Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 243 : Pertempuran Di Ibukota Animalia Bagian Lima


__ADS_3

"Apa boleh buat, Lola kita akan menggunakan Astral."


"Laksanakan."


Lola melayang di atas kepala Naula yang berkata.


"Knight Mode."


Dalam sekejap tubuh Naula telah diselimuti baju besi berwarna putih dengan tombak di tangannya. Tanpa menunggu dia melesat ke arah Olif yang bersiaga dengan sabitnya.


Kedua senjata saling berbenturan menciptakan suara memekakan telinga.


"Kau melindungi dirimu dengan baju besi agar tidak terkena efek dari kabutku, menarik."


"Bukan hanya itu."


Malifana yang berada di belakang merapalkan beberapa sihir penguat, percepat serta pemulihan stamina menjadikan kekuatan tubuh Naula dua kali lipat.


"Status instan."


Brak.


Tubuh Olif terbang menebus tembok, saat puing-puing menimpanya dia meluncur melayang ke arah Naula, kemampuannya hanya sebatas dengan kabut dan kini ketidakberdayaannya membuat dirinya menjadi sosok menyedihkan.


Olif mengarahkan sabitnya secara vertikal di mana kabut hitam mengikuti serangannya, Naula menangkis setiap serangannya tanpa bergerak, dibandingkan dirinya sebelumnya kekuatannya jelas lebih kuat.


Tombak ditangannya dia isi dengan sihir angin dan tanpa ragu menancapkan tombaknya ke dada Olif hingga tidak bergerak, sihir biasa tidak bisa melenyapkan undead maka dari itu Malifana mengambil peran dengan sihir sucinya.


Sihir muncul di antara kedua sisi Olif.


"Realise Dispell," tepat saat Malifana merapalkan sihirnya, cahaya menerangi Olif hingga sosoknya berubah jadi butiran cahaya yang perlahan memudar ke udara.


"Sihir yang indah, akhirnya seseorang memurnikanku."


Naula mengalihkan pandangannya.


"Bagus Malifana, dengan ini kita bisa menyelamatkan..." perkataan Naula tertahan saat seorang pria telah menangkap Malifana dari belakang.


Pria itu hanya berekspresi tersenyum dengan jubah hitam menyelimuti dirinya. Tanpa bertanya lagi Naula bisa merasakan kekuatan yang luar biasa darinya.

__ADS_1


"Kalian memang hebat bisa mengalahkan Olif atau mungkin karena beruntung saja karena memiliki orang yang memiliki sihir suci seperti tuan putri ini."


"Lepaskan aku."


"Itu tidak mungkin, aku memerlukanmu untuk membuka ruangan rahasia."


"Kau tidak bisa melakukannya, lepaskan Malifana."


Naula melangkah maju dengan tombaknya namun dalam sekejap sosok berjubah itu telah muncul di hadapannya sementara tangannya menembus bagian perut Naula menghancurkan baju besinya tanpa kesulitan.


"Mustahil?"


Tubuh Naula dikirim jatuh ke tanah dengan darah keluar dari mulutnya.


"Naula?" teriak Malifana.


"Aku tidak menyerang organ vitalmu tapi dengan ini tubuhmu tidak bisa bergerak dalam waktu lama."


"Kenapa kau tidak membunuhku?"


"Aku punya rencana lain, akan kujadikan kalian semua termasuk penduduk kota ini merasakan kekuatanku saat aku mendapatkan Kaleodoskop."


Sosok berjubah itu menginjak kepala Naula.


"Hentikan Lupin, aku yang kau butuhkan bukan? Lepaskan dia."


"Baiklah, sekarang.... tuan putri, cepat buka ruang rahasianya."


"Aku mengerti."


"Malifana."


Naula hanya bisa melihat kepergian keduanya dari kejauhan dan secara perlahan kesadarannya menghilang seutuhnya.


"Orang itu benar-benar mengerikan."


Naula bangun dan melihat bahwa Lola telah berdiri di sampingnya dalam wujud manusia tanpa menghilangkan identitasnya.


Pakaiannya terlihat lembut dengan bulu-bulu domba serta tanduk yang melekat di atas kepalanya.

__ADS_1


Yang jelas dia seorang gadis yang cantik.


"Lola?"


"Jangan dulu bergerak, walau dia tidak mengenai organ vitalmu tetap saja lukamu cukup parah."


Lola mengulurkan tangannya untuk mengirimkan sihir penyembuhan dengan cara mengumpulkan bola-bola kecil dari roh sekitar.


"Bagaimana bisa kau memiliki wujud seperti itu?"


"Sudah kubilang aku ini roh special, apa menurutmu roh hewan bisa menyelimuti pemilik kontraknya dengan baju besi."


"Memang benar."


"Untuk sekarang mari sembuhkan lukamu sebelum hal yang lebih buruk terjadi."


Di dalam ruangan khusus yang menggunakan pintu besi sebagai jalan masuknya, Malifana menyentuh bagian permukaannya hingga bersinar lalu pintu itu mulai terbuka.


Keduanya berjalan masuk dan menemukan sebuah peti emas yang ditaruh begitu saja di atas sebuah meja tinggi.


"Sekarang buka itu."


Malifana mengambil kunci yang selama ini dia sembunyikan di lehernya, dengan ragu dia memasukannya ke lubang kunci dan peti itu terbuka hingga menyemburkan sosok bayangan dengan seluruh tubuhnya diisi oleh mulut-mulut yang mengerikan.


Setiap mulut berbicara dengan suara yang melengking.


"Bunuh, bunuh, bunuh."


"Lapar, lapar, lapar."


"Kikikikiki."


Malifana terjatuh selagi mendorong tubuhnya ke belakang akibat terkejut.


"Makhluk apa itu?"


"Indah sekali, dengan ini era kegelapan akan dimulai lagi... nah, sekarang berikan kekuatan kalian padaku, kini akulah tuan kalian."


Lupin berjalan mendekat selanjutnya bayangan dengan banyak mulut itu bergerak-gerak lalu melahapnya dalam sekejap.

__ADS_1


Melihat itu ekpresi Malifana memucat dan ia buru-buru melarikan diri.


Paling tidak hal yang ingin dia lakukan sekarang adalah menyelamatkan Naula beserta orang tuanya yang ada di penjara.


__ADS_2