Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 83 : Monumen


__ADS_3

Di sebuah ruangan gelap seorang duduk di atas ranjang tanpa memperlihatkan wajahnya sama sekali, dia mengambil anggur di atas meja lalu memasukannya ke dalam mulutnya.


Tak lama kemudian seorang membuka pintu lalu berkata ke arahnya, dia adalah wanita pemilik kasino yang ditemui Aksa dua hari yang lalu.


"Mereka berhasil memberikanku uang yang dijanjikan, aku tidak habis pikir kenapa seorang Dewi Naga sepertimu tertarik dengan pria itu... bahkan kau juga memintaku untuk menjebak rekannya dalam hutang."


Wanita yang duduk di ranjang mendesah pelan.


"Entahlah, kupikir akan ada hal menarik jika aku terus mengawasinya."


"Apa jangan-jangan Dewi ingin mencoba menghentikannya agar tidak naik ke lantai atas."


"Mana ada, aku ini Dewi yang adil loh... aku selalu memberikan semua orang perlakuan sama."


"Meski kau bilang begitu, kini aku harus menutup tempat hiburanku... tapi tak apa, dengan uang sebanyak ini mungkin aku akan pergi dari menara dan mencoba mendirikan kasino di tempat lain di belahan benua lain lagipula hidup damai seperti ini tidak cocok untukku, aku suka perkelahian dan sebagainya."


Dewi itu tertawa.


"Uang itu hanya berlaku di dalam menaraku, jika kau membawanya itu tidak akan berarti apapun.. biar aku rubah untukmu dulu sebagai ucapan terima kasih."


"Aku akan senang, aku akan pergi besok.. aku harap apa yang kau inginkan akan terkabul."


"Aku juga berharap demikian."

__ADS_1


Dua hari berikutnya aku berdiri di depan sebuah monumen di tengah kota lantai pertama Arcana yang menunjukan informasi tentang setiap lantai, seperti apa yang dikatakan Vivia semua lantai yang bisa dimasuki akan tertulis di sana beserta orang yang menaklukannya.


Lantai satu, dan kini telah mencapai lantai 205, kebanyakan diisi oleh nama Vivia legal. Dulu dia benar-benar menantang menara ini demi menyelamatkan nona Heliet.


Ketika aku hendak pergi seorang gadis berambut biru tiba-tiba saja menabrakku, ia memiliki tubuh mungil serta kulit putih seperti salju.


Ia buru-buru menutup kepalanya dengan tudung kucing miliknya.


"Maaf."


"Aku yang harusnya minta maaf, apa kau baik-baik saja?" aku mengulurkan tanganku untuk membantunya berdiri.


"Aku baik-baik saja, aku sudah terlambat sampai nanti."


Itu adalah sebuah secarik kertas berisi daftar belanjaan.


"Aku sebaiknya mencarinya dulu."


"Ada apa Master?"


Aku terkejut.


Aku menarik pipi Sirius saat ia tiba-tiba muncul di sampingku, orang ini menghilang dan muncul seenaknya saja.

__ADS_1


"Ada apa? Kau sebenarnya dari mana?"


"Aku beli cemilan, di cafe yang master buat aku dilarang makan apapun jadi kuputuskan membelinya di sekitar sini."


Agar para pelayan sebelumnya tidak kehilangan pekerjaannya aku memutuskan membuat cafe berbintang lima untuk memperkerjakan mereka semua, setelah kami keluar dari menara ini cafe tersebut akan dimiliki mereka sendiri sepenuhnya.


Aku menggenggam tangan Sirius agar dia tidak menghilang lagi lalu berjalan bersamanya.


"Master, penginapan ada di sebelah sana?"


"Ada yang harus kulakukan dulu."


"Jangan bilang master ingin berkencan denganku."


"Aku akan berkencan denganmu setelah kau bisa merubah ekpresi wajahmu itu."


"Memangnya ada yang salah dengan wajahku."


"Coba pikirkan sendiri."


Aku berusaha mencari keberadaan gadis sebelumnya di antara orang-orang yang berlalu lalang di jalanan sampai kutemukan dia sedang duduk di pinggiran selagi memegangi kepalanya.


"Apa yang harus kulakukan? Aku tidak tahu harus membeli apa?"

__ADS_1


Ketika aku menunjukan secarik kertas yang kutemukan padanya ekpresinya bersinar cerah.


__ADS_2