Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 164 : Seorang Dengan Tanggung Jawab


__ADS_3

Di pinggir sungai, di dalam hutan itu, aku mengambil air untuk mencuci wajahku, walau masih pagi kau bisa mendengar keributan antara anggota perjalanan ini, di mana sosok Marine sedang dimarahi oleh Liz dan Naula.


Marine mencoba menyerangku saat malam hari dan dia mendapatkan balasannya.


Di dunia ini wanita jelas lebih memiliki nafsu tinggi, kau bisa mengetahuinya dengan jelas jika kau pergi ke kantor penjaga atau mengumpulkan banyak koran dari setiap negara.


"Silahkan Master."


Sirius membawakanku handuk untuk kupakai. Aku pikir dia akan mengatakan hal yang tidak penting seperti biasanya, namun hari ini berbeda.


"Nah Master, apa Master membenci dunia ini?" perkataannya tidak seperti dia bermain-main, perkataan itu dipenuhi kesedihan serta rasa khawatir yang sulit dikatakan.


"Aku memang membenci dunia ini... tapi, di dunia ini juga, ribuan atau jutaan orang hidup di dalamnya dan menunggu kedamaian dan kebahagiaan mereka datang. Karena itulah, aku akan mewujudkannya sebagai seorang pahlawan satu-satunya di dunia ini."


"Itu tidak adil, kenapa tanggung jawab yang besar diberikan hanya pada Master seorang?"


"Aku sendiri yang mengambil tanggung jawab itu, meski berapa banyak orang yang kubunuh entah itu monster, jalanku hanya terus maju."


"Apapun yang terjadi, aku akan terus bersama Master."


Aku mengelus kepalanya lembut.


"Kau pasti sudah lapar, akan kubuatkan makanan untuk kalian."


"Um."


Aku membuat api kemudian mengeluarkan panci yang kemudian aku isi dengan air serta potongan sayur-sayuran.


Aku memiliki beberapa potongan roti yang kami bisa menikmati dengan semangkuk sup panas.

__ADS_1


Liz dan Naula melirikku dengan tatapan sinis.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu?"


Naula yang menjawabnya.


"Kau terus saja memberikan uang kita pada setiap orang yang kita lewati, dan sekarang kita tidak mampu membeli daging, aku lebih suka menyimpannya untuk diriku sendiri."


"Tuan Aksa, aku ingin makan daging... sebagai permohonan maaf, mari berhubungan intim."


Yang satu, orang serakah dan satu lagi penggila hal mesum, sudah terlambat untuk menyesali pilihanku membawa mereka.


"Di kota berikutnya aku berjanji akan membelikan kalian daging."


"Uangnya?"


"Di hutan ini banyak tanaman obat yang cukup langka, kita bisa memetiknya dan menjualnya nanti, untuk sekarang bersabarlah dengan ini."


Aku telah belajar banyak hal dari guruku, entah itu sihir ataupun tentang tanaman herbal semuanya memang sangat berguna bagi petualang.


"Tolong tambah Master?"


"Aku juga."


Sirius dan Marine saling berlomba untuk menentukan siapa yang lebih banyak makan, sebuah perlombaan yang tidak ada manfaatnya.


"Setelah makan, aku ingin mandi, bagaimana mana dengan kalian?" tanya Liz.


"Aku juga."

__ADS_1


"Mari melompat ke dalam sungai."


"Yang terakhir pecundang."


Mereka seenaknya saja melemparkan pakaian ke arahku, padahal harusnya mereka membantuku untuk mencari tanaman herbal.


Aku mulai mengumpulkan tanaman obat-obatan di pinggir sungai lalu memasukannya ke dalam keranjang.


Karena berada di dalam hutan paling dalam, tanaman ini sepertinya tidak tersentuh siapapun, aku mulai sedikit menjauh dari tempatku sebelumnya sampai sebuah suara memanggilku dari atas pohon.


"Apa yang sedang kau lakukan?" meski sulit dipercaya tapi suara itu berasal dari seekor tupai jantan.


"Mencari tanaman obat."


"Begitu, manusia memang bisa melakukan segala hal."


Tupai itu turun ke bawah lalu dia memperhatikan setiap tanaman obat yang aku kumpulkan.


Prilakunya terlihat imut untuk sebagian orang.


"Jadi semua ini bisa digunakan sebagai obat penyembuhan?"


"Aah, kau bisa menumbuk setiap tanaman ini lalu menambahkannya dengan sedikit air hangat, hanya saja kau harus tahu mana yang bisa dimakan dan juga hanya sebatas obat luar."


"Begitu, bisakah kau mengajariku tentang obat-obatan.. aku membutuhkannya untuk keluargaku jika mereka sakit."


"Aku tidak masalah, hanya saja, bisakah kau menjawab pertanyaanku?"


"Apa itu saudaraku yang baik?"

__ADS_1


"Kenapa kau bisa bicara?" tanyaku datar.


__ADS_2