
"Kau yakin Aksa orang ini dalam pengaruh kendali orang lain."
"Tidak salah lagi, akan kupastikan sekali lagi.... Ribel apa kau ingat seperti apa hidupmu?"
"Kenapa kau bertanya itu?"
Berbeda dengan Jeanne yang memprotes. Ribel tampak kebingungan, dia memegangi kepalanya dengan rasa sakit yang membuatnya berteriak.
"Aku tidak tahu."
"Jadi apa yang kau tahu?"
"Kalian manusia menculik ratu kami dan menjadikannya sandra."
"Jadi begitu, aku sekarang yakin... bagus Aksa kau lulus jadi seorang kesatria suci."
"Memangnya siapa yang ingin menjadi kesatria."
Aku melesat maju dengan kecepatan tinggi selagi mengayunkan pedangku secara horizontal, tepat saat Ribel menahannya itu menciptakan ledakan petir.
Ribel memukul perutku hingga aku terpelanting ke belakang melewati Jeanne sebelum menghantam bangunan.
"Aku terkejut, kau menyerangnya walau sudah tahu sedang dikendalikan."
"Karena tahu itu, aku harus segera menyerangnya.. sebentar lagi apa yang kukatakan barusan akan dia lupakan."
"Begitu."
Aku bangkit lalu membuang pedangku untuk menggantinya dengan pistol.
"Tanpa melukainya sulit untuk menghilangkan sihir pengendalinya."
__ADS_1
"Kalau begitu aku juga akan menyerangnya."
Seharusnya sejak awal dia melakukannya, kami berdua melangkah maju.
Ribel yang sudah kembali keadaan normalnya, menahan serangan cepat dari kami berdua, normal di sini maksudnya menjadi boneka sesungguhnya.
Jeanne mengayunkan pedangnya membuat Ribel menundukan kepalanya ke bawah, di saat yang sama aku mencoba menendang wajahnya akan tetapi kakiku di tahan bagian tengah tombaknya hingga aku mengarahkan senapanku ke arah dadanya.
Aku telah menggantinya dengan peluru karet walau tidak membunuhnya tetap saja ini sangat menyakitkan.
Door.
Saat tubuh Ribel tersentak ke belakang Jeanne mengirim tendangan menciptakan sebuah gelombang kejut dari kekuatannya, tubuh Ribel menembus lima bangunan di belakangnya lalu meledak.
"Ah, sepertinya aku terlalu berlebihan."
"Itu masih belum cukup, jika Jeanne tidak di sini aku mungkin akan membunuhnya."
Aku mengganti kedua pistolku dengan SPR 2 yang muncul dari langit.
"Apa itu?"
"Senjataku."
Senjata ini mampu menembus apapun walaupun tank baja sekalipun.
"Jangan bilang kau ingin membunuhnya."
"Tidak, kurasa dia tidak akan mati dengan ini, mungkin.."
"Mungkin?"
__ADS_1
"Jika pun mati aku akan menguburkannya sebagai penebusan dosa."
Aku memasang senapan runduk ini di bawah, sementara aku dalam posisi terkurap selagi membidik lewat teleskop. Untuk memastikan serangan ini akan berakhir dengan vatal aku menciptakan 10 lingkaran sihir di depan moncongnya.
"Sudah kuduga, kau ingin membunuhnya," teriak Jeanne.
Sosok Ribel yang sudah bangkit menyingkirkan puing-puing bangunan yang menimpanya dia berjalan mendekat, bersamaan itu.
DUARRR!
Moncong senapanku hancur bersamaan peluru yang melesat dengan kecepatan tinggi, peluru itu tepat mengenai kepalanya hingga hembusan angin berhembus di sekelilingnya.
Ribel terdiam beberapa saat sebelum dia roboh ke belakang.
"Yap, dia mati."
Kami berdua berjalan untuk menghampirinya dan seperti yang kuduga Ribel masih hidup walaupun dihantam senjata seperti itu, paling tidak dia akan pingsan dalam waktu lama.
Lesoria dan Vivia muncul selagi menyeret para malaikat di tangan mereka.
"Kalian sudah menghabisi komandannya."
"Vivia kau juga berniat membunuhnya, kalian berdua iblis," teriak Jeanne.
"Lebih tepatnya orang yang mengendalikan mereka yang iblis... ini semua perkerjaan Manggo, seorang komandan tinggi pasukan raja iblis."
"Kau mengetahuinya."
"Aku pernah melawan hal seperti ini sebelumnya."
"Aku tidak tahu siapa itu, tapi aku akan menghajarnya," potong Lesoria.
__ADS_1
Entah kenapa wanita di dunia ini kuat-kuat.