
Di antara rumah-rumah yang terbakar itu sosok anak laki-laki hanya terduduk menatap betapa mengerikannya naga di depan matanya, naga itu memiliki tinggi melebihi rumah-rumah di sekelilingnya serta kulit yang keras bagaikan sebuah baja.
Setelah menghancurkan seluruh desa, naga itu terbang lalu menghilang dalam kegelapan meninggalkan sosok anak kecil yang menangis sendirian di dekat kumpulan mayat tersebut.
Nama anak itu adalah Leonardo.
***
Leonardo yang telah kehilangan kendalinya hanya menjadi monster sesungguhnya, secara membabi buta dia terus mengayunkan cakar di tangannya, mendorongku untuk terus bertahan dengan pedangku. Nona Heliet berusaha menyerangnya dengan sihir akan tetapi itu sia-sia.
Entah itu aku atau dirinya, kami sama-sama di terbangkan dengan kekuatan penuh sejajar dengan tanah, aku berguling ke samping saat kaki Leonardo hampir menginjakku. Lesoria dan Jeanne juga turut membantuku, keduanya secara bergiliran mengayunkan pedang miliknya.
Prang.
Leonardo menebas tubuh Lesoria membuat seluruh pakaiannya tersobek-sobek dengan darah darah yang menyembur ke udara. Jeanne melesat dari arah belakang hingga Leonardo berbalik dengan sigap mencengkeram wajah kecil Jeanne lalu membantingnya ke tanah.
Di waktu hampir bersamaan aku dan guruku melompat ke atas kepalanya selagi mengarahkan tangan kami berdua dan berkata.
"Inferno."
Sihir kami berdua membakar kepalanya, ketika Leonardo mundur selagi memegangi kepalanya, aku mengarahkan pedangku dengan gaya tusukan lalu menembus tubuhnya sampai dia pun tumbang dan jatuh terlentang di depanku.
Perlahan tubuhnya kembali sedia kala.
"Bahkan dengan ini aku masih gagal," katanya lemas lalu mengalihkan pandangannya ke arahku.
__ADS_1
"Dulu aku hidup dengan damai bersama ayah, ibu, adik serta penduduk desa, walau hidup kami serba kekurangan tapi kami sangat menikmatinya, aku tidak tahu kau akan mendengarkanku atau tidak.. Akan tetapi saat bertemu naga kehancuran Fafnir, bunuhlah dia."
"Jika dia memang pantas mati maka aku akan melakukannya."
"Terima kasih."
Hembusan angin menerpa pepohonan yang mana membawa dedaunan di bawahnya ikut berterbangan ke segala arah.
Yang bisa kulihat dari wajah Leonardo hanyalah sebuah senyuman.
Sirius berubah menjadi wujud manusianya dan berdiri di sampingku.
"Selama ini dia pasti menderita," kataku hingga keheningan terasa di antara kami semua sampai guruku memelukku dari belakang.
"Muridku sudah berjuang keras, bagaimana kalau kita berdua rayakan," nona Heliet memiliki suara lembut karena itu terkadang suaranya seperti orang yang bergairah.
"Kerja bagus, setelah pulang aku akan membagikan bayaran kalian."
"Bagaimana dengan hutangku.. Aku bahkan telanjang sekarang."
"Hutang tetaplah harus dibayar jadi bayaranmu akan dipotong setengahnya."
"Itu tidak adil."
Aku segera memotong pembicaraan karena tidak ada siapapun yang menegur sosok Lesoria.
__ADS_1
"Bukannya kau harusnya menutupi tubuhmu dulu sebelum mengatakan soal hutang," atas pernyataanku keempat wanita ini berkumpul dalam satu barisan lalu menutup mulut mereka seolah disengaja.
"Pria yang polos," semua orang mengatakan hal itu secara bersamaan.
Apa cuma perasaanku atau aku memang merasa orang-orang ini pada saraf, tak ingin memikirkannya lagi aku segera memutuskan untuk pergi dari sini.
Sudut pandang Ayumi.
Setelah menjadikan seekor naga kehancuran menjadi budakku aku kembali ke guild untuk melaporkan hasil misiku. Orang-orang tampak terkejut saat aku kembali dengan ras naga berbentuk manusia yang terus mengikutiku dari belakang bahkan receptionis beberapa kali terus mengatupkan mulutnya seolah ingin bertanya namun segera berubah pikiran.
"Apa dengan ini aku bisa mendapatkan uangku?"
"Tentu saja nona Ayumi, terima kasih atas kerja kerasnya."
Setelah mendapat uang yang kubutuhkan aku pergi ke penginapan untuk menyewa kamar di kota ini, sebelum aku mendapatkan informasi tentang dewa-dewi jahat aku akan tinggal di sini sementara waktu.
Meliana yang berada di dalam saku bajuku keluar lalu duduk di atas meja, tentu saja dia hanya berbetuk butiran cahaya karena itu dia bisa tidur di mana saja yang jadi masalah.
Aku mengalihkan pandangan ke arah Cardina.
"Hanya ada satu ranjang di sini, karena itu kita akan tidur bersama pastikan kau mandi dulu."
"Jangan bilang kau ingin menodaiku layaknya budak pada umumnya."
Aku menarik sedikit pedangku untuk memamerkan bilahnya.
__ADS_1
"Jika kau mengatakan hal aneh-aneh, akan kubunuh kau."
"Hiii... aku akan segera mandi," Cardina langsung melarikan diri sikapnya seperti bangsawan akan tetapi terkadang dia juga ceroboh.