
Dengan langkah perlahan agar tidak membuat naga tersebut bangun, kami semua mengepungnya dari segala arah.
Kami menatap satu sama lain sebelum mengangguk untuk mengkonfirmasi kesiapan kami, Lisa menarik pedangnya dan berjalan semakin dekat tepatnya di depan kepala naga.
Dia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi bersiap menusukan ujungnya.
Sebelum dia melakukannya naga tiba-tiba mengeluarkan cahaya terang hingga aku berlari untuk muncul di depan Lisa dengan lingkaran sihir.
"Aksa?"
"Aku akan melindungimu."
Saat cahaya yang menelan kami menghilang sosok naga merah yang sebelumnya kami lihat telah menghilang digantikan oleh seorang wanita berambut merah panjang.
Dia seutuhnya telanjang.
Lisa, Amanda, maupun Yuki tampak terkejut saat wanita itu membuka matanya, jelas sekali bahwa dia seorang elf.
Ia mengusap kasar matanya lalu meregangkan tangan.
"Owh, aku sudah bisa mengambil wujudku yang dulu... eh? Kenapa kalian ada di sini?"
"Veronica?"
"Aku memang Veronica, ada apa?"
Ketiga elf memeluknya.
"Kenapa kalian menangis?"
"Kukira kau sudah mati, kami melihat rumahmu hancur dan seekor naga terbang dari sana."
"Sepertinya aku membuat kalian khawatir maafkan aku."
Naga yang selama ini ingin dibunuh Lisa ternyata temannya sendiri.
Aku menggunakan sihir penciptaan untuk menciptakan satu set pakaian.
Veronica di depanku berkata.
"Aku tidak terbiasa menggunakan gaun, apa ada yang sedikit..."
__ADS_1
Dia sedikit tomboi rupanya.
"Dan juga, bisakah kau tidak terus melihat padaku."
"Benar juga... kyaaa."
"Harusnya aku yang berteriak."
Aku memberikannya satu set pakaian dalam dengan bra, celana panjang hitam, kemeja putih, pedang dan juga jubah yang dikaitkan di lehernya.
"Sihirmu sangat praktis."
"Begitulah."
Veronica menjelaskan banyak hal kenapa dia berubah menjadi naga dan juga kenapa dia datang ke sini untuk menghisap mana.
Singkatnya saat keempat petualang elf ini pergi mengunjungi sebuah reruntuhan di salah satu hutan di Animalia, saat itu Veronica terjebak di dalam sebuah jebakan hingga terpisah dengan yang lainnya.
Tubuhnya terluka dan jika dibiarkan dia akan mati.
Ketika dalam keputusasaan ada seseorang yang tiba-tiba muncul di sana, ia mengatakan bahwa dirinya tinggal di reruntuhan dan bisa membantunya agar selamat yaitu dengan meminum darahnya dan menjadi seekor naga.
"Jika kau ingin kembali kau bisa datang ke hutan misterius lalu menyerap mana dari sana, setelah kau berhasil melakukannya maka tubuhmu akan kembali sedia kala dan darah di nagamu akan menghilang."
Dengan begitu Veronica menjadi elf kembali.
Ini sebuah kasus yang langka, meski begitu semua orang baik-baik saja itu yang lebih penting.
Kurasa sudah waktunya kami kembali ke ibukota tapi sebelum itu mari adakan pesta makan di sini.
Yuki tampak bersemangat.
Menyalahkan api di dalam hutan sama saja menarik banyak monster untuk menyerang meski begitu sihir pelindungku akan membuat kami aman.
Hari itu kami terlalu banyak makan.
Di pinggir laut para staf guild mulai menilai seluruh perburuan termasuk kelompok kami, pertama yang mereka akan hitung adalah batu sihirnya.
"Luar biasa ini sangat banyak, 20.000 buah dalam waktu singkat dengan kata lain kalian juga mendapatkan monster dengan jumlah yang sama."
"Benar sekali."
__ADS_1
Karena ulah kami yang menyalakan api para petualang lain tidak mendapatkan monster lebih banyak dari biasanya, diam-diam aku meminta maaf dari lubuk hatiku.
Aku mengeluarkan monster yang kami bawa tapi aku hanya membawa monster yang memiliki nilai jual tinggi.
"Untuk batu sihir semuanya 10 juta emas, dan untuk monster 30 juta emas, apa tidak ada keluhan?"
"Tidak ada sama sekali," ucap Lisa demikian lalu melanjutkan.
"Sesuai perjanjian tolong dibagi sama rata."
"Kami mengerti."
Monster terdiri dari berbagai material karena itu harganya sedikit lebih mahal.
Sesampainya di ibukota kami berpisah, kelompok Lisa akan kembali ke desanya dan hidup santai di sana dengan uang besar yang mereka miliki.
Mereka juga berkeinginan membuka bisnis kuliner.
"Kalau begitu sampai jumpa... kuharap kita bisa bertemu lagi di lain hari."
"Aku juga berharap demikian."
Aku sudah meminta lokasi reruntuhan yang sebelumnya mereka jelajahi, setelah urusan kami selesai kami akan mengeceknya sendiri.
Sekembalinya ke penginapan kami semua terkejut dengan sesuatu yang tidak terduga, di depan pintu salah satu kamar di dekat kamar kami, Malifana muncul begitu saja.
Kami sudah menunggunya datang tak kusangka dia mudah sekali ditemukan.
"Itu... kalian pasti salah paham, aku bukan orang yang kalian kenal."
Mata Liz mengkilap lalu dia bergerak cepat untuk muncul di belakang Malifana, tangannya yang jahat mulai menggepre dadanya.
"Kekenyalan ini, reaksi tubuh yang kurasakan, tidak salah lagi ini adalah Malifana."
"Kenapa kau bisa mengetahuinya dengan cara seperti ini? Dan juga tolong hentikan," teriaknya.
"Melihat wanita tersakiti secara seksual sungguh menghibur."
"Aku juga berfikiran demikian."
"Kalian berdua juga," sebenarnya aku bergabung dengan orang seperti apa?
__ADS_1