
Tidak baik adalah situasi yang dapat kami terima sekarang.
Dengan jumlah monster yang dikendalikan kura-kura ini semakin banyak, aku tanpa ragu akan mengatakan bahwa ini adalah bencana.
Jadi ini alasan kenapa penyihir kegelapan menamai mereka dengan makhluk bencana. Di permukaan laut yang membeku ikan-ikan yang diselimuti bayangan mulai melompat ke udara lalu terbang dengan jumlah besar.
Itu seperti melihat kerumunan ikan yang tak terkendali yang berenang bebas.
"Jangan bilang..."
Aku segera berkata ke tiga anggota partyku untuk menyerahkan semua ini padaku dan Nene dan bergegas bergerak ke arah kota untuk membantu yang lainnya, tanpa mengajukan pertanyaan mereka langsung menyetujuinya dan lalu bergerak cepat.
Nene tersenyum selagi mengayunkan pedangnya yang menciptakan beberapa bilah angin di waktu bersamaan, tubuh ikan dan kumbang terpotong menjadi jumlah yang mengagumkan.
"Kau menyadarinya juga Aksa."
"Kura-kura ini, menciptakan monster dengan hanya keberadaannya."
"Ah, makhluk bencana pada dasarnya diciptakan untuk pemusnahan seluruh ras yang ada di dunia ini."
__ADS_1
Nene adalah orang yang cukup dekat dengan keberadaan penyihir kegelapan maka dari itu tidak heran jika dia sudah tahu ini sejak awal.
"Biar aku simpulkan bahwa penyihir kegelapan, ingin membuat ulang dunia ini dengan caranya sendiri."
"Itu benar... dia akan membunuh setiap ras kemudian hanya menyisakan beberapa wanita di dekatnya yang nantinya dijadikan sebagai ternak untuk melahirkan anak-anaknya.. itulah tujuannya sebenarnya."
Dia benar-benar nekat, dia ingin mencoba menjadi seorang yang menciptakan peradaban baru.
Aku menembakan peluru dari pistol di tanganku untuk melukai beberapa ikan terbang, sementara aku dan Nene berurusan dengan ini, kura-kura hanya diam seperti sedang menunggu sesuatu.
Apa yang dia coba lakukan? Aku bertanya-tanya akan hal itu sampai seekor paus raksasa terbang dari samping hendak menelanku ke dalam mulutnya, aku hendak bergerak namun Nene lebih dulu melompat di atasnya menancapkan pedangnya selagi dia berlari di punggungnya.
"Aku tidak ingin kau mati cepat, paling tidak aku yang akan membunuhmu."
Aku jelas bisa membaca apa yang sebenarnya dia inginkan, alih-alih membunuhku dia sebenarnya ingin dibunuh.
Detailnya bisa aku tanyakan nanti, kura-kura membuka mulutnya dan dari sana sebuah energi mirip bayangan terkumpul menjadi satu, perlahan ukurannya membesar seiring waktu.
"Dia mengambil energi dari makhluk-makhluk yang dikendalikannya, di tambah dengan energinya kekuatannya jelas bisa menghancurkan satu negara dengan mudah."
__ADS_1
Nene baru saja mengatakan hal berbahaya di sini.
Menggunakan kemampuan biasa tidak akan bisa berguna di sini jadi aku mengalihkan tanggung jawab pada Nene.
"Apa kau bisa melakukan sesuatu pada itu?"
"Bisa, hanya saja mungkin hanya sebatas memantulkannya ke tempat lain sementara ledakan masih akan terjadi."
Dengan kata lain bagaimana hasilnya akan ada satu wilayah yang akan menjadi korbannya, bahkan jika memindahkan dengan sihirku ke tengah laut akan menghancurkan kota-kota di pesisir pantai dengan sebuah gelombang raksasa.
Aku mungkin mempunyai pilihan di telapak tanganku.
Mari gunakan semua pilihanku hanya untuk menelan serangan tersebut. Aku menghubungi Berlina yang sedang ada di akademi dengan telepatiku.
[Tuan menghubungiku... iblis yang cantik ini siap merangkak ke tempat tidurmu untuk memuaskanmu]
[Simpan candaanmu itu, apa kau bisa datang kemari, mari gunakan kekuatanmu sekarang]
[Tuan padahal kuat, apa anda sedang mencoba menyembunyikan sihir penciptaan]
__ADS_1
Iblis memang mengerikan, mereka bisa melihat apapun sangat dalam.