
Kami mulai menyisir tumpukan harta untuk mencari warisan yang kami cari, beberapa saat kemudian jelas itu tidak dapat kami temukan.
Chunhua menghela nafas panjang.
"Sudah sejauh ini, tapi aku tidak bisa menemukannya sungguh mengesalkan."
Padahal sejak awal aku yang sebenarnya bekerja keras membawa mereka kemari. Aku mencolek pinggang Yu'er.
"Hentikan Onii-chan, itu geli."
Aku membuat tanda untuknya, dia dewi dia pasti mengetahui di mana warisan itu disembunyikan. Yu'er yang mengetahui apa yang kupikirkan tersenyum jahil.
"Jika ingin mengetahui di mana warisannya cium aku dulu, di pipi, di bibir juga boleh."
Yu'er memang mendapatkan ciumannya tapi bukan olehku melainkan oleh Chunhua, mereka saling menempelkan lidah mereka saat mereka menjauh ada air liur yang menghubungkan keduanya.
"Iyah, barusan tidak dihitung aku ingin Onii-chan yang melakukannya."
"Kesepakatan adalah kesepakatan, kau tidak mengatakan bahwa harus aku yang melakukannya."
"Onii-chan curang."
Aku mencoba pura-pura tidak mendengarnya sementara aku menutupi telingaku, Dindong telah mimisan.
"Apa yang barusan tadi?"
Adegan barusan telah merusak mental pria polos yang jujur di sampingku ini.
Aku menciptakan senjata api di tanganku lalu mengarahkan ujungnya ke arah pintu yang tiba-tiba dimasuki sekumpulan orang-orang dari pengikut Pangli.
__ADS_1
"Lebih baik kalian serahkan harta itu padaku sebelum kami bertindak."
"Kami tidak memiliki kewajiban seperti itu, kami lebih dulu menemukannya jadi ini harta kami," balas Dindong.
"Bodoh, yang benar adalah yang hidup yang dapat memiliki semuanya."
Orang ini jelas mengikuti kami dari belakang sebelum jebakan diaktifkan kembali.
Negosiasi telah berakhir.
Aku menembakan timah panas menembus kepala Pangli, bahkan sebelum dia bisa mengeluarkan seluruh kemampuannya dalam berkultivasi dia telah tewas dalam sekejap.
Tubuhnya rubuh ke samping tanpa perlawanan.
"Bagaimana bisa?"
"Yare yare, aku tidak peduli jika kalian hidup atau mati... yang jelas pergilah dari sini atau aku akan membunuh kalian."
"Percuma Onii-chan, mereka berniat mengambil hartanya nanti saat kita pergi meninggalkan tempat ini."
"Jadi begitu."
Aku menembaki mereka tanpa jeda membunuh mereka tanpa membiarkan mereka berhasil lolos. Sayang sekali bahwa mereka datang hanya untuk mati.
Dindong terkejut denganku, dia mungkin berfikir aku orang yang baik namun sejujurnya aku hanya orang yang mudah membunuh siapapun.
Chunhua mengajukan pertanyaan.
"Kenapa kau membunuh mereka semua?"
__ADS_1
"Sudah jelas, mereka berniat buruk kepada anak-anak yang diasuh oleh Dindong, saat kita pergi mereka pasti membunuh mereka dan merampas bagiannya."
"Aku mengerti."
Dindong segera berkata.
"Terima kasih."
"Jangan khawatir, membunuh adalah keahlianku, lebih dari itu.. Yu'er."
"Baiklah Onii-chan."
Yu'er berjalan ke arah salah satu dinding yang menaruh obor di dekatnya, dia menyentuh bagian tertentu untuk membuka ruangan tersembunyi, di dalam sana ada sebuah pedang yang memiliki ketajaman luar biasa yang ditaruh menembus dinding tanpa terlepas dari sarungnya dan ada beberapa kotak juga yang diisi oleh beberapa pil.
"Inilah yang kuinginkan," teriak Chunhua menerobos masuk lalu mengambil pil-pil yang ada di kotak tersebut.
Tapi dia memilih pil yang terlihat gelap.
"Bagaimana dengan sisanya?" tanyaku.
"Kecuali yang kuambil, sisanya tidak cocok untuk kultivasiku Aksa bisa mengambil sisanya."
"Kalau begitu aku akan menerima tawarannya."
Aku mengambil pedang besar itu lalu menaruhnya dipunggung sementara yang kecil yang sebelumnya aku bawa kumasukan kembali ke sihir penyimpananku.
"Ada apa Aksa?"
"Pedang ini bisa mengatur ukuran dan beratnya, barusan cukup berat tapi sekarang seringan kapas."
__ADS_1
"Berarti pedang ini bukan pedang biasa dengan begitu kau bisa memakainya lebih cepat dari pedang yang biasa kau ayunkan."
"Benar."