Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 32 : Leluhur Vampir


__ADS_3

"Bagaimana menurut guru? aku mengalihkan pertanyaan tersebut padanya.


"Tidak salah lagi itu adalah iblis kabut, aku baru saja mengingatnya.... iblis itu menyelimuti dirinya menggunakan kabut lalu menyerang orang sebagai makanan."


"Dengan kata lain mereka sudah mati."


"Um."


Si kakek hanya bisa mendesah pelan lalu berkata ke arahku.


"Maukah kau merawat Alyssa untukku?"


Yang dimaksud si kakek yaitu gadis kecil yang bersamanya, walau sekilas aku tahu mereka bukanlah keluarga sesungguhnya.


Alyssa memiliki rambut hitam yang dibiarkan terurai begitu saja, matanya berwarna merah ruby serta kulit seputih porselen. Aku berlutut di dekatnya.


"Alyssa tolong buka mulutmu?"


Dia sempat melirik ke arah kakeknya lalu segera membuka mulutnya sesuai permintaanku, tampak sepasang taring di antara giginya.


"Sejak kapan kau minum darah?" tanyaku demikian.


"Beberapa bulan terakhir ini, aku hanya minum darah hewan."


"Kau memaksakan diri kan?"


"Vampir sepertimu memiliki darah leluhur, akan sulit jika tidak meminum darah.. hisaplah darahku."

__ADS_1


"Tapi?"


"Jangan khawatir, golongan darahku O."


Tanpa menunggu lagi Alyssa melompat ke arahku lalu menancapkan taringnya di leherku, aku bisa mendengar suara tegukan darinya sementara aku membelai rambut hitamnya lembut.


Bagi vampir yang memiliki darah leluhur mereka tidak bisa meminum darah sembarangan yang mana membuat sedikit fungsi organ di dalam tubuhnya bermasalah, hal itu juga berlaku saat mereka tidak meminum darah.


"Tak apa, kau bisa minum lebih banyak dari biasanya," kataku ringan.


Nona Heliet berkata ke arah si kakek.


"Kau cukup baik mau membesarkan seorang vampir."


"Bagiku dia sudah kuanggap seperti cucuku sendiri, saat aku menemukannya di gunung aku sudah tidak bisa membiarkannya begitu saja.. akan tetapi aku sudah tua dan umurku tidak akan panjang lagi... aku takut suatu hari nanti dia akan kesepian, jadi aku mohon rawatlah untukku."


"Entahlah, aku merasa bahwa kalian bisa menjaganya."


Nona Heliet mendesah pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.


"Bagaimana menurutmu Aksa?"


"Aku tidak keberatan untuk merawatnya, hanya saja Alyssa mungkin akan sedih harus berpisah denganmu."


Alyssa yang telah menghisap darahku mengangguk mengiyakan, dia adalah gadis yang sulit menunjukkan ekspresinya jadi sikapnya terlihat datar.


"Kakek, aku tidak ingin pergi."

__ADS_1


"Kau harus pergi, ini demi kebaikanmu serta kebaikan kakek juga.. lagipula kakek akan pergi ke kampung halaman sekarang."


Mendengar hal itu aku sudah bisa menduga apa yang terjadi.


Aku memegangi bahu Alyssa lalu berkata lembut padanya.


"Dengar Alyssa, alasan kenapa kakekmu memilih tetap tinggal di sini dan menghabiskan waktunya bersamamu karena dia tidak mempunyai pilihan lain, kau adalah vampir, seseorang yang ditakuti oleh manusia.. jika orang-orang melihatmu mereka akan mengusirmu."


"Mustahil."


"Maaf mengatakan ini, tapi sudah waktunya kalian berdua berpisah."


Air mata menetes di wajah cantik Alyssa, sampai dia merasa baikan kami baru akan melanjutkan perjalanan ini.


Pada siang harinya aku bersama guruku berada di pinggir tebing danau dengan pancingan di tangan kami.


"Ini pertama kalinya aku dengar seseorang bisa memancing belut dengan ini, bagaimana menurutmu Alyssa?"


"Aku tidak tahu, biasanya tidak ada orang yang menangkap Morea di danau ini."


"Begitukah."


Aku mengelus kepala Alyssa yang duduk di pangkuanku, sementara orang yang memiliki ide ini tersenyum puas selagi memamerkan otot lengannya.


"Lihat saja, akan kuperlihatkan bagaimana aku menangkap mereka."


"Aku takut malah guru yang terseret nantinya," balasku lemas.

__ADS_1


__ADS_2