Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 200 : Sebuah Perpisahan Dan Awal Dari Perubahan (Arc 1 End)


__ADS_3

Aku mengalihkan pandanganku ke arah Liz dan Naula yang muncul dari bawah laut dan mereka tampak baik-baik saja.


Aku menghirup nafas lega.


Sekarang hanya tinggal melawan Ariesta saja.


"Kau sudah siap Aksa."


"Aku sudah siap, mari kalahkan dewi jahat ini."


Meliana, Cardina maupun Margaret tersenyum ke arahku lalu bersama-sama menyerang maju, Meliana di belakang kami merapalkan banyak sihir pendukung, dan sementara itu kami bertiga secara bergantian menyerang Ariesta.


Ayumi mengirim bilah angin padanya disusul Cardina yang melompat ke atas mengirim tinjunya.


Boom.


Ledakan tercipta di sana, aku yang masuk dari samping menyelimutiku dengan baju besi lalu menghantam Ariesta hingga dia terlempar jauh ke belakang.


Dia bangkit kembali namun sebuah tombak petir yang dilesatkan Meliana menghantamnya meniadakan sekitarnya dengan ledakan.


Jam besar di atas Ariesta mulai bergerak, bersamaan itu tubuhnya kembali dipulihkan.


"Lumayan juga, bagaimana kalian melawan ini?"


Ariesta mengarahkan tangannya menembakan kilatan petir ke arah kami hingga kami berjatuhan.


Kekuatannya lebih kuat dari yang kubayangkan kendati demikian kami tak tinggal diam, kami bangkit dan selanjutnya menyerangnya kembali.


Sekarang Meliana bertarung di depan bersama kami, dia menciptakan puluhan lingkaran sihir di atas langit dan begitu juga Ariesta hingga pedang maupun tombak yang dilesatkan bertubrukan menghasilkan serpihan yang berjatuhan tidak hentinya.


Aku terhantam pedang Ariesta hingga meluncur jauh terarah pada Ayumi yang menghindariku dengan baik.


"Cepat bangun Aksa, orang ini sangat kuat."


"Aku tahu."


Paling tidak berusahalah untuk menangkapku.


Cardina maupun Meliana dicekik oleh tangan Ariesta, Ayumi yang berusaha datang untuk menyelamatkan keduanya terhantam tubuh yang dilemparkan hingga tersungkur ke es.


"Kalian hanya manusia, aku seorang dewi yang memiliki kekuatan banyak dewi lainnya, kalian hanya bisa pasrah dengan kematian kalian."


Jam Tartarus mulai bergerak kembali, berbeda dari sebelumnya tubuh kami tiba-tiba lemas dan jatuh ke bawah, baju besi yang menutupiku pun hancur.


"Kalian semua matilah."


Sebuah sihir tingkat atas meluncur ke arah kami membentuk laser berwarna merah gelap, bersamaan itu pedang Sirius ataupun Marine melayang dan menahan serangan tersebut.


Aku melirik ke atas jam milikku dan di sana kepingan berjatuhan.

__ADS_1


"Kalian berdua."


Sirius ataupun Marine tertawa kecil.


"Sungguh menyenangkan hidup bersama kalian semua, aku senang bisa tinggal di kota Antares bersama yang lainnya juga termasuk master."


"Tidak, Sirius."


"Benar, aku cukup menikmatinya... kupikir ini memang sudah waktunya kita pergi lagipula kita sudah hidup terlalu lama."


"Marine, apa yang kalian lakukan? Tunggu, jawab perkataanku."


"Dari awal dewa-dewi harusnya tidak diciptakan, kami sudah tahu hal ini akan terjadi di mana kami semua akan menghilang... jaga dirimu master aku senang bertemu denganmu."


"Jangan katakan itu?"


"Tuan Aksa, terima kasih untuk semuanya."


Sirius maupun Marine yang masih dalam bentuk pedangnya meluncur dengan kecepatan tinggi.


"Tidak akan kubiarkan."


Dengan mati-matian Ariesta menggunakan sihir miliknya untuk menghentikan serangan tersebut meski mengenainya secara langsung Sirius maupun Marine terus meluncur hingga kehancuran tidak bisa dihindari.


"Jangan bilang mereka ingin mengorbankan dirinya," ucap Ayumi.


Pedang yang membelah udara itu menebus tubuh Ariesta kemudian menembus jam raksasa Tartarus.


Tubuh Ariesta mulai menjadi serpihan cahaya bersamaan pedang ataupun kedua jam yang mulai berjatuhan ke dalam air laut.


"Aaaaaaaargh," aku hanya berteriak selagi berlari ke arah dua pedang yang mulai menghilang dan berubah menjadi sosok Marine maupun Sirius. Keduanya melayang ke arahku.


Aku berusaha menangkapnya, tentu tubuh mereka menembusku.


"Jangan sedih master, dengan ini kami bisa pergi ke tempat yang lebih baik."


"Benar, tuan Aksa selalu menyalahkan dirinya, akan lebih baik tuan Aksa juga menikmati hidup seperti orang lain juga."


"Kami berdua tidak menyesali apapun yang terjadi, lain kali mari pergi dan cari makanan yang enak."


"Ah, sesekali hukum aku juga.. aku sangat berharap hukuman yang berat dari tuan Aksa hehe."


"Tentu saja."


Keduanya terbang ke langit dan menghilang seutuhnya dengan senyuman di wajah mereka.


Sekali lagi aku telah kehilangan hal berharga.


Aku hanya menangis, sementara Liz maupun Naula mendekat untuk berlutut di dekatku lalu memelukku dengan erat tanpa mengatakan apapun lagi kecuali tangisan yang sama.

__ADS_1


Beberapa minggu setelahnya aku duduk di atas tembok tinggi selagi menatap matahari yang tenggelam.


Angin lembut menerpa wajahku bersamaan lonceng yang terdengar dari dalam kota Antares.


Seperti yang dikatakan Sirius ataupun Marine aku harus menikmati hidupku juga tanpa terpaut untuk balas dendam, aku telah hidup di sini dan memiliki banyak orang yang peduli denganku, aku tidak bisa terus seperti ini dan membuat mereka khawatir, meski begitu, tujuanku tidak akan berubah.


Aku akan menyelamatkan dunia ini dan berusaha sebisaku untuk melindungi semuanya.


Aku berdiri kemudian melompat dari tembok untuk melihat ke atas, mungkin ini hanya perasaanku akan tetapi aku melihat Sirius maupun Marine berdiri di sana selagi melambaikan tangannya.


Aku pun melakukan hal sama.


"Kalian berdua, terima kasih untuk semuanya."


Mereka berdua tersenyum lalu menghilang seutuhnya digantikan oleh Naula dan Liz yang berlari ke arahku.


"Tuan Aksa kemana saja? Kami mencarimu."


"Benar sekali tuan Aksa, kita harus mengambil pekerjaan di guild secepatnya."


"Harusnya kau sedikit berhemat," tambah Liz.


Aku menepuk rambut mereka berdua hingga mereka terdiam dengan wajah memerah.


"Mulai sekarang panggil aku Aksa saja."


"Tapi itu?"


"Ini permintaanku."


Keduanya melirik satu sama lain lalu mengangguk mengiyakan. Aku berjalan melewati keduanya.


"Mari Kembali, dan kita ambil quest besok."


"Um."


Keduanya mengambil lenganku lalu mendekapnya ke belahan dada mereka.


"Hari ini aku yang akan tidur dengan Aksa."


"Tidak, ini giliranku."


"Kalian berdua, aku tidak tidur dengan siapapun... aku masih perjaka."


"Karena itulah kami harus yang pertama."


Nona Heliet yang muncul tiba-tiba menggembungkan wajahnya.


"Dasar kucing garong, aku lebih dulu bersama Aksa."

__ADS_1


Kulihat Vivia dan Jeanne bersandar di dinding selagi tersenyum ke arahku, mereka sepertinya tidak ingin membantu sama sekali.


Petualangku bersama mereka masih berlanjut.


__ADS_2