Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 87 : Identitas Sesungguhnya


__ADS_3

"Boleh aku memesan sekarang? Lagipula aku tidak akan meniru cafe ini, aku merasa kasihan kepada para karyawanku jika harus kedinginan."


"Kau?"


Wanita itu membuang nafas dalam-dalam lalu beralih ke arah si pelayan di sampingnya.


"Berikan apa yang dia mau."


"Baik nyonya."


"Aku hanya pesan teh, Sirius kau mau makan apa?"


"Aku pesan semua yang ada di menu, apa boleh?"


"Tentu saja."


"Semuanya, kau pasti ber.."


Aku mengeluarkan sekantong koin yang kuberikan langsung pada si pelayan, ini hanya uang tip aku akan membayar lagi soal makanannya.


"Ba-baik."


Si wanita pemilik duduk di depanku.


"Aku akan mengawasimu."


Aku melirik ke arah Kazel namun dia sudah menghilang dan kulihat secarik kertas di tinggalkan begitu saja di piringnya.


[Aku tidak ingin terlibat masalah, aku pergi]


Dia melarikan diri.


Semua makanan di taruh di meja dan seketika makanan itu berakhir di perut Sirius.

__ADS_1


"Tolong tambah lagi," teriak Sirius.


Dia sudah memakan makanan untuk jatah 30 orang, membuat semua orang menggelengkan kepala termasuk wanita di depanku yang hanya bisa memegangi kepalanya.


Aku berkata ke arahnya setelah menghabiskan tehku.


"Anggap saja ini kompensasi karena kami tiba-tiba saja membuat cafe di dekat tempat usahamu."


"Aku lebih suka jika kalian pindah ke tempat lain."


"Itu jelas mustahil, aku merasa kasihan pada karyawanku jika mereka kehilangan pekerjaannya di sini, kebanyakan orang yang tinggal di sini memiliki kenangan buruk di dunia luar aku harap kita bisa akrab satu sama lain tanpa ada persaingan."


"Sepertinya begitu."


"Soal pelayanmu lebih baik beri mereka pakaian yang lebih layak, aku benar-benar tidak tahu harus melihat kemana."


"Master mesum."


"Kau makan saja jangan banyak bicara," atas pernyataanku Sirius hanya menganggukkan kepalanya dengan senang.


Dia akan pergi ke belakang penginapan untuk berlatih di sana.


Sirius yang sudah kekenyangan tertidur di pangkuanku sementara aku memperhatikan Vivia yang sedang berlatih menggunakan sihir. Semakin sering sihir digunakan maka semakin lama seseorang bisa menggunakannya.


Walau Vivia salah satu murid Meliana dia lebih sering menggunakan pedangnya dibandingkan sihir miliknya.


"Fire."


Api membakar orang-orang jerami tepat sasaran.


"Sampai kapan kau akan terus melihatku?"


"Tubuhmu sangat indah, kurasa aku akan terus melihatnya."

__ADS_1


Sebuah bilah pedang telah berada di dekat leherku.


"Jawaban yang bagus," balas Vivia menyarungkan pedangnya lalu duduk di sampingku selagi mengelap keringat yang jatuh di pipinya.


Aku mengusap rambut Sirius yang tertidur lelap.


"Ngomong-ngomong siapa sebenarnya gadis ini? Astral Blade bukanlah sesuatu yang kau karang sendiri."


"Kau menyadarinya?'


"Mudah bagi seseorang mengetahuinya jika kau hidup ratusan tahun, energi miliknya sangat berbeda."


"Sirius bukanlah roh melainkan salah satu dewi jahat."


"Kau serius?"


Aku mengangguk mengiyakan.


"Ini tidak masuk akal, hanya Oracle saja yang bisa membangkitkan Dewa jahat, apa ini ulahmu?"


"Tidak, saat di benua barat... dua orang yang kukenal membangkitkannya."


Vivia berdiri lalu mengarahkan ujung pedangnya di dekat Sirius.


"Dia mungkin akan berbuat jahat di masa depan, aku akan membunuhnya."


Sirius membuka matanya lalu berkata dengan wajah datar.


"Jangan khawatir Vivia, aku sudah tidak ingin menghancurkan dunia ini. Yang kuinginkan hanya hidup seperti ini bersama masterku."


"Mana mungkin aku percaya."


"Kau tidak harus percaya, master aku mau tidur di tempat lain, tolong bawa aku."

__ADS_1


"Baik, baik."


__ADS_2