
Kami berdua tiba di sebuah gerbang tinggi yang sudah berkarat serta tumbuhan Ivy yang menjalar di bagian atasnya.
Di belakang gerbang ini tampak halaman yang luas yang sama sekali tak terurus dan di belakangnya lagi sebuah bangunan besar masion dengan dua lantai yang megah.
Berbeda dengan bagian luarnya masion itu terlihat lebih baik dibanding semuanya seolah seseorang menjaganya dengan baik.
Tempat ini adalah sebuah tempat yang dijauhi banyak orang.
Aku membuka gerbang tersebut hingga terdengar decitan dari besi berkarat. Untuk Lulu sendiri dia hanya terus menempel padaku lalu terus mengikuti langkahku.
Di tengah halaman luas itu ada pancuran yang telah rusak dengan patung wanita berdiri di tengahnya.
"Patung ini?"
"Ini patung pemilik masion," balas Lulu.
"Dia pasti menyukai dirinya sendiri.'
Saat aku menyentuhnya patung itu hancur.
"A-apa yang kau lakukan Aksa? Kau baru menghancurkan patungnya, dia pasti marah."
"Aku tidak melakukan apapun."
Kami berdua terus berjalan ke bagian pintu depan lalu membukanya tanpa ragu.
Di dalamnya terlihat sangat gelap jadi kuputuskan untuk membuka tirai dan kemudian berteriak.
"Hantu, hantu keluarlah."
"Jangan memanggilnya?" kata Lulu.
"Yah, alasan kita ke sini untuk menemuinya."
"Hantu."
Tak lama kemudian sebuah suara menyahutku.
"Sebentar."
Wajah Lulu memucat.
__ADS_1
"Nah Lulu, kau barusan mendengarnya."
"Sangat jelas... aku yakin tidak ada siapapun orang di sini."
"Siapa yah?"
Kami berdua mengarahkan pandangan ke atas sebuah tangga dan kutemukan seorang wanita yang kuhancurkan telah berjalan turun. Maksudku patungnya.
"Apa yang kalian butuhkan dariku?"
"Dia muncul."
Wanita itu memiliki rambut pirang dengan sentuhan ujungnya berbentuk spiral, singkatnya dia mirip seorang bangsawan pada umumnya.
"Kau hantu yang menempati rumah ini?" kataku demikian.
"Tidak sopan, ini rumahku... aku memang sudah meninggal 30 tahun lalu karena sakit."
"Melihat Anda masih ada di dunia ini, membuat semua orang takut."
Hantu itu terlihat sangat sedih.
"Sejak dulu ketika aku masih hidup aku selalu sendirian, aku mencoba mengundang seseorang untuk mampir tapi mereka terus saja melarikan diri. Karena itu aku setiap malamnya menangis," katanya demikian.
"Jelas saja mereka takut, aku berniat untuk tinggal di sini kalau tidak keberatan."
"Kau mau?"
"Tentu saja, rumah sebesar ini sayang kalau di biarkan kosong."
"Aku sangat senang jika kau mau melakukannya."
"Ngomong-ngomong siapa namamu?" aku balik bertanya.
"Noela."
"Namaku Aksa, dan ini Lulu."
"Halo."
"Halo juga."
__ADS_1
"Kuharap kita bisa akur ke depannya."
"Um."
Dia menangis.
Hantu ini ternyata lebih cengeng dari yang kami duga.
Setelah berbelanja di pasar aku dan Lulu pergi ke toko, seperti yang kujanjikan padanya dia akan ikut makan malam bersama kami.
Guruku tampak terkejut saat aku muncul bersama Lulu.
"Aksa selingkuh."
"Bukan begitu juga.'
"Benar, Aksa sudah merasa bosan denganmu dan ia memilihku sebagai pelampiasan yang baru."
"Kau tidak bisa melakukannya, aku menolaknya."
Keduanya saling menarik tanganku sementara Alyssa dan ketiga petualang dari Animalia hanya menonton tanpa mengatakan apapun.
Jika dilihat sekilas pertengkaran ini terlihat seperti Chihuahua melawan kucing oranye.
Di meja makan itu aku menjelaskan hal ini pada mereka semua, tentang masion, hantu serta apa yang akan kita lakukan ke depannya.
Alyssa yang terlihat bersemangat.
"Jadi kita akan pergi ke rumah yang lebih besar dan nyaman."
"Maaf saja kalau rumahku sangat kecil."
"Guru tenanglah... kita tidak akan meninggalkan rumah ini lagipula ini tetap menjadi tempat bisnis kita, aku hanya ingin guru bisa lebih bersantai dan tinggal di tempat yang lebih luas."
"Kau pasti berniat mencari Harem kan?"
Percuma saja, sulit untuk menjelaskan padanya, meski begitu guruku akhirnya sepakat.
"Aku setuju saja, asalkan Lulu tidak tinggal di sana."
"Maaf saja tapi aku juga berhak tinggal di masion itu, benar kan Aksa?"
__ADS_1
"Tunggu, tidak ada kesepakatan seperti itu."
Lulu hanya menjulurkan lidahnya kepadaku.