
Di keramaian kota itu Tiffany menuntun Nicol di belakangnya menuju sebuah cafe makanan manis.
"Bukannya kita ingin mencari tempat penginapan untukmu nona Tiffany."
"Aku ingin makan yang manis dulu, kita bisa lakukan nanti," mendengar itu Nicol hanya menghela nafas panjang sebelum akhirnya tangannya ditarik masuk ke dalam.
Bagi Nicol ini hanyalah buang-buang waktu, terlebih dia ingin sesegera mungkin kembali ke tuannya.
Keduanya memilih meja di sudut ruangan dekat jendela yang mana menjadi tempat favorit kebanyakan orang.
"Tolong pesan kue ini, ini dan ini, lalu Nicol apa yang kau inginkan? aku yang traktir jadi pesanlah yang kau inginkan... Lihat ini kue yang dibentuk seperti istana."
"Kalau begitu aku pesan itu."
Tiffany menahan tawa selagi menutupi mulutnya dengan tangan, dan itu cukup menyebalkan bagi Nicol.
"Sudah kuduga kau masih anak-anak."
"Aku sudah dewasa."
"Tolong siapkan yang barusan," kata Tiffany pada sang pelayan hingga ia membungkukkan badannya sebelum akhirnya pergi.
Tak perlu waktu lama pesanan keduanya telah dihidangkan di meja, Nicol mengambil sendok kue dengan mata mengkilap.
"Selamat makan."
__ADS_1
Melihat tingkah lakunya Tiffany hanya tersenyum lembut ke arahnya lalu memakan pesanan miliknya.
Pelayan juga tak lupa untuk meletakan teh di dekat Tiffany.
"Oh yah, aku ingin membuat penginapan, apa kau tahu tempat yang akan dijual di sekitar sini?" pelayan itu diam seolah menelusuri ingatannya.
"Kebanyakan bisnis di ibukota sangat menjanjikan, aku pikir akan sulit menemukannya."
"Begitu."
Si pelayan sedikit berkata dengan keras.
"Ah benar, aku baru ingat di depan sana ada sebuah penginapan kosong yang sudah di tinggalkan pemiliknya kudengar tempat itu mau dijual tapi sayangnya semua orang mengatakan tempatnya berhantu."
"Apa gara-gara hantu tempat itu jadi sepi dan bangkrut."
Nicol yang sebelumnya asyik dengan kue miliknya langsung menatap ke arah Tiffany dengan wajah bermasalah.
"Jangan berfikir untuk datang ke tempat seperti itu, tidak boleh."
"Kenapa? Tempat itu pasti sangat menjanjikan, benar kan?"
"Soal itu aku juga tidak tahu."
Pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan pelanggan lainnya, baru setelah membayar, Tiffany dan Nicol mengunjungi tempat yang dimaksud.
__ADS_1
Bangunannya sendiri terbuat dari kayu dan papan, meski begitu semuanya tampak kokoh, setiap kaki Tiffany melangkah itu membuat suara decitan seakan papan itu akan roboh kapanpun.
"Maaf, dadaku terlalu besar."
Nicol menatap dengan pandangan bermasalah selagi mengecek dada miliknya.
"Tenanglah diriku, aku masih dalam pertumbuhan," ucap Nicol dengan suara pelan.
"Tempatnya memang buruk, hanya sedikit perubahan aku yakin akan jauh lebih baik."
Nicol tidak tahu harus mengatakannya apa, pada dasarnya setiap atapnya terlihat berlubang serta lantainya penuh dengan debu, adapun yang bisa disebut bagus hanyalah dua kolam air panas yang terlihat masih terjaga dengan baik.
Asap dari kolam mengepul ke udara bersamaan udara hangat yang terasa nyaman di tubuh, tanpa menunggu lagi Tiffany melepaskan seluruh pakaiannya lalu melemparkan dirinya masuk ke dalam kolam.
"Ini sangat nyaman, Nicol coba juga?"
"Tidak mau, bagaimana kalau air kolamnya beracun?"
"Tidak ada hal seperti itu di sini, marilah bergabung dan nikmati ini bersama."
Bukannya menjawabnya Nicol memasang wajah pucat selagi menunjuk ke arah Tiffany.
"Ada apa? Jangan bilang ada hantu atau semacamnya di belakangku."
"Memang ada."
__ADS_1
Ketika Tiffany berbalik ia menemukan wanita melayang di sana dengan tubuh telanjang.