Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 156 : Jam Kembar


__ADS_3

Pagi berikutnya aku membaringkan tubuhku di sofa selagi melihat anak-anak yang sedang bermain bersama, dengan di dekat mereka maka si super M tidak akan menggangguku, aku bisa melihat Marine bersembunyi di balik pintu selagi menunjukan wajah putus asa, walau begitu dia terlihat menikmatinya dengan nafas berat dan suara menggairahkan.


"Haah.... Haaah.... Haaaah."


Dari semua orang dialah yang paling mengkhawatirkan.


Salah satu pendeta mulai memanggil anak-anak untuk belajar di dalam ruangan, sebelum aku bisa mengikutinya Marine telah di dekatku.


Dia mengambil tanganku dan menjilatinya seperti sebuah permen.


Menakutkan sekali Oi.


Aku sudah beristirahat di sini semalam karena itu mari diam-diam pergi saat ada kesempatan. Ketika semuanya terlihat sepi aku memutuskan untuk keluar dari katedral menuju motor yang sedang terparkir.


Baru aku melewati pintu, di sana Marine dan Labina telah menungguku.


"Kalian berdua."


"Fufu kami tidak akan membiarkanmu pergi sendirian," kata Marine dan Labina membungkukan badannya.


Mereka berdua keras kepala.


Saat aku bergumam demikian, sebuah ledakan terdengar jauh dari tengah kota, kami melirik ke asal suara dan kulihat ular putih yang sebelumnya kulihat di kota kembang bergerak selagi menghancurkan bangunan dan tampak menuju ke arahku.


"Dia Dewi naga Frena, Labina, Marine tolong jaga tempat ini, akan kualihkan dia."


Sebelum hendak pergi tanganku di pegang Marine.

__ADS_1


"Tuan tidak mungkin bisa mengalahkannya, tolong gunakan aku."


"Apa maksudmu," bertepatan saat aku bertanya, Marine berubah menjadi pedang yang mirip dengan Sirius.


Sayap-sayap hitam berjatuhan dari langit.


Aku menengadah ke langit dan kulihat sebuah jam raksasa melayang di sana, berbeda dengan jam Sirius yang berwarna emas dengan sayap putih, jam raksasa itu berwarna hitam dengan sayap hitam.


"Kenapa kau memiliki kekuatan sama seperti Sirius? Maksudku Apolis."


"Karena kami pernah tinggal bersama di panti asuhan Dewi memberikan kekuatan yang sama juga, kalau di bilang kami seperti saudara dekat, dan jam di atas kita sebelumnya berwarna setengah emas dan hitam yang menandakan siang dan malam."


"Dengan kata lain, kaulah yang meracuni Sirius hingga dia dikurung di gerbang kehampaan."


"Aku tidak punya pilihan lain, demi menyelamatkan salah satu kota dan penduduknya, aku harus melakukannya."


Aku naik ke motor lalu melaju ke arah Frena untuk semakin dekat dengannya. Aku melompat dari motor sementara motor terus melaju menabrak tubuhnya hingga meledak.


Frena tampak menjulurkan lidahnya.


Walau disebut naga, bentuknya tidak jauh dari ular.


"Kau akhirnya repot-repot datang kemari untuk menemuiku, apa kau membutuhkan sesuatu?"


Frena merubah dirinya menjadi ke bentuk manusia yang sejujurnya mirip sekali dengan Freya, semuanya terlihat sama dari tubuh kecil, postur serta tatapannya, yang membedakannya hanyalah warna rambut.


Frena memiliki rambut pucat putih.

__ADS_1


"Aku pikir kau akan menghalangi rencanaku, jadi aku akan menghabisimu sebelum hal itu terjadi, dibanding itu aku mencium aroma adikku darimu."


"Aku memang pernah bertemu dengan adikmu sangat lama tapi tak kusangka baunya menempel sampai sekarang."


"Tentu saja, lagipula sepertinya adikku menempelkanmu cairan penting wanita, biarlah... itu tidak penting."


"Tidak, tidak, itu penting, aku belum tahu itu... apa yang dia lakukan padaku saat aku tak sadarkan diri?"


"Aku juga ingin melakukannya," balas Marine dalam wujud pedangnya.


"Kau diam saja."


"Huaaah... menyakitkan sekali, haah.. hah."


Di saat ini dia malah kumat, di sisi lain Frena tidak menjawabku melainkan menantapku dengan pandangan permusuhan lalu melanjutkan.


"Aku berniat ingin menghancurkan manusia dengan manusia lagi, dengan begitu bahkan jika itu adikku dia tidak akan bisa melakukan apapun lagi."


Aku menghela nafas panjang.


"Haaaah, kenapa semua orang selalu berfikir ingin menghancurkan dunia ini, apa tidak ada hal menyenangkan yang pernah kalian alami di dunia ini."


Frena hanya diam tak menjawabnya sementara aku kembali berkata.


"Baiklah, karena aku mengenal adikmu, aku tidak akan membunuhmu, sebaliknya aku akan mengikatmu dengan kontrak budak dan menyeretmu untuk tinggal di dalam menara Altima, jika kau tinggal bersama adikmu kurasa itu akan sedikit membuatmu hidup bahagia."


"Coba saja jika kau bisa."

__ADS_1


__ADS_2