Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 153 : Melawan Dewi Athena


__ADS_3

Aku menatap datar saat Nermala meletakan berbagai makanan di meja.


"Bukannya ini terlalu berlebihan?"


"Sudahlah, makan saja... aku membuatnya penuh cinta."


"Jika begitu aku akan memakannya."


Aku menggunakan sumpit untuk mengambil telur dadar gulung yang kumasukan ke dalam mulutku, di saat yang sama Nermala telah memasukan daging ke dalam sayuran kemudian menyodorkannya ke arahku.


Aku sedikit heran.


"Buka mulutmu."


Jika dia sejauh ini, aku hanya bisa menerimanya.


"Bagaimana?"


"Enak sekali."


"Itu membuatku senang, kalau boleh tahu kenapa kau begitu perhatian hari ini?" mendapatkan pertanyaan dariku Nermala segera mengalihkan pandangannya ke samping.


"Tidak ada alasannya."


Melihat itu, aku malah semakin curiga.


Untuk sekarang aku hanya akan membiarkannya berlalu dan menikmati seluruh sajian di atas meja.


Baru aku mencoba menu lainnya, Athena muncul dengan wajah senang.


"Nermala, aku datang berkunjung? Heh, ada Aksa juga.. tunggu, berada berduaan di rumah, aku harus mengawasi kalian mulai sekarang."


"Kau terlalu berlebihan."

__ADS_1


Athena duduk di sebelah Nermala, dan ia tanpa ragu mengambil makanan di atas meja.


"Uwwaahh... ini sangat enak, aku merasakan banyak cinta di dalamnya."


"Berhentilah mengambilnya, itu untuk Aksa."


"Meski kau bilang begitu, makanan ini terlalu banyak untuk dimakan satu orang, benar kan, Aksa?


"Benar sekali, ini terlalu berlebihan."


"Lain kali aku akan memikirkan soal porsinya."


Masih ada lain kali rupanya?


Kami bertiga menghabiskan makanan itu bersama, Athena berdiri selagi menunjuk ke arahku.


"Setelah makan, bagaimana kalau kita olah raga sedikit? Mari bertarung."


Aku mengangguk setuju dan dalam sekejap kami pindah ke area yang lebih luas di mana sekelilingku merupakan tanah gersang yang dipenuhi tanah-tanah tidak rata.


Di luar dugaan Nermala ikut selagi memperhatikan dari samping, dia terlalu mendukungku hingga beberapa kali melompat-lompat memastikan dadanya turun naik dengan mantap.


Athena mengumpat, "Dasar monster dada," sebelum memunculkan pedang di tangannya dan beralih padaku.


Aku juga menciptakan pedang di tanganku.


"Kita lihat kau bisa mengalahkanku atau tidak."


Athena dan aku meluncur ke depan secara bersamaan, membanting pedang ke depan membuat hentakan di tanah.


Kami saling menahan satu sama lain di mana wajah kami saling berdekatan.


"Jadi begitu, kau menggunakan sihir untuk memperkuat senjatamu."

__ADS_1


"Aku harus menunjukkan seluruh kemampuanku bukan?"


"Itu benar."


Sebuah pedang muncul di langit jatuh terarah padaku hingga menciptakan kabut debu ke udara, sebelum terkena hal itu, aku lebih dulu mendorong pedang Athena lalu melompat ke belakang dan berlari menyamping, begitu juga Athena yang dengan giat terus mengikutiku.


Kami kembali saling membenturkan pedang dengan keras hingga langkah kami berhenti.


Trang.


Athena menciptakan kembali beberapa pedang di langit, dan aku pun menirunya untuk melakukan hal sama. Entah itu pedangku atau Athena saling berbenturan di udara menciptakan serpihan yang berjatuhan begitu saja.


"Kemampuan menirumu semakin baik."


"Terima kasih."


Aku dan Athena saling menendang satu sama lain hingga kami berdua terhempas di waktu bersamaan menghancurkan tanah dengan ledakan yang sama.


Aku segera bangkit lalu menciptakan lingkaran sihir api yang menerjang lurus padanya, dengan santai Athena menciptakan perisai besar yang menutupi seluruh tubuhnya hingga serangan dariku hanya membentuk huruf V di tanah.


Athena melempar perisainya kemudian bergerak cepat, sebelum aku bisa menghalaunya, pukulannya sudah masuk ke bagian perutku.


"Guakh."


Darah menyembur dari mulutku dan selanjutnya tubuhku berguling-guling di tanah sebelum terbaring menatap langit.


Seperti biasa, Dewi ini sangat kuat.


"Apa kau mengaku kalah?"


"Sepertinya begitu, lain kali aku yang akan menang."


"Aku akan menunggumu kapanpun," balasnya tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2