
Malam itu, Ruri keluar dari rumah, menengadah ke atas lalu bergumam.
Jika langit memiliki mata, apa yang sedang dilihatnya?
Apa dunia yang busuk ini?
Jika bumi memiliki telinga, apa yang didengarnya?
Apa hanya teriakan keputusasaan?
Dan jika bulan memiliki mulut, apa yang akan dibicarakannya?
Apa sebuah kebohongan?
Tentu semua itu hanya perumpamaan yang dipikirkan oleh Ruri untuk kehidupannya yang menyedihkan, selagi memikirkan itu di dalam kepalanya seorang pria muncul secara ajaib di depannya, dia keluar dari gerbang yang semakin memudar seiring langkahnya yang semakin mendekat.
Tubuhnya tinggi dan tegap namun bahunya terkesan kesepian.
Rambutnya berwarna hitam dan terkesan indah namun berantakan.
Walau ia menutupi wajahnya dengan sebuah topeng, Ruri bisa tahu bahwa ia memiliki ekpresi sedih di dalamnya. Ruri dengan sigap menutup langkah pria itu hingga ia membuka topengnya.
"Kau belum tidur Ruri?" tanyanya.
Tentu dia tahu siapa orang yang ada di depannya, walau sesaat Ruri tahu bahwa orang ini bukanlah orang jahat terlebih dia juga mengenal kakaknya.
"Mari bicara sebentar Aksa."
Mendengar perkataan itu Aksa hanya bisa mengangguk sebagai jawaban, Sirius sudah tidur sejak tadi dan hanya mereka berdua yang duduk di beranda rumah selagi menikmati teh hangat.
Ruri dengan ragu memulai pembicaraan.
"Menurutmu jika langit punya mata, apa yang dilihatnya?"
"Tentu saja dunia indah yang berada di bawahnya."
"Jika bumi punya telinga, apa yang didengarnya?"
"Tentu saja, kisah dari orang-orang yang telah hidup bahagia."
__ADS_1
"Dan jika bulan memiliki mulut, apa yang dikatakannya?"
"Sebuah kejujuran tentang dunia ini."
Ruri menjatuhkan cangkir miliknya hingga tumpah dan sedikit membasahi gaunnya.
"Mana mungkin seperti itu?"
"Karena itulah alasan kenapa aku ada di sini, demi mewujudkannya."
Dari sihir penyimpanan, Aksa menyerahkan dokumen kepemilikan wilayah yang sepenuhnya diberikan pada Ruri sebagai penerus keluarga Rufus.
"Bukannya ini?"
"Semuanya sudah selesai, kini nama keluargamu akan dibersihkan dan semua bangsawan yang terlibat sudah ditangkap dan dieksekusi."
Air mata jatuh dari pipi Ruri.
"Kenapa baru sekarang, kakakku sudah tiada, uwwaaahhh."
Teriakan itu menggema di malam yang sepi.
****
"Selamat pagi, master."
"Pagi Sirius, apa bisa kau pindah dulu, aku kesulitan bangun."
Sirius menggelengkan kepalanya lalu menarik nafas lega sebelum menjatuhkan dirinya untuk memelukku.
"Aku sangat senang bisa bersama dengan master lagi."
"Begitu."
Dari pintu yang terbuka Ruri telah berdiri di sana dan berkata ke arahku.
"Aku sudah menyiapkan makanan, sebaiknya kalian turun dan menghabiskannya."
"Terima kasih."
__ADS_1
Di meja makan itu semua hidangan disajikan, ini jelas bukan porsi untuk tiga orang melainkan lima atau tujuh orang.
Apa yang ingin kukatakan, semua ini terlalu berlebihan.
"Selamat makan," Sirius yang paling bersemangat tentang makanan ini, melihat penampilan gadis seperti itu sesuatu yang mampu menenangkan jiwamu.
"Master, coba ini."
"Aku akan mencobanya," aku mengelus kepalanya lalu melirik ke arah Ruri.
"Jangan menatapku seperti itu, aku malu."
Ada yang aneh tentangnya, namun aku memutuskan untuk tidak membahas hal itu dan kembali menikmati makananku.
Sekarang Ruri telah mendapatkan kembali haknya sebagai bangsawan, dan keberadaanya kini menjadi sesuatu yang penting di kerajaan.
Setelah selesai aku membawa keduanya pergi ke wilayah keluarga Rufus yang sebenarnya, itu adalah sebuah kota yang luas di pinggir pelabuhan bernama Belfast. Kota ini juga dijadikan sebagai kota perdagangan utama kerajaan Elysium.
Saat pintu dibuka para gadis pelayan telah menyambut keberadaan kami bertiga, semua orang di sini sangatlah ahli dalam bertarung, entah itu berasal dari job assassin, kesatria ataupun penyihir.
Mereka adalah orang-orang bisa diandalkan dan jumlah mereka lebih dari 100 orang, salah satu pelayan senior datang mendekati kami, walau disebut senior dia tidak lebih tua dariku.
"Namaku adalah Pamela, hormat kami pada nona Ruri."
Semua pelayan membungkuk sopan mengikutinya.
"Mulai sekarang mohon bantuannya."
"Kami juga."
Tugasku di sini sudah selesai, aku berkata ke arah Ruri selagi menjabat tangannya.
"Kalau butuh bantuan jangan sungkan untuk datang menemuiku, aku akan dengan senang hati membantumu."
"Kau juga Aksa, aku benar-benar berterima kasih."
"Sampai nanti Ruri."
"Sampai nanti, jaga dirimu Sirius."
__ADS_1
"Kau juga."
Kami berdua menghilang dalam gerbang perpindahan meninggalkan Ruri yang tersenyum selagi memegangi rambutnya yang berkibar tertiup angin.