
"Bagaimana Mai?"
"Hmm... ini disebut rantai pengorbanan yang bertujuan untuk menstabilkan sebuah dungeon, saat seseorang terperangkap mereka tidak bisa keluar sampai kapanpun dan berubah menjadi satu dengan bangunan ini hingga seluruh mana yang didapatkan dari luar akan terserap ke dalam tubuh yang terperangkap hingga merubahnya menjadi makhluk abadi... mana yang disimpan ditubuh orang itu akan secara bertahap dialirkan ke setiap ruangan untuk meningkatan kekuatan serta reproduksi para monster."
"Maksudmu siapapun bisa jadi abadi?" tanya Vermilion.
"Benar, tapi keabadian itu dibayar dengan tetap berada di sini selamanya."
"Itu jelas buruk."
"Karena itulah Noela memisahkan roh dari tubuhnya agar bisa kembali ke kota Antares," jawabku singkat.
"Orang yang membuat labirin ini mungkin hanya orang bodoh yang terobsesi dengan monster," ucap Serena mengejek, sementara Mai melanjutkan.
"Aku rasa yang melakukannya ingin sekali membuat dungeon hebat dan melihat bagaimana hasil dari pekerjaannya seumur hidupnya."
Itu mungkin saja, terlepas dari apapun tujuannya aku harus membawa tubuh Noela kepada pemiliknya.
"Lalu bagaimana cara kita bisa menghancurkan rantainya?"
"Setelah menganalisa setiap struktur tempat ini ada batu kuat di lantai 76 yang dinamakan Stone Soul, dengan kemampuan Alchemist tuan, tuan bisa membentuknya menjadi pedang untuk menghancurkan rantainya."
Mavis memotong
"Mungkin batu yang ada di dalam golem itu, kita waktu itu hanya mencoba melewatinya tanpa bertarung sepertinya kita harus kembali."
"Aku juga ingat itu, sayangnya melawan golem itu sangat merepotkan karena lantai tersebut memiliki efek untuk menghilang sihir pendukung maupun serangan pertahanan," tambah Vermilion disusul Serena.
__ADS_1
"Sudah jelas pembuat labirin ini memang sengaja menempatkannya di sana."
"Kalau begitu akan lebih cepat menggunakan sihir terleportasi."
Semua orang mengiyakan tak terkecuali Mai. Karena dia bisa berbicara kurasa sebaiknya aku tidak lagi memasukannya ke dalam sihir penyimpanan melainkan ke dalam saku bajuku.
"Mari pergi."
Dengan sedikit sihir kami telah muncul di lantai yang dimaksud, sihir tidak bisa digunakan di area ini meski demikian sihir penyimpanan tetap bisa aku akses dengan mudah.
Aku memunculkan beberapa senjata yang masih-masing memiliki perannya sendiri, ada pelontar bom, machine gun dan beberapa granat maupun dinamit dengan daya ledak tidak terlalu kuat.
Kami berada di dalam labirin maka ledakan besar bisa mengakibatkan kami terkubur hidup-hidup, itu sesuatu yang harus kami hindari.
"Kita harus bisa membuat lubang di tubuh golem kemudian memasukan dinamit ini ke dalamnya untuk memenangkan pertempuran, aku akan mengalihkan perhatiannya kalian serang dengan segala yang bisa kalian lakukan."
Golem yang kami lawan berupa patung raksasa, Stone Soul memiliki struktur yang kuat dan itu tidak mudah dihancurkan oleh sebuah ledakan.
Dengan ini kami pasti berhasil.
Aku menarik pengunci granat untuk melemparkannya ke bawah golem raksasa yang sedang bersantai, tepat saat ledakan terjadi kami mulai berpencar.
Vermilion mengambil jalur ke kiri sementara Serena ke arah berlawanan.
"Sekarang sudah waktunya menggunakan ini."
Aku mengarahkan ujung senjataku pada tubuh golem yang marah lalu menembaknya dengan ratusan peluru berkaliber 50.
__ADS_1
Machine gun tidak bisa dipakai secara terus menerus setelah mesinnya panas aku harus mendinginkannya lebih dulu karena itu ini hanya sekali pakai.
Walau tidak terlalu ampun itu cukup membuat pergerakan Golem terhenti.
Di saat yang sama kulemparkan bom asap ke bawah kakinya, untuk memudahkan pergerakan Vermilion maupun Serena dalam menyerang.
Golem itu mencoba menghalau seluruh asap dengan mengibaskan tangannya, saat itu menghilang, Vermilion sudah menekuk lutut di depannya bersiap menebas dari atas, di sisi lain Serena juga.
Golem menggunakan punggung tangan untuk menahan keduanya sebelum menghempaskan mereka ke belakang.
Keras sekali.
"Biar aku saja."
Mavis menerobos dengan perisainya, sebuah pukulan terarah padanya dan ia mampu menahannya dengan perisai sebelum akhirnya dia memutuskan untuk melepaskannya lalu melompat ke atas golem.
Dia mencengkeram leher golem tersebut dengan jepitan kaki selagi menarik pedang pendek yang ditaruh di belakangnya.
Golem ini hanya memiliki satu mata, saat itu dihancurkan dia tidak bisa mengetahui pergerakan kami.
Tubuh Mavis dicengkeram oleh tangan golem sebagai bentuk perlawanan, sebelum terjadi hal buruk Vermilion melesat maju, dia menebaskan pedangnya dan bunyi dentingan keras terdengar bersamaan sebuah retakan kecil yang tercipta olehnya.
Itu masih belum berhasil namun ditebasan kedua Serena, tangan golem yang mencengkeram Mavis terputus membuat Mavis bisa melompat mundur lalu membawa perisainya untuk menjauh bersama lainnya.
Aku menembakan seluruh apa yang kupunya menghujaninya dengan peledak, sayangnya itu masih belum berhasil.
Tubuh golem kembali pulih serta memiliki bagian tubuh yang dipotong maupun matanya kembali sedia kala.
__ADS_1