Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 147 : Kekuatan Sesungguhnya


__ADS_3

Pria tua bernama Aiz itu memasang kuda-kuda dengan asap mengepul dari tubuhnya, saat dia menembakan apinya aku melompat ke samping lalu berlari memutarinya dengan pedang di bahuku.


Pria tua ini memiliki ketahanan tubuh sangat kuat, aku mengarahkan tangan untuk menciptakan sihir angin.


"Wind Cutter."


Tebasan angin menghantam tubuhnya secara langsung, itu tidak meninggalkan jejak sedikitpun malah Aiz sudah berada di depanku, dengan menggunakan lengannya dia menghantam leherku dengan keras.


"Guakh."


Ia kemudian mencengkeram kepalaku lalu membantingnya ke tanah dan diakhiri dengan injakan yang mampu menciptakan lubang besar di belakangku. Tanah mengepul ke udara bersama hujan debu yang berjatuhan ke tanah.


Sirius malah tertawa girang.


"Master orang ini sangat kuat, mari gunakan kemampuanku."


"Masih belum, akan kugunakan kemampuanmu untuk melawan Cygnus."


"Kau meremehkanku bocah."


Aiz membuat api membara dari tangannya, tanpa ampun dia meninju wajahku untuk menghasilkan ledakan kedua yang lebih besar.


Wajahnya tampak terkejut saat mengetahui bahwa wajahku berubah menjadi besi.


"Apa-apaan ini?"


Dia segera mundur untuk menjaga jarak.


Ini adalah kemampuan pria bertopeng yang kutemui di ibukota Elysium, setelah kemampuan ini menghilang aku memasang kuda-kuda lalu menembakan api ke arahnya.

__ADS_1


"Mustahil? Kau bukan manusia."


Api bagaikan ombak menerjang seluruh tubuhnya bersama sekelilingnya hingga tak bersisa.


"Aku manusia."


Sirius dalam wujud pedangnya berkata.


"Bukannya terlalu kejam mengalahkannya dengan jurusnya sendiri."


"Aku tidak ingin terlalu menunjukkan kemampuanku, terlebih pada orang yang akan muncul sekarang," balasku ringan lalu mengambil Sirius yang ada di dekat kakiku.


Dari kejauhan tampak pria beramor emas muncul, di tangannya pedang besar terangkat dengan baik.


"Jadi kau bernama Cygnus."


"Benar sekali, aku Cygnus yang akan menjadi kaisar di benua ini."


Dia mendecapkan lidahnya.


"Memangnya apa yang bisa dilakukan oleh orang yang mengatasnamakan Black Death."


Aku mendesah pelan lalu mengeluarkan topengku dan menghancurkannya dengan tanganku.


"Identitasku sudah ketahuan, sebaiknya aku tidak perlu menyembunyikan diriku lagi.Tadinya aku lebih ingin menghabisi kalian semua tanpa perlu menunjukkan wajahku."


"Kau terlalu arogan."


Cygnus dan aku saling membenturkan pedang beberapa kali sebelum melompat mundur. Aku sesekali melirik ke arah Anastasia, Naula dan Liz yang harus berhadapan dengan pria yang merupakan jenderal terakhir, orang itu menggunakan pedang rapier.

__ADS_1


"Kemana kau melihat?"


Aku menahan ayunan pedang dari atasku, hingga pijakanku membentuk sebuah retakan.


"Setelah mengalahkanmu, aku akan mengambil kekuatan dari bawah kota itu dan menjadikannya sebagai milikku hingga era kekaisaran Cygnus akan tercipta."


"Sebenarnya apa yang ada di sana?" tanyaku tanpa mendapatkan jawaban.


Aku mendorong pedang besar itu lalu disusul tendangan yang mampu membuat Cygnus mundur.


Dia mengayunkan pedangnya kembali, kupikir aku bisa menangkisnya akan tetapi pedang itu lebih kuat dari sebelumnya.


"Apa kau menyadarinya, pedang ini menyerap mana dari musuhku, saat mana terhisap dari tubuh lawanku sampai mengering maka itu sama saja dengan mereka akan mati."


"Jadi ini kekuatan dari sembilan pedang iblis itu."


Kami kembali membenturkan pedang menghasilkan suara dentingan yang keras, entah tubuhku maupun Cygnus sama-sama terpental ke belakang.


Sebuah tendangan menghantam tubuhku hingga aku berguling-guling di tanah sebagai dampaknya.


"Sepertinya kita akan menggunakan itu Sirius."


"Aku sudah menantikannya master."


Aku menancapkan pedangku dan uap keluar dari pedangnya.


"Knight Mode," bersamaan perkataanku sebuah baju besi hitam telah membungkusku seutuhnya dengan dua tanduk di bagian kepalanya.


"Bukannya aku malah lebih mirip raja iblis."

__ADS_1


"Mana mungkin, master terlihat keren."


"Biarlah, yang harus kulakukan sekarang mengalahkannya saja," kataku mengacungkan pedang.


__ADS_2