Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 75 : Sosok Topeng Putih


__ADS_3

Sesampainya kulihat Sirius berdiri bersama Eren di tengah desa, di sekitarnya tampak penduduk desa mengerumuni juga.


"Tuan Aksa, terima kasih sudah mau mendengarkan permintaan kami," seorang pria paruh baya yang terlihat seperti kepala desa berkata demikian yang mana kujawab dengan perkataan ringan.


"Bukan apa-apa."


Hari ini sepertinya aku banyak menerima ucapan terima kasih.


Setelah mendengar penjelasan kepala desa aku, bersama Sirius, Jun serta Hilda meninggalkan desa menuju sebuah danau yang menjadi satu-satunya sumber air di desa ini.


Menurut kepala desa sejak kemunculan Hydra di danau itu kini air telah diracuni olehnya hingga para penduduk tidak bisa menggunakan air tersebut, hal itu berdampak pada segala aspek termasuk perairan bagi kebun mereka.


Dan selama itu mereka hanya menggunakan air yang didapat dari menampung air hujan untuk kebutuhan sehari-hari. Seiring waktu persediaan mereka telah mencapai batasnya.


"Hydra di tempat seperti ini, bukannya sedikit aneh?" tanya Jun.


"Memang benar, aku pikir ada sesuatu yang memancingnya kemari biasanya hewan-hewan berperingkat atas akan ada di wilayah raja iblis atau naga kehancuran," tambah Hilda.


Walau keduanya tinggal di hutan mereka cukup berpengetahuan.


"Ada apa Aksa?"


"Tidak, kalian banyak tahu."


"Kami memiliki kemampuan untuk menghubungkan indera kami pada hewan seperti burung, dengan ini kami bisa mengetahui berbagai hal terjadi di dunia ini," ucap Hilda menjelaskan lalu disusul Jun.


"Ada peribahasa melihat sendiri lebih baik daripada hanya mendengar desas-desus dari orang lain.


Mungkin itu peribahasa dari kampung elf.

__ADS_1


Tak lama kemudian danau yang kami tuju terlihat jelas, danaunya luas akan tetapi warnanya sudah berubah hitam serta beberapa bangkai hewan sangat banyak di sekelilingnya.


Hilda menyatukan kedua tangannya lalu berdoa.


"Mohon lindungi kami Dewi Nermala."


Di sisi lain Jun dan aku segera bersiaga, saat Jun melemparkan batu ke tengah danau aku mulai menguatkan pergelangan tanganku untuk mencengkeram Sirius dalam bentuk pedangnya.


Seluruh tubuh Hydra muncul kepermukaan hingga kesembilan kepalanya menyemburkan racun secara bersamaan, tepat ketika racun itu menghantam tubuh kami berdua sebuah sihir berbentuk gelembung melindungi kami.


"Ini?"


"Sihir Hilda adalah berkah Dewi.. kemampuan adikku setara dengan Arc Priest peringkat tinggi loh."


"Kakak berhentilah membuatku malu."


"Maaf, maaf.... jadi bagaimana sekarang?"


Aku mengayunkan pedang di udara demi memunculkan bilah hitam yang mampu memotong satu kepalanya, tentu leher yang terputus itu kembali tumbuh menjadi kepala yang baru.


Hydra juga sering disebut makhluk berkepala seribu, jadi perlu memotong kepalanya sebanyak itu demi bisa menang darinya.


Aku kembali mengayunkan beberapa bilah berikutnya hingga Hydra mulai mengincarku sebagai target utama.


Dia bergerak mengikutiku dan aku terus memancing kemarahannya.


"Ketika ada celah potong tubuhnya, kepalanya memang bisa tumbuh tapi badannya tidak."


"Aku mengerti."

__ADS_1


Aku mulai berlari ke sisi lain untuk mengecoh Hydra, selain sihir pelindung, Hilda juga merapalkan sihir penguat untukku.


Sirius berkata ke arahku.


"Master, apa Anda sengaja melibatkan Keduanya bertarung, bahkan jika itu seratus Hydra aku bisa menebas mereka dengan sekali tebasan"


"Seperti yang kubilang sebelumnya aku tidak ingin menjadi pusat perhatian, lagipula bertarung bersama-sama bukannya menyenangkan, tapi jika situasinya buruk aku akan memerlukan bantuanmu."


"Aku mengerti master."


Aku berbalik selagi memegang pedang dengan kedua tanganku kembali, kuayunkan pedangku menciptakan bilah yang sama.


Di luar dugaan Hydra juga bisa menembakan bola api selain racun yang dimiliknya, aku menebas bola tersebut sementara ke sembilan kepala itu mulai mengincarku.


Tak perlu waktu lama hingga aku berhasil menebas kesembilan kepala itu secara serempak, bersamaan itu Jun telah muncul di atas Hydra, kedua pedang di tangannya mulai membesar membentuk pedang cahaya.


Bertepatan saat dia menyentuh tanah tubuh Hydra terbelah menjadi dua bagian.


"Apa kakak baik-baik saja?" tanya Hilda mendekat.


"Aku tak apa."


"Master."


Dengan tenang aku menangkis sebuah pisau yang meluncur ke arahku, dari tempat dimana pisau dilempar seorang pria menggunakan topeng putih muncul dengan mantel yang berkibar tertiup angin.


"Kalian bisa mengalahkan hewan peliharaanku, luar biasa sekali."


"Hewanmu saja yang sangat lemah," balasku mengejek.

__ADS_1


"Mari anggap saja seperti itu," katanya demikian saat kami saling menatap satu sama lain.


__ADS_2