Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 72 : Menara Altima


__ADS_3

Di dalam sebuah cafe itu aku menceritakan banyak hal pada Vivia, berbanding terbalik dengan apa yang kusembunyikan pada guruku, aku mengatakan semua kebenaran pada Vivia.


Aku mengangkat tanganku hingga kumunculkan sebuah buku jurnal milik Meliana yang kudapatkan dari seekor rubah di pulau langit. Vivia awalnya meragukan semua hal yang kuceritakan akan tetapi wajahnya tampak terkejut saat membaca seluruh isinya.


Berbanding dengannya, Sirius yang duduk di sampingku seolah tak peduli dan menikmati makanan manis yang dia pesan.


"Kenapa kau menceritakan ini semua padaku? Apa mungkin kau berniat untuk memintaku membantumu ke menara Altima."


Menara Altima adalah menara yang selalu kulihat setiap harinya, di mana bangunannya sendiri mencapai 1000 lantai dan merupakan tempat dimana Dewi Naga Freya berada.


Jika seseorang bisa mencapai lantai terakhir maka apapun yang kau inginkan akan terpenuhi bahkan jika itu menikahinya. Semua orang mengatakan bahwa Dewi itu sangat cantik namun bagiku yang tidak tahu kebenaran hanya bisa melihat naga raksasa yang selalu membentang di atas langit.


Akan lebih baik jika Vivia legal ikut bersamaku juga, aku ingin membawa guruku ke sana hanya saja dengan kondisinya sekarang, itu jelas mustahil.


Atas tanggapan Vivia aku mengangguk mengiyakan lalu melanjutkan.


"Dengan bantuan Sirius, aku pasti bisa menaklukkan lantai tersebut... meski begitu, aku hanya bersiap-siap jika terjadi kemungkinan buruk."


Vivi segera mencengkeram kerahku.


Walau dia cantik sikapnya kasar dan itu adalah sikap sesungguhnya darinya.

__ADS_1


"Jangan bilang kau ingin mengorbankan dirimu."


"Jika itu diperlukan."


"Heliet tidak akan senang jika mendengar hal barusan, baiklah, aku akan ikut... aku tidak ingin kau melakukan hal ceroboh tapi dengar satu syarat, jika kita tidak bisa melanjutkannya aku akan menarikmu keluar dari sana."


Aku mengangguk sebagai jawaban, sebelumnya Vivia telah menantang menara Altima sampai lantai 100, karena itulah membawanya adalah pilihan terbaik.


Vivia melepaskan tangannya kemudian memberikan kembali buku Meliana ke tanganku.


"Kau tidak ingin membawanya?" tanyaku.


"Tidak perlu, bagiku guruku seperti itu dan aku tidak ingin melihat kejelekannya lebih dari yang kuingat."


"Lalu kapan kita berangkat?" Vivia balik bertanya.


"Karena aku baru datang, aku berfikir akan menghabiskan seminggu dulu di sini sebelum berangkat."


"Aku mengerti, aku bisa meminta izin dari tugasku sementara waktu."


"Terima kasih."

__ADS_1


Vivia hanya tersenyum lembut lalu meninggalkanku dan Sirius tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Walau tidak terlihat, Vivia lebih mengkhawatirkan guruku lebih dari siapapun.


"Sirius kita juga harus pergi."


"Baik master."


Ketika aku keluar kulihat sebuah bayangan hitam menutupi permukaan tanah, itu bukanlah berasal dari awan yang mengambang di langit melainkan dari seekor naga raksasa yang sedang terbang.


Terkadang semua orang akan melihatnya seperti itu lalu menghilang di atas menara Altima.


"Luar biasa, naga sebesar itu makannya apa yah, aku yakin bahkan memakan planet bukan hal sulit baginya."


"Alasannya?"


"Ada kekuatan yang menahannya untuk tidak tubuh lebih besar, aku bisa melihatnya," balas Sirius.


Sebenarnya sekuat apa Dewi Naga Freya itu?


Walau kuat sepertinya dia tidak terlalu mencampuri dunia manusia.


Selagi memikirkan itu kami tiba di guild kota ini.

__ADS_1


Lulu melompat ke arahku untuk merangkul tanganku, aku bisa melihat pandangan iri dari semua petualang pria yang berada di sini.


__ADS_2