
Dua hari berlalu semenjak kami mendiami masion ini, yang mana aku telah disibukkan untuk melatih ketiga gadis ini teknik bertarung.
Aku berfikir untuk membuat mereka bisa bertarung satu lawan satu dengan monster agar ketiganya tidak perlu saling melindungi satu sama lain, seorang yang hanya ahli dalam jobnya saja akan membuat mereka kesulitan dalam medan perang saat mereka dihadapkan dengan monster yang lebih kuat.
Menggunakan pedang kayu mereka menyerangku secara serempak, Lauren dan Claudine mengambil serangan ke sampingku sementara Lucia menerjang ke depan.
Dalam situasi normal, ini adalah gerakan yang bagus yang mana mampu memojokkan musuhmu, tapi bagiku yang telah bertarung lebih banyak dari orang pikirkan hal seperti ini sangatlah mudah.
Pertama aku menebas Lucia dengan pedang kayuku hingga terjatuh di tanah, kemudian menahan serangan Lauren selanjutnya menendang bahu Claudine hingga dia terseret di tanah.
Aku juga memukul perut Lauren hingga cairan keluar dari mulutnya sebelum tumbang ke tanah, cara membuat seseorang bertambah kuat dengan cepat yaitu dengan pelatihan yang keras.
Aku memang sedikit ragu untuk menggunakan metode pelatihan ini meski begitu, aku dengan suka rela membunuh perasaan itu agar ketiga orang di depanku nantinya bisa hidup sesuai mereka inginkan.
Itu lebih baik dibanding melihat mereka mati.
Claudine yang memiliki sikap lemah dibanding semua orang perlahan menjadi lebih kuat. Lauren yang selalu takut menyerang dari jarak dekat mulai sedikit berani dan juga Lucia yang selalu menyerang tanpa berfikir panjang kini menggunakan pikirannya untuk mencari kelemahan musuhnya.
"Tanpa ampun seperti biasanya, harusnya kau sedikit lembut pada para gadis ini," suara ejekan itu datang dari seorang kesatria wanita bernama Vivia Legal.
Walau penampilannya cantik ia memiliki sifat brutal di dalamnya, awalnya aku bertemu dengannya dia terlihat seperti gadis baik yang lemah lembut namun sebenarnya di dalamnya hanya sosok iblis.
__ADS_1
"Claudine tolong sembuhkan luka mereka juga, kalian juga bisa beristirahat."
"Baik."
Ketiga gadis ini bertarung melawan monster demi membantu panti asuhan yang dulu mereka tinggali, aku ingin membantunya walaupun itu membuat mereka membenciku.
"Jadi apa yang kau butuhkan hari ini Vivia?"
"Hah? Seharusnya kau memanggilku nona Vivia yang agung."
"Aku sepertinya akan muntah setelah mengatakan itu."
"Kau berani sekali berkata itu padaku, apa kau tahu berapa banyak naga yang kubunuh selama ini."
Itu mengingatkanku.
"Dulu kau memutuskan dengan guru untuk mengabdikan diri di Kerajaan ini kan."
"Benar."
"Tapi kenapa namamu juga ditulis sebagai seorang petualang."
__ADS_1
"Ceritanya panjang, saat guru kami meninggal, kami memutuskan untuk bertambah kuat dan pergi ke kerajaan yang ia sebelumnya dia layani, saat itu kami hanya berfikir untuk balas dendam."
Vivia diam sesaat lalu melanjutkan.
"Setelah kami berhasil membalas dendam. Heliet memutuskan untuk tinggal di sini sebagai pemilik toko peralatan sihir sementara aku menjadi seorang petualang di kota lain, setelah beberapa puluh tahun aku diundang kembali ke kerajaan sedangkan Heliet menolak dan masih tinggal di sini."
"Apa ini sangkut pautnya dengan naga kehancuran?"
"Aah, aku sudah membunuhnya selama 100 kali dan 100 kali juga dia terus hidup kembali, hingga terakhir kali dia menyerang kota ini."
"Jadi begitu, lalu apa tujuanmu datang ke tempat ini?"
"Tidak ada yang istimewa, aku hanya ingin menjahilimu saja."
"Kau hanya seorang yang menyebalkan."
"Haha. Aku juga perlu hiburan, bagaimana kalau kita bertarung? Kudengar kau mengalahkan Vermilion."
"Maaf saja, aku menolak."
Berita selalu menyebar lebih cepat dari yang kubayangkan.
__ADS_1