
Aku bertanya ke arahnya.
"Siapa kau? Dan apa tujuanmu? Kau terlihat bukan dari faksi naga kehancuran, raja iblis ataupun Oracle Dewa jahat."
"Heh, kau pandai sekali menebak... aku memang bukan dari ketiganya, bagaimana kalau aku bilang bahwa aku seorang pahlawan?"
Jun dan Hilda berjalan di sampingku.
"Jangan dengarkan dia Aksa, sebelumnya dia memanggil Hydra sebagai hewan peliharaan, dia pasti bukan orang baik."
"Benar yang dikatakan kakak, ia juga memakai topeng bukannya itu ciri bahwa orang ini tak ingin diketahui identitasnya."
Pria bertopeng itu tertawa lebar lalu perlahan tubuhnya menghilang seperti daun.
"Kurasa sudah cukup, kuyakin suatu hari kita akan bertemu lagi... sampai nanti."
"Dia pergi," kata Hilda.
Dia belum mengatakan apa motifnya meski begitu itu pasti bukan hal yang baik, tanpa perlu memikirkannya lagi, kami memutuskan untuk kembali ke desa tapi sebelum itu Hilda berjalan ke pinggir danau selagi menyentuh air dengan tangannya.
Perlahan air tersebut bersinar hingga kembali sedia kala menjadi danau yang indah beraliran bening.
Ketika aku melaporkan hal itu pada desa mereka tersenyum senang, demi merayakannya malam harinya sebuah pesta diadakan di tempat ini. Aku sedang memakan daging saat Eren dan kedua orang tuanya berjalan ke arahku.
"Terima kasih sudah menyelamatkan kami, tuan juga sudah mengantar anak kami kembali ke desa dengan selamat."
"Aku akan menjadi seperti kakak suatu hari nanti, seorang petualang hebat."
"Kau perlu makan banyak agar kau bisa sepertiku."
"Akan kulakukan."
__ADS_1
Aku hanya melihat kepergian ketiganya lalu mengeluarkan dua kantung uang yang kuberikan pada Jun dan Hilda.
"Ini upah kalian, ambillah."
"Upah kami lebih banyak darimu?" tanya Jun.
"Anggap saja itu permintaan maafku karena telah melibatkan kalian dalam situasi sulit, besok pagi kita akan kembali.. akan kuperkenalkan kalian berdua ke semua orang di guild."
Jun berdiri lalu menyodorkan tangannya ke arahku.
"Jika kau perlu bantuan lagi jangan sungkan untuk memintanya pada kami berdua."
"Itu benar."
"Tentu saja."
Aku menerima jabat tangan tersebut.
Keesokan paginya di guild yang baru buka, para petualang sudah memenuhi guild ini. Lulu mendekat ke arah kami bertiga.
"Sudah selesai, berkat bantuan mereka aku bisa mengalahkannya dengan cepat."
Sirius yang berdiri di sampingku hanya menatapku lama.
~Tatap.
"Elf?" potong Lulu.
"Perkenalkan namaku Jun dan ini adikku Hilda, kami datang kemari untuk bergabung di guild ini."
"Kalian berdua terlihat kuat, baiklah... mohon ikut bersamaku untuk mengisi beberapa formulir."
__ADS_1
"Baik."
"Aku akan kembali ke masion kalian berdua selamat bergabung."
Aku dan Sirius akhirnya meninggalkan guild.
Ketika aku hendak pergi aku melihat Richard berjalan di sebrang jalan, ini aneh karena dia datang sendirian. Saat aku tanya dia baru menyadari keberadaanku.
"Apa terjadi sesuatu Richard?"
"Aksa."
"Di mana rekanmu?"
"Soal itu. Mereka semua telah meninggal."
Keheningan terasa diantara kami.
Padahal mereka orang baik.
Tanpa mengatakan apapun lagi, aku dan Sirius mengajak Richard untuk tinggal sementara waktu di masionku, paling tidak, aku tidak ingin membiarkannya sendirian.
Di masion itu Richard tampak duduk kesulitan di sofa saat semua orang mengerumuninya selagi mengutamakan berbagai pertanyaan padanya.
"Aksa... Selamatkan aku?"
"Jangan khawatir, mereka akan bosan sebentar lagi."
"Aku tidak yakin itu."
"Berapa lama kau mandi?"
__ADS_1
"Apa kau selalu menggunakan pelembab di kulitmu."
Kebanyakan penghuni di masion ini adalah wanita karena itulah mereka akan sedikit tertarik dengan pria tampan seperti Richard.