Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 150 : Desa Dengan Sepuluh Kincir Angin


__ADS_3

Dalam perjalanan selanjutnya, agar tidak mencolok aku menghilangkan kendaraannya dan memutuskan untuk berjalan kaki, di atas perbukitan ada sebuah desa yang tersembunyi dan menjadi lokasi wisata yang kebanyakan orang kunjungi.


Sebelum itu.


Aku mengeluarkan bola kecil yang kutemukan di kota sebelumnya lalu menghancurkannya dengan tanganku.


"Kenapa tuan Aksa menghancurkannya?'


"Tadinya aku sempat ragu untuk merusaknya namun setelah kupikirkan aku lebih baik melakukannya, benda ini sepertinya ditunjukan untuk menyulut api peperangan."


"Jika dipikirkan mungkin memang benar, orang-orang yang mengetahuinya mulai berebut benda ini, yah... dari awal Frena sedikit membenci manusia," perkataan Naula hanya memperkuat apa yang kupikirkan.


Untuk sekarang mari abaikan itu dan coba mencari penginapan di desa ini untuk kami pakai beristirahat.


Sirius berjalan di depan selagi memutar-mutar dirinya dengan senang, tingkah lakunya memang seperti anak kecil pada umumnya, seharusnya dia sadar bahwa tubuhnya sangat bagus hingga orang-orang tidak bosan untuk melihatnya.


Aku bertanya kepada salah satu wanita yang sedang berkebun di dekat rumahnya, dia dengan senang menunjukkan tempat dimana kami bisa menyewa penginapan, semuanya tampak damai di sini terlebih sekeliling desa juga didirikan sepuluh kincir angin yang besar.


Ini adalah wilayah kerajaan Cygnus yang akan mulai menghilang, desa ini juga harus berdiri sendiri mulai sekarang. Sesudah membayar biaya penginapan aku melempar tubuhku jatuh ke atas ranjang, Sirius melompat ke arah perutku, di tambah Liz dan Naula, itu membuatku semakin parah.


"...Ugh, kalian tidak perlu melakukan ini, aku tidak bisa bernafas."


"Ini agar kita semakin dekat master," perkataan Sirius sangat tidak bertanggung jawab.

__ADS_1


Aku harus membuat surat kembali karena itu aku meminta ketiganya mandi lebih dulu sementara aku duduk di kursi untuk menulis, saat melihat keluar jendela, beberapa orang terlihat gelisah, karena penasaran aku turun untuk menanyakan apa yang terjadi.


"Ada masalah apa ini?" kataku hingga semua orang beralih menatapku.


"Para bandit mulai bermunculan dan merampok desa-desa kecil yang mereka lalui, hanya sampai waktu hingga desa ini juga akan berakhir."


"Bukannya kalian bisa menyewa para petualang atau penjaga?"


"Para bandit lebih banyak dibandingkan para petualang di wilayah ini, lagipula kami tidak mungkin menyewa semuanya."


"Jangan khawatir biar aku saja yang melindungi desa kalian."


Suara itu bukan berasal dariku melainkan dari seorang pria berotot dengan pedang di punggungnya serta rokok dimulut, beberapa orang turut berada di belakangnya.


"Tentu kalian harus membayarku serta bawahanku juga."


"Tak masalah, kami menerima apapun sebagai bayaran seperti hasil panen ataupun barang berharga kalian."


"Soal itu.."


Aku memotong.


"Bukannya kau juga malah sama saja dengan para perampok itu."

__ADS_1


"Hah."


Pria kasar itu mendekat ke arahku lalu mencengkeram kerahku hingga kami saling bertatap muka.


"Apa yang kau katakan? Kami juga perlu uang untuk hidup dan ini pekerjaan kami."


Dia melepaskan kerahku dengan kasar.


"Kurasa desa ini tidak memerlukan kalian, aku juga sudah cukup melindunginya."


"Memangnya kau pikir kau siapa, walau kau petualang atau semacamnya ini adalah wilayah pekerjaan kami."


Pria itu menghisap rokoknya lalu menimpakan asapnya ke arahku. Aku berusaha mengabaikannya untuk beralih ke orang-orang.


"Aku sangat kuat, karena itu kalian tidak perlu berharap pada mereka."


"Kau ini kurang ajar sekali, hanya bocah sepertimu apa yang bisa kau lakukan?"


Di saat para penduduk kebingungan aku melanjutkan.


"Jangan khawatir aku tidak memungut biaya sedikitpun."


Orang-orang akhirnya memutuskan untuk memilihku hingga si pria itu mendecapkan lidahnya sebelum membalikkan punggungnya.

__ADS_1


"Terserahlah, jika kalian mau mati... aku tidak peduli."


Aku hanya bisa melihat kepergian mereka dari kejauhan.


__ADS_2