
Meski sudah menggunakan sihir tetap saja perlu cukup lama untuk menyelesaikan semuanya, aku sudah membersihkan bagian luar menara jam tinggal bagian dalamnya, pelayan terus mengawasiku dan sesekali dia menawarkan teh serta makanan manis untukku.
"Maaf atas ketidaknyamanannya, tapi aku harus terus berada di sini untuk memastikan semua barang tetap berada di tempatnya."
Memangnya aku akan mencurinya.
Yah, paling tidak ini akan membuat semua orang tidak akan mencurigaiku saat barang-barang di sini dicuri seseorang. Saat matahari tenggelam aku kembali ke masion itu untuk menerima upahku hari ini namun, Greed yang selama ini diam di sekitar orang-orang berteriak terkejut.
"Bukunya."
Seperti yang dikatakannya buku itu kini berada di tangan pria pemilik masion ini.
"Buku itu?"
"Maksudmu ini, aku mendapatkannya sebelum pelelangan.. apa kau tertarik juga," bersamaan perkataannya kecuali pelayan yang terus bersamaku para pelayan lainnya telah mengerumuni kami dari segala arah.
"Pelayan di sana, bisakah kau melepas pakaianmu itu.. kau sudah bekerja baik beberapa hari ini."
Beberapa hari, apa dia pekerja baru?
"Kalau aku melepaskan pakaianku, itu pasti merepotkan lagipula aku tidak membawa baju ganti."
Aku berusaha untuk mencari apa yang sebenarnya terjadi?
Si pelayan mengikat rambutnya bergaya twintail.
"Biar aku perkenalkan diriku kembali, namaku Carrot salah satu pasukan khusus negara yang datang untuk menangkapmu tuan."
"Sudah kuduga... kau berasal dari pemerintah."
"Apa ada yang bisa menjelaskan apa yang terjadi di sini?" aku mengutarakan kebingunganku dan Carrot menjelaskan selagi menunjuk pria itu.
__ADS_1
"Dia bukan pemilik masion biasa, dia sebenarnya bos dari para perampok."
Pria itu mengangkat bahunya dengan ringan.
"Begitulah, sebelumnya aku juga membunuh pemilik tanah di kota ini."
"Jangan-jangan alasan kau memperkerjakanku?"
"Agar wanita itu bisa keluar dan kami memindahkan seluruh barang jarahan kami ke tempat lain."
"Aku tertipu," kataku lemas dan Greed tertawa terbahak-bahak.
"Bukannya ini lucu, kau ternyata di manfaatkan."
"Berisik."
Aku mengalihkan pandangan ke arah pelayan di sampingku.
"Jangan khawatir, aku juga sebenarnya punya urusan di sini."
Aku menarik pistol yang kusembunyikan di belakang lalu menjatuhkan seluruh pelayan yang mengerumuni kami hingga si pemilik masion hanya terkejut dengan mulut menganga.
"Jangan khawatir aku menggunakan peluru karet, walau rasa sakitnya dua kali lipat dibanding menggunakan peluru asli."
"Tidak ada ampun," ucap Greed.
Pria itu mendecapkan lidahnya lalu berdiri.
"Aku sendiri yang akan mengha..." sebelum dia menyelesaikan perkataannya seseorang menerobos masuk setelah memecahkan jendela, dia menendang pria itu hingga tersungkur selagi tersenyum bangga.
"Tepat waktunya."
__ADS_1
"Nee-san, memang hebat."
Mereka berdua orang yang pernah kutemui di kota sebelumnya, nama mereka adalah Lisa dan Boby.
"Kalian telat loh," kata pelayan di sampingku.
"Yah, tidak telat juga Carrot."
"Nee-san, apa kita harus mengikat mereka semua."
"Tentu saja, kita bisa dapat uang yang banyak... tapi ngomong-ngomong kau hebat juga bisa mengalahkan mereka sendiri."
"Tidak, aku dibantu oleh..."
"Ada apa?"
"Aku tadi bersama seorang pria."
"Pria?"
Tanpa diketahui ketiganya aku telah mengambil bukunya lalu meninggalkan masion itu secepat yang kubisa.
Greed berkata ke arahku.
"Kau tidak berbicara dulu dengan mereka?"
"Aku tidak ingin terlibat hal merepotkan, lagipula aku hanya perlu mengumpulkan buku ini."
"Begitukah."
"Lalu buku apa ini?"
__ADS_1
"Ini buku yang kita cari Lust, dengan ini kita tak perlu kesusahan untuk mencari buku yang lainnya juga."