
Beberapa hari berikutnya aku berdiri di depan seluruh pasukan musuh yang berkisar sekitar 5.000 orang.
Di pimpin oleh pria bernama Loki mereka tampak terkejut karena hanya aku saja yang berada di sana tanpa siapapun di kota ini.
"Apa yang sebenarnya terjadi."
Aku melilitkan syal di leherku dengan tatapan datar dan membiarkannya berkibar tertiup angin, aku mengangkat kedua tanganku dan menciptakan dua senapan di tanganku.
Loki yang menyadari itu tampak memucat.
"Mungkinkah?"
Dia sudah tahu apa yang sedang kulakukan.
Loki mengambil salah satu orang di dekatnya dan menjadikannya perisai hidup saat aku menembakinya tanpa jeda.
Loki berteriak.
"Apa yang kalian lakukan, serang... dia hanya seorang diri."
Walau ragu mereka berlari secara serempak, namun aku berdiri bukan tidak ada persiapan jadi saat jarak mereka hanya terpaut lima meter dariku mereka semua diledakan dengan baik dengan bom yang berada di dalam tanah.
Di saat orang-orang tampak panik aku menembaki mereka dengan dingin, dua orang berhasil menembus selagi mengayunkan pedang mereka.
Kutendang pergelangan tangan mereka sebelum kemudian menembaki tanpa akhir, saat peluru di senjataku habis itu akan mengisi sendiri dengan peluru yang baru.
__ADS_1
Meski begitu setelah tiga kali aku menggantinya dengan sihir.
Lingkaran api menyebar ke sekeliling para musuh.
"Hell of the Abyss."
Ledakan besar menggema ke udara melahap mereka dengan api raksasa yang belum pernah mereka lihat sepanjang hidup mereka, beberapa orang yang tidak ingin melanjutkan ini mulai berhamburan.
"Monster, cepat lari."
"Aku tidak ingin berada di tempat ini."
Saat di Benua Utara aku sudah terbiasa melawan ribuan orang hanya dengan diriku seorang, bahkan hanya ini masihlah bukan apa-apa denganku, ketika asap menyebar dan menghilang sosok Loki yang membawa tongkat masih berdiri dengan sihir pelindung yang mengalir dari tongkatnya.
"Aerial Shield."
Aku menciptakan meriam raksasa dari tanganku kemudian menembakan ke arah Loki hingga perisai yang digunakannya hancur berkeping-keping.
Ekpresinya semakin memucat.
"Bagaimana bisa kau memiliki senjata itu semua, ini tidak masuk akal."
"Dari caramu berbicara bukan kali ini kau melihatnya, kau pasti dari dunia lain."
"Tepat sekali... aku adalah pahlawan yang dipanggil dari dunia lain."
__ADS_1
Kutembakan senjataku kembali dan berbeda dari sebelumnya dia memilih untuk memantulkannya ke samping dan ledakan terjadi di tempat lain.
"Dewi tidak akan memanggil pahlawan lain dengan kata lain bahwa kerajaan Hespringer melakukannya sendiri."
"Tepat sekali, kami adalah pahlawan yang terpilih yang akan membuat kedamaian sejati, para naga harus dilenyapkan demi memulai awal dunia ini."
Orang ini jelas hanya dimanfaatkan oleh para petinggi di kerajaan Hespringer, tanpa tahu apapun dia dengan aragon menyebut dirinya pahlawan.
Hal itu jelas memuakkan.
Di sisi lain orang-orang yang telah berjasa di dunia ini masih belum dikenal sebagai pahlawan.
Loki melanjutkan.
"Kau mengirim seluruh kota di belakangmu itu untuk menyerang kerajaan kami, kau benar-benar iblis."
Aku menghilangkan senjataku lalu menggantinya dengan pedang panjang.
"Jangan salah paham, mereka sendiri yang pergi berperang karena kerajaanmu telah membawa banyak luka, memangnya kau tidak tahu seberapa besar penderitaan yang kalian buat."
"Itu hanya pengorbanan kecil untuk mencapai perdamaian."
"Alasan konyol, tapi aku tidak akan menyalahkanmu karena aku juga memiliki ide pikiran yang sama."
Loki mengerenyitkan alisnya.
__ADS_1
"Apa maksudmu?"
"Kedamaian memang memerlukan pengorbanan, tapi hal yang kukorbankan adalah diriku sendiri, aku akan membunuh orang-orang seperti kalian hingga tidak tersisa lagi."