Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 57 : Penyihir Meliana


__ADS_3

Beberapa ratus tahun yang lalu di sebuah desa yang indah di atas gunung, seorang gadis cantik jelita duduk di dahan pohon selagi menatap pemandangan kota di bawahnya, rambut panjangnya yang terurai tertiup angin bersama dedaunan yang terus berterbangan di sekelilingnya.


Gadis itu seolah terpesona dengan pemandangan tersebut hingga ia melupakan buku yang tengah dibacanya lalu bergumam dengan suara pelan yang tak mungkin bisa didengar siapapun.


Enaknya, dunia itu sangat luas.


Gadis itu memiliki mata lebar yang mengkilap dan memiliki perilaku nakal dan imut, apabila seseorang melihatnya berjalan mereka akan senang menatapnya dengan pandangan jatuh cinta dan bertanya-tanya siapa sosok yang memiliki kecantikan tiada tara tersebut?


Dan aku akan menjawabnya tanpa ragu.


Benar, itu aku... namaku Meliana umur 17 tahun yang belakangan ini senang membaca buku tentang sihir.


Oh, aku akan menjadi penyihir sekarang.


Ketika aku memikirkan hal itu seorang memanggilku dari bawah, dia gadis seumuranku dengan rambut merah.


"Ibu menyuruhmu pulang, kalau terlambat kau tidak akan dapat makan malam."


"Astaga, sudah jam segini ternyata."


"Seperti biasa kau melupakan waktumu, Meliana."


"Maaf, maaf."


Aku melompat dari pohon selagi memegangi buku serta mempertahankan gaunku untuk tidak terbang ke atas.


"Barusan itu sangat berbahaya kau tahu?'


"Jangan khawatir, aku seorang ahli."


Gadis itu mendesah pelan lalu menuntunku berjalan bersamanya.


"Hora, jika kita tak cepat aku juga akan kena hukuman."


Aku hanya bisa tertawa kecil, dia memang dua tahun lebih muda denganku meski begitu dia sosok yang bisa disebut sebagai kakak perempuan bagiku.

__ADS_1


Aku terkadang merasa malu karena posisi kami kini telah berbalik, ngomong-ngomong aku dengannya bukan saudara kandung, kami hanya kebetulan bertemu di jalan dan dia bersama orang tuanya mengadopsiku menjadi bagian keluarganya.


Saat tiba di rumah makanan telah tersaji di meja makan, ayah yang bekerja sebagai penebang kayu telah berada di sana bersama ibu yang masih di dapur.


"Kalian terlambat, cepat bersihkan badan kalian dulu sebelum makan."


"Baik."


Kami berdua berkata di waktu bersamaan sebelum akhirnya mandi bersama.


"Meliana dadamu bertambah besar."


"Kamu yang tubuh lebih besar dariku, itu curang Margaret, aku akan meremasnya."


"Aku akan memukulmu jika kau lakukan itu."


Kami saling membasuh punggung satu sama lain sebelum mengganti pakaian kami, di meja makan ayah akan selalu menceritakan petualangannya saat dia muda dan cerita yang paling dia sukai saat dia bertemu dengan ibu.


Walau aku sudah mendengarnya selama ratusan kali aku tidak pernah bosan.


"Margaret aku sudah mengatakannya, jangan beritahukan pada siapapun."


"Ayah memaksaku, maaf."


Ibu yang sudah memasak ikut dalam pembicaraan.


"Kenapa harus disembunyikan, sihir bukannya hal yang hebat."


"Tidak ibu, bukannya sihir itu dianggap hal yang menakutkankan.. penyihir dan manusia juga masih saling bertarung satu sama lain, aku tidak ingin seperti mereka."


"Bagi ibu dan ayah sihir bukan sesuatu yang harus ditakutkan.. terkadang manusia takut akan sesuatu yang asing bagi mereka, tapi kami yakin suatu saat nanti entah penyihir maupun orang biasa akan saling mengerti satu sama lain dan bisa bekerja sama demi membuat perdamaian."


Saat itu aku berfikir bahwa perkataan itu memang akan terjadi dalam waktu dekat, akan tetapi hanya dalam satu malam semuanya telah berubah.


Di desa yang telah terbakar aku berdiri di antara mayat-mayat yang berserakan.

__ADS_1


Tanah telah tergenangi darah sementara ayah dan ibuku saling berpelukan dalam kematiannya.


Beberapa kali aku memanggilnya aku tidak pernah melihat mereka membuka matanya lagi.


"Meliana, apa itu kau?"


"Margaret, bertahanlah... jangan tinggalkan aku."


Aku segera memegangi tangannya.


"Seharusnya aku segera pulang dari kota."


"Tidak, ini bukan salahmu... kalau kau datang kemari lebih awal para penyihir pasti akan membunuhmu juga, cepatlah pergi dari sini."


"Tapi..."


"Begini juga lebih bagus, hiduplah Meliana.. bukannya kau ingin melihat dunia ini, semua hari yang kuhabiskan bersamamu sangat menyenangkan."


Aku hanya menangis tanpa bisa melakukan apapun.


"Margaret," teriakku dan tak lama kemudian seorang penyihir mendekat ke arahku dengan buku di tangannya.


"Masih ada yang hidup rupanya."


"Kau yang melakukan ini, siapa kau?" kataku selagi menahan kemarahan.


"Perkenalkan namaku Libel sang penyihir perwakilan dari dosa mematikan keserakahan."


Sebelum dia menyadarinya tanganku sudah menembus tubuhnya.


"Mustahil, aku sama sekali tidak melihat pergerakanmu. Guakh."


Aku menarik jantungnya keluar saat dia hanya rubuh ke samping kehilangan nyawanya.


Selagi terduduk aku hanya bisa berteriak kesakitan.

__ADS_1


"UWWWWAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA."


__ADS_2