
Pemuda di depanku memiliki tinggi sedikit lebih pendek dariku serta penampilannya seperti wanita.
"Jika tidak salah kau yang memanggil capung tadi."
Mendengar perkataanku si pemuda itu tersenyum macam sementara Berlina tertawa.
"Capung tidak mungkin bisa digunakan untuk bertarung, kau pasti mati."
Dia memang iblis.
"Tolong bantu aku, aku sudah bosan diremehkan banyak orang, aku ingin semakin kuat."
"Namamu Arnold kan."
"Benar."
Aku mengalihkan pandanganku ke arah Berlina.
"Menurutmu bagaimana."
"Hmm... jumlah mananya sangat kecil, kupikir dia harus memiliki pelatihan khusus dulu untuk meningkatan jumlah mananya, dalam beberapa minggu aku bisa melatihnya dengan keras hingga dia bisa memanggil iblis tingkat atas."
"Kalau begitu lakukan."
"Yap, dengan senang hati... sekarang bocah bersiaplah untuk menerima pelatihan keras dariku."
"Hiii..."
Aku hanya melihat kepergian keduanya sebelum seorang duduk di kursi di sebelahku dengan menghilangkan keberadaannya seutuhnya.
"Kupikir ada iblis yang menyerang kota ini, ternyata ulahmu Aksa."
"Raja iblis sudah dikalahkan, tidak ada hal seperti itu yang akan terjadi."
"Waspada tidak ada salahnya kan."
Yang duduk di sana adalah Meliana.
__ADS_1
"Dibanding masa lalu sihir sekarang lebih berkembang, kupikir ke depannya sihir akan terus berkembang."
"Mungkin aku juga akan setuju dengan itu, jadi pelajaran seperti apa yang dilakukan akademi?"
"Hanya sihir dasar untuk tahun pertama, aku harap aku mendapatkan satu siswa seperti Aksa yang tiba-tiba melampaui gurunya lalu memiliki kisah komedi bersamanya."
Aku tersenyum masam sebagai balasan.
"Semoga beruntung kalau begitu."
"Aku masih banyak pekerjaan, sampai nanti."
Meliana menghilang sementara aku memutuskan untuk sedikit berjalan-jalan sampai aku menemukan seorang yang sedang membeli es krim di sudut taman, dari tempatku berdiri hanya tampak rambut hitam panjangnya yang menutupi seluruh punggungnya, ia mengenakan pakaian pendeta dan saat aku memanggilnya dengan nama Union dia berbalik dengan eskrim di ujung bibirnya.
"Ah, Aksa... kau menemukanku?"
"Harusnya kau yang menemukanku bukan."
"Cobalah rasanya manis."
"Tak masalah."
Dia malam mendorong ke wajahku dengan seringai mesum di wajahnya, ia adalah seseorang yang bisa dipercaya terlepas dari sikap dan penampilannya.
"Aku akan membeli satu yang baru lagi," katanya pada si penjual.
Sungguh orang ini malah memberikan sisa padaku, aku bertanya.
"Apa ini soal makhluk bencana?"
"Aku datang memang karena itu, tapi bisakah kau sedikit bersantai.. aku baru tiba dan aku ingin merasakan bagaimana keadaan kota ini."
Aku mendesah pelan, dia pasti ingin aku mengajaknya berkeliling atau sebagainya. Karena luang aku melakukannya dan mengobrol di atas jembatan yang menghubungkan sungai kecil berarus tenang.
Aku berdiri di sampingnya sementara dia duduk di depanku selagi melipat kakinya.
"Kau terobsesi dengan pahaku."
__ADS_1
"Tidak sama sekali."
"Berarti kau tidak normal."
"Berhentilah menggoda, jadi informasi apa yang bisa aku berikan padaku?"
"Ah benar, aku melupakannya."
Union membuka lengannya dan sebuah buku tercipta di tangannya, awalnya dia juga ingin memberikanku sebuah buku namun aku menolaknya dan menyalin seluruh isinya ke dalam ponselku. Jika dikatakan ponselku sama dengan sebuah Grimore sekarang.
Ia membuka beberapa halaman lalu berkata.
"Dalam tiga hari kura-kura raksasa akan muncul di kota pelabuhan Belfast dan meratakan semuanya, kurasa kau harus cepat ke sana."
Tiga hari adalah waktu yang singkat, tapi mau bagaimana lagi kekuatan Union juga memiliki batasannya sendiri.
"Aku akan pergi sekarang juga."
"Begitu."
"Benar juga, jika kau menyukai kota ini kau bisa tinggal selama yang kau mau."
"Aku sih mau tapi..." dia mengalihkan pandangannya ke samping lalu melanjutkan.
"Aku tidak memiliki uang."
"Kalau itu bukan masalah, kau bisa meminta berapapun padaku namun jangan terlalu boros."
Sekantong koin emas muncul di tanganku yang berisi sebanyak 1000 koin yang mana kuberikan pada Union.
"Ini, kau bisa membuat uang dengan sebuah sihir?"
"Itu bukan hal sulit bagiku."
"Yos, aku putuskan akan membelanjakannya dengan boros."
Dia sama sekali tidak mendengarku.
__ADS_1