
Malam harinya di pekarangan masion, aku duduk selagi menikmati tehku dalam diam, tak lama kemudian Richard muncul dan duduk di sebelahku.
"Kudengar kau akan pergi ke menara Altima."
"Apa kau mendengarnya dari Vivia?" atas pernyataanku Richard mengangguk mengiyakan.
"Menurut legenda siapa yang bisa mencapai ke lantai atas maka satu permintaannya akan dikabulkan, aku ingin mendapatkan satu permintaan itu untuk guruku."
"Begitukah... jika itu keinginanmu, tolong libatkan aku juga, aku akan membantumu tidak peduli memerlukan berapa tahun aku akan melakukannya."
Melihat dari pandangan Richard aku tahu dia sungguh-sungguh jadi aku hanya mengiyakan dan mengucapkan terima kasih hingga tanpa terasa waktu yang kutunggu telah tiba.
Di depan menara putih yang menjulang tinggi itu, aku, Sirius, Vivia, Richard serta Kazel berdiri di depan pintu masuknya. Awalnya aku tidak berniat mengajak Kazel namun ia terus saja memaksaku hingga akhirnya aku menyerah dan membiarkannya begitu juga.
Untuk Nicol dan nona Heliet, keduanya berdiri di belakang bersama kereta yang mengantarkan kami kemari.
"Harusnya aku juga ikut?"
"Menara ini jelas sangat berbahaya, guru lebih baik tinggal bersama yang lainnya di kota."
"Meski begitu, aku akan kesepian... perlu beberapa tahun hanya untuk mencapainya lantai terakhir kan?"
"Kami pasti kembali, Nicol tolong jaga guruku dan yang lainnya juga."
"Serahkan padaku tuan, semoga kalian semua pulang dengan selamat."
"Kami pergi."
__ADS_1
"Heliet, saat kami kembali akan kuberitahu rahasia yang mengejutkan," kata Vivia menyeringai senang.
"Apa itu?"
"Nanti kau akan tahu."
Ini pasti tentang gurunya yang masih hidup.
Saat kami memasukinya seketika cahaya menyilaukan menyelimuti kami semua, saat aku sadari kami telah berada di sebuah pulau yang melayang di mana sekelilingnya di selimuti rumput hijau.
"Bukannya barusan kita memasuki menara itu?" kata Kazel menunjuk menarik yang ada jauh di depan kami.
Seingatku kami memang memasuki menara tersebut namun anehnya kami malah muncul di luar menara sedangkan menara tersebut malah berada di tengah-tengah pulau ini.
Vivia yang sebelumnya pernah datang kemari mendesah pelan.
"Dimensi lain, bisa kau jelaskan Vivia?" tanya Richard.
"Singkatnya ini adalah dunia yang berbeda dengan dunia yang kita tinggali, walau kita menghabiskan waktu bertahun-tahun di sini, saat kita keluar, itu hanya akan berakhir beberapa hari saja."
"Jadi soal tadi.."
"Tadi cukup mengharukan."
Harusnya dia mengatakan hal ini sejak tadi.
"Aku lapar master, bisakah kita makan sekarang?"
__ADS_1
"Mari cari makanan."
Kazel kembali menunjuk ke arah pulau di atas kami lalu berkata.
"Bagaimana dengan di sana itu?"
"Kenapa ada kota di dalam sini?" teriakku.
Vivia kemudian menjelaskan.
"Di tempat ini tidak jauh berbeda dengan dunia yang kita tinggali, setelah orang-orang berhasil melawan bos di setiap lantai mereka diizinkan tinggal di sini, inilah aturan yang dibuat Dewi Naga Freya."
"Untuk apa dia melakukan ini semua?"
"Aku juga penasaran dengan hal itu?" tambah Kazel mengikuti ucapanku.
"Itu karena semua orang di dunia ini ingin hidup damai, nanti kalian akan tahu saat bertemu orang-orang di kota."
Tanda tanya muncul di atas kami semua, Vivia memandu kami ke sebuah gerbang di ujung pulau, saat kami memasukinya kami langsung muncul di luar kota yang sebelumnya kami lihat berada di atas kami.
"Ini luar biasa, aku kagum."
"Aku lapar Master."
"Syukurlah aku ikut denganmu."
Di saat ketiga orang itu mengatakan apa yang mereka pikirkan, Vivia melebarkan tangannya lalu berkata.
__ADS_1
"Selamat datang di lantai pertama Arcana."