Menjadi Penyihir Di Dunia Lain

Menjadi Penyihir Di Dunia Lain
Chapter 35 : Melanjutkan Perjalanan


__ADS_3

"Ada kemungkinan seperti itu, aku akan menyelamatkan mereka.. kalian tunggu saja di sini."


Aku terbang melayang di udara menuju sebuah Masion besar di belakang kota, penyihir biasanya menggunakan sapu agar mereka terbang tapi jika itu untukku ataupun guru kami bisa melakukannya tanpa hal itu.


Aku mendaratkan kakiku tepat di depan pintu, apa yang bisa kulakukan di saat seperti ini adalah tetap bertingkah keren, kupukul pintu itu dengan keras hingga meledak dahsyat.


Orang-orang di dalamnya tampak terkejut hingga bisa kulihat Richard, Lumia serta Gerald sedang duduk di kursi dengan diikat oleh tali.


"Kalian dalam masalah?"


"Sepertinya begitu," jawab Richard lemas, racun yang diberikan para penjahat ini berupa ramuan pelumpuh kebetulan saja ramuan ini tidak terlalu kuat bagi elf.


Sekitar sembilan orang bersiap dengan senjata mereka, diantara mereka juga dipersenjatai berupa senapan panjang.


Setiap mereka mencoba melukaiku ada dinding tak terlihat yang menahan seluruh serangannya.


"Apa kalian sudah puas? Sekarang giliranku."


Aku menembakan sihir angin ke setiap musuh di depanku, mereka mengerang kesakitan saat terlempar menghantam perabotan.


"Gyaaah."


Suara penjahat seperti itu.


"Kyaaaa."

__ADS_1


Yang berteriak itu pria.


Di saat mereka tak sadarkan diri bos mereka muncul, dia adalah seorang pria gemuk bulat dengan topi koboi di kepalanya, dengan ringan dia melemparkan bola-bola ungu beracun tepat di kakiku.


"Orang yang menentang Jack, semuanya akan binasa."


"Kau sedang bercanda Jack, racun seperti ini tidak berpengaruh padaku."


"Nani?"


Dia menembakan peluru ke arahku yang mana semuanya tertahan oleh dinding yang kubuat.


Jika para kesatria ini tidak terkena racun aku yakin mereka bisa mengalahkan pria ini. Langkahku semakin lama semakin mendekat, saat tepat berada di dekatnya aku mengepalkan tinjuku lalu menghantamkannya ke wajahnya hingga pingsan.


"Guakh."


Aku melepaskan ikatan ketiga kesatria ini lalu merapalkan sihir penyembuh.


"Terima kasih Aksa."


"Tidak masalah, ini semua berkat Stella yang memintaku menolong kalian.. pastikan untuk mengurus mereka."


"Aah."


Semua penjahat itu diikat kemudian dibawa ke ibukota bersama para kesatria, aku hanya melihatnya dari kereta kudaku sebelum akhirnya memutuskan melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


"Lihat Alyssa rambutmu tampak berantakan, biar mama rapihkan."


"Kau bukan mamaku."


"Papa lakukan sesuatu."


"Jangan libatkan aku dengan permainan anehmu," balasku lemas pada keduanya yang tak bisa diam di dalam kereta.


Perjalanan selanjutnya adalah menuju desa mangga, menurut informasi yang kuterima di sana sedang diselenggarakan panen besar-besaran, akan lebih baik kalau kita bisa memakan mangga sebanyak yang kita suka.


Aku membayangkan sedang meminum jus mangga yang segar sekarang.


Nona Heliet maupun Alyssa muncul dari arah belakangku selagi menunjuk peta di tanganku.


"Desa anggur, aku ingin ke sana."


"Aku ingin pergi ke desa jeruk."


Daerah di sekitar sini kebanyakan dinamakan sesuai hasil perkebunan yang mereka tanam, aku tidak akan aneh kalau desa sayuran juga ada.


"Mari secara bergantian mengunjunginya satu persatu," atas pernyataanku mereka berdua berteriak semangat.


Kota Bostos yang sebelumnya kami singgahi mulai tampak semakin menjauh, aku yakin sebentar lagi kota ini akan kembali sedia kala dan turis tidak akan dituntut tarif yang tinggi lagi, untuk harta karun yang berada di bawahnya akan terkubur selamanya.


Lagipula seseorang yang pernah membuat kota itu pernah berkata.

__ADS_1


"Kebahagiaan tidak ditentukan seberapa banyak kita memiliki kekayaan, akan tetapi seberapa banyak kita memiliki teman yang mendukung dalam suka maupun duka."


Menurut sejarahnya dulu lahan itu saling diperebutkan oleh banyak penambang, demi menyelesaikan konflik ini, pemilik tanah yang pertama akhirnya mengusulkan agar semua penambang bersatu lalu setelahnya mereka berdamai untuk membuat kota di atasnya.


__ADS_2