
Sudah sejak lama terakhir kali aku datang ke tempat ini.
Ini adalah lantai pertama Arcana di mana di alun-alun kotanya terdapat sebuah tugu yang menandakan siapa saja yang menaklukkan setiap lantai.
Namaku berada di paling atas bersama Vivia Legal, Kazel serta Richard Rufus.
Kurasa tidak ada yang bisa melewati rekor kami, sedikit jauh dari alun-alun kota aku berjalan untuk sampai ke sebuah kedai yang sangat ramai.
Di sana terdapat antrian yang panjang sehingga aku harus bersabar untuk menunggu giliranku, aku melangkahkan kakiku dan menemukan dua gadis kembar yang memakai pakaian imut telah menyambutku ramah.
"Yo, aku ingin memesan."
" Aksa... mungkinkah kau datang untuk menikahiku."
"Dia bilang ingin memesan makanan."
"Benarkah? Jangan buat aku jadi nenek-nenek dulu, cepat nikahi aku."
"Yah, Freya kan abadi hal seperti itu tidak akan terjadi."
"Jangan mengingatkannya Frena, tunggu.... kenapa dengan matamu?"
"Ceritanya panjang."
Salah satu pelanggan menyela.
"Permisi... aku minta tambah lagi."
"Baik."
Aku duduk di salah satu meja dan Freya yang melayaniku.
"Aku memesan satu ramen."
"Oke, satu ramen dengan extra daging serta cinta telah siap.. silahkan."
__ADS_1
"Cinta kah?"
"Ini special kau tahu, aku harus kembali ke dapur."
"Aah... selamat makan."
Aku memakan ramen tersebut, setiap rasa serta mienya memberikan kepuasan yang sulit diucapkan, yang jelas ini sangat enak.
Setelah kedai sepi aku duduk bersama dua dewi naga ini. Aku menjelaskan apa yang terjadi dengan mataku serta sosok Shinji.
"Maafkan aku, ini semua salahku," ucap Frena murung.
"Tidak usah dipikirkan, semua orang terkadang membuat salah."
"Tapi.."
"Benar Frena, semua orang terkadang pernah membuat kesalahan lagipula aku juga begitu aku tanpa sengaja melakukan hal dewasa dengan Aksa."
"Tidak ada yang terjadi diantara kami berdua," aku segera menegaskan hal itu.
"Ngomong-ngomong kalian tidak memanggil satu sama lain dengan kakak atau adik?"
"Kami sepakat untuk saling menyebut nama kami lagipula kami lahir hanya terpaut tiga menit saja."
"Ah, begitu... senang bisa melihat kalian berdua sangat akrab."
Itu perasaanku yang sebenarnya sampai Frena kembali membuka mulutnya.
"Ouroboros sangat sulit dihadapi meski begitu bukan berarti tidak memiliki kelemahan, saat mata itu berkedip atau tertutup maka saat itulah kemampuan penembusan tidak bisa digunakan."
"Jadi begitu."
"Jika mau aku bisa memberikan mataku sebagai penebusan."
"Jangan mengatakan hal menakutkan seperti itu, lagipula aku tidak keberatan, dibanding dosaku yang membantai sebagian orang di benua Utara, hal ini bukan apa-apa... kalau begitu aku permisi."
__ADS_1
"Jangan sungkan untuk datang kemari lagi."
"Kalau ada waktu aku pasti mampir."
Aku muncul tepat di depan mansion.
Pemandangan langit yang cerah kini digantikan dengan malam berbintang. Ada hantu yang sedang duduk di atas genteng selagi menatapnya lekat-lekat.
"Noela kau tidak masuk ke dalam mansion?"
"Hari ini langitnya sangat terang, aku ingin menikmatinya lebih lama lagi."
Aku melompat dan duduk di sebelahnya.
"Memang benar, aku bisa melihat bintang jatuh di sana."
"Um."
"Sebagian roh terikat di dunia ini karena keinginannya masih belum terpenuhi. Apa kau memiliki penyesalan? Jika kau ingin beristirahat aku mungkin bisa membantumu."
"Itu sangat baik tapi tidak usah," dia menolak dengan jelas kemudian melanjutkan.
"Aku lebih suka hidup di dunia ini seperti ini saja lagipula saat hidup aku tidak terlalu bahagia, bukannya tidak masalah jika aku hidup bahagia sekarang."
"Jika kau bilang begitu baiklah tapi kalau kau perlu bercerita katakan saja.. aku pendengar yang baik loh."
Aku tadinya hendak melompat namun Noela memanggilku.
"Aksa mari bicara sebentar. Mungkin kau akan terkejut saat aku mengatakannya."
Beberapa saat kemudian wajahku memucat.
"Kau sebenarnya masih hidup dan tubuhmu di suatu tempat? Mungkinkah kau menjadi selingkuhan seseorang, karena ketahuan kau dibunuh dan jasadmu di buang ke tempat lain."
"Imajinasimu terlalu liar... sebenarnya..."
__ADS_1