aku berhasil mengalahkannya."
Liz berteriak.
"Di bawah kita."
Dari pecahan es kumbang-kumbang laut sebesar satu meter bermunculan dan secara serempak menyerang kami, mereka memiliki warna gelap dengan mata merah. Tidak berlebihan jika disebut binatang iblis atau semacamnya.
Aku mengkonfirmasi dengan apa yang terjadi di belakangku dan sama dengan keadaan kami, para kumbang itu muncul di kota juga.
__ADS_1
Dengan perlindungan penjaga serta para pelayan mereka jelas mampu mengatasinya, Ruri di bawa ke tempat aman mengikuti kerumunan yang sama-sama berniat menyelamatkan diri.
Tepat aku berbalik ke arah pertarungan sebuah mulut mengigit setengah tubuh Asterio lalu menelannya.
Nene menyeringai.
"Dia akhirnya mati."
Itu perkataan yang tidak cocok untuk dikatakan, tapi tunggu sebentar, bukannya kepala kura-kura itu barusan sudah terpenggal. Aku melirik ke arah Naula dan ia menjelaskannya.
"Kepala itu? Tidak tahu kenapa terbang dan kembali sedia kala."
Dengan kata lain kura-kura ini tidak bisa dibunuh. Mungkin kami harus menghancurkan seluruh tubuhnya jika benar-benar ingin menghabisinya. Aku menciptakan pelontar granat saat pistol tidak mempan untuk digunakan.
Sementara aku sibuk mengelilingi makhluk ini untuk mencari titik lemahnya, semua orang mengirim serangan yang mereka bisa lakukan.
Aku bisa menegaskan bahwa semua ledakan yang luar biasa terjadi di sini selain mengawasinya kami juga harus menghadapi kumbang-kumbang yang jumlahnya semakin banyak.
Mungkinkah makhluk ini bisa mengendalikan monster lainnya tanpa repot-repot bertarung dengan kami dengan serius.
__ADS_1
Jika benar dia bukan hanya sekedar makhluk bencana tidak berakal.