Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 155 : Labina Dan Marine


__ADS_3

Meski enggan melakukannya, sepertinya aku tak bisa keluar dari situasi ini, aku dibawa ke sebuah bangunan mirip katedral suci dimana di depannya tertera patung Dewi Nermala.


Aku sudah membelikan berbagai banyak makanan untuk semua anak-anak yang tinggal namun sebelum aku makan, aku ditarik oleh orang bernama Marine ke kamar pribadinya.


Dia memberikanku sebuah papan kayu sebelum akhirnya membungkuk dengan kepala ke bawah sementara pantat terangkat ke atas.


"Kau tidak ingin melakukannya, cepat pukul aku.. Hora, aku sangat bersemangat loh."


Orang ini benar-benar gawat.


"Jika kau tidak melakukannya, aku tidak akan mengatakan apapun soal kerajaan."


"Bukan ini kesepakatannya."


"Bukannya ini yang kita akan lakukan, aku ini budakmu kan? Cepatlah, sebelum pendeta lain menemukan kita."


Kurasa aku telah masuk ke jalan yang salah.


Aku memukul pantat Marine seperti yang dia inginkan, dan dia berteriak menikmatinya.


"Lebih keras lagi."


Setiap pukulanku menjadi kesenangan baginya, dan entah kenapa aku mulai merinding sekarang.


Aku mungkin sudah bukan manusia lagi karena sedikit menikmatinya juga, aku membuang kayu itu lalu duduk di atas tempat tidur dengan wajah merenung. Sudah terlambat untuk kembali ke jalan yang benar.


Marine yang sebelumnya sangat puas membetulkan posisinya lalu duduk di depanku setelah menarik kursi ke sana.

__ADS_1


"Darimana aku harus cerita?"


"Dari mana saja," kataku singkat.


"Seperti yang semua orang tahu, kerajaan ini telah berperang satu sama lain, yang mana hal itu juga berdampak pada penduduknya, demi membangun kekaisaran semua raja atau ratu berlomba-lomba beraliansi untuk menghancurkan kerajaan lain dan mencuri wilayah mereka, dan semua itu sepenuhnya adalah gagasan raja dari kerajaan Aries."


"Begitu, aku sempat menduganya... sepertinya dia orang yang sangat serakah dengan jabatan, uang dan wanita."


"Seperti itulah, lalu anak-anak yang tinggal di sini merupakan korban darinya, setiap bulannya setiap kota harus menawarkan wanita padanya dan saat itu terjadi mereka sudah dinyatakan tidak akan kembali."


"Apa ini juga berlaku untuk kota lainnya?"


"Benar, dia sangatlah kuat apalagi di dukung dengan keberadaan Dewi Naga Frena."


Ini bukan sesuatu yang tidak kupikirkan sejak awal tapi mendengarnya langsung, masih membuatku terkejut.


Marine beranjak dari kursinya lalu mendorongku ke ranjang, ia memutar-mutarkan tangannya di antara pahaku.


"Lalu kenapa dia menghalangiku?"


"Dia hanya tidak tahu saja, dia khawatir bahwa Black Death akan membunuh semua orang di sini."


Aku menghentikan tangan Marine.


"Kurasa kau tidak bisa melakukan lebih dari ini."


"Kenapa? Kita sama-sama orang dewasa."

__ADS_1


Aku melemparkannya ke samping.


"Sebaiknya aku harus pergi sekarang."


"Kau mau pergi sekarang? Kau harus berisitirahat semalam dulu."


Aku menciptakan senjata api saat seseorang membuka pintu.


Yang berada di balik itu adalah Labina.


"Maaf soal tadi, tapi jika kau ingin menghancurkan kerajaan ini, tolong libatkan aku juga."


"Apa kau tahu apa yang sedang kau katakan itu?"


"Tentu saja, kerajaan ini telah banyak merenggut kebahagiaan orang lain."


Aku tidak tahu apa yang dia pikirkan, tapi jika dia membohongiku aku juga tidak segan untuk membunuhnya.


"Aku mengerti."


"Kalau begitu aku juga ikut, kata Dewi Nermala aku harus mengikutimu kemanapun pergi."


Aku menghilangkan senjataku lalu menindih Marine di atas ranjang hingga Labina menutupi matanya.


"Awawa, kalian ingin melakukan hubungan seperti itu, setidaknya lakukan sampai aku pergi dari sini."


Aku menatap tajam ke arah Marine yang terengah-engah dalam fantasinya. Tiga kata yang keluar dari mulutku akan menegaskannya.

__ADS_1


"Kau Dewi Jahat."


"Sesuai yang diharapkan dari utusan Dewi Nermala, kau sangat hebat."


__ADS_2