
Sekembalinya ke penginapan aku berbaring di tempat tidur selagi melihat adegan penyiksaan yang dilakukan Liz Calista.
Dia membuat beberapa balok es di tangannya kemudian memasukannya ke dalam baju Anastasia yang hanya bisa pasrah karena badannya di ikat dengan tali.
"Walau kau melakukan hal sekejam ini, jangan pikir hatiku akan terebut dengan mudah."
"Bagaimana kalau aku menempatkannya di antara pahamu."
"Liz kau berlebihan, jadi hentikan itu," kataku memotong, aku sama sekali tidak ingin menonton adegan kurang pantas di sini.
"Padahal ini bagian serunya tuan, aku ingin membuatnya basah."
Sirius berkata.
"Liz boleh aku meminta balok esmu?"
"Aku tidak keberatan tapi untuk apa?'
"Aku ingin membuat es serut."
"Sepertinya menarik, aku akan membantu."
Meski aku mengatakan bahwa Mikan sudah dikalahkan, tidak ada emosi marah dari Anastasia, bagi keempat jenderal yang melayani Cygnus kurasa hubungan mereka tidak terikat satu sama lain.
Setelah seharian, Naula akhirnya kembali.
Aku mengatakan terima kasih pada Neko sebelum dia menghilang, tak lupa aku menerima kamera serta fotonya yang telah dibuat oleh Naula.
"Sayang sekali tapi desa yang dimaksud Anastasia sudah di bakar semuanya," mendengar pernyataan Naula ekpresi Anastasia mengeras, dia menatapku dengan pandangan marah.
"Kau yakin Naula?" aku menanyakannya kembali seperti apa yang ingin dikatakan Anastasia.
__ADS_1
"Aku yakin sekali Aksa, setibanya aku ke sana semuanya sudah tidak selamat."
"Jangan bilang bahwa kau membakarnya sendiri?" teriak Anastasia yang mana kujawab sendiri.
"Sayang sekali, tapi Naula tidak bisa menggunakan sihir, jika dia membakarnya secara langsung orang-orang akan langsung mudah menghentikannya."
"Itu benar."
Keputusasaan menyebar di wajah Anastasia, aku bisa mengerti dengan apa yang kerajaan Cygnus lakukan, dibanding membiarkan wabah itu menjalar lebih mudah menghancurkannya sekaligus. Jika itu aku lebih baik menciptakan ramuan yang bisa mengatasinya.
"Liz tolong buka ikatannya."
"Aku mengerti."
Anastasia jatuh ke lantai selagi berteriak hingga air mata jatuh menetes ke pahanya.
"Lalu apa yang kulakukan selama ini?"
"Akan kubunuh dia."
Anastasia hendak keluar dari jendela namun aku lebih cepat untuk menutup gerakannya.
"Minggir."
"Jika kau ceroboh kau hanya akan membunuh dirimu sendiri."
"Aku tidak peduli."
"Maaf."
Saat Anastasia berjalan melewatiku aku menepuk bahunya dan ia pingsan dalam pelukanku.
__ADS_1
"Bukannya dia musuh kita, harusnya biarkan saja dia mati seperti yang dia inginkan sendiri."
Aku menggelengkan kepalaku ke arah Sirius yang berkata demikian.
"Aku tidak ingin melihat orang mati dengan sia-sia lagi, Anastasia hanya belum bisa menjernihkan kepalanya sekarang, saat dia bangun dia akan tahu bagaimana cara membalas dendam seharusnya."
"Aku tidak tahu apa yang master katakan."
Aku menggendong tubuhnya lalu membaringkannya di tempat tidur lalu menutupinya dengan selimut.
Alangkah lebih baik jika dia mengenakan sesuatu di balik kimononya.
Untuk malam ini kami biarkan dia tidur di sini.
Waktu yang dijadwalkan akhirnya datang juga, di depan gerbang kota, aku, Liz, Naula serta Sirius telah berdiri menghadap ratusan pasukan musuh dari kerajaan Cygnus, tak hanya kami Anastasia juga ikut dalam pertarungan ini.
Dia memunculkan dua tanduk di keningnya menandakan bahwa dia berasal dari ras Berserk. Pedang dengan bilah bersinar menjadi rekannya.
"Aku akan membunuhnya," perkataan itulah yang dikatakannya saat dia siuman.
Aku memberikan sebuah tongkat besi yang bisa dilipat pada Naula sebagai senjatanya, dan untuk Sirius dia berubah menjadi pedang di tanganku.
Ketika para pasukan itu berlari menyerang.
Aku mengeluarkan tombol merah dari saku bajuku, saat aku menekannya sebuah ledakan meratakan mereka semua ke dalam lubang kematian.
"Apa-apaan ini?"
"Musuh menggunakan sihir yang aneh, mundur."
Dan BOOM.
__ADS_1
Tanah terangkat beberapa meter dengan tubuh-tubuh manusia yang telah kehilangan nyawanya.